Lebih dari Sekadar Angka: Depresiasi Rupiah dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat Indonesia

Ilustrasi
Ilustrasi

Rupiah kembali mencatatkan sejarah yang kurang menggembirakan. Pada perdagangan luar negeri Jumat, 5 Juni 2026, nilai tukar rupiah menyentuh level Rp18.134 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadi titik terlemah sepanjang sejarah. Bagi sebagian orang, pelemahan mata uang mungkin hanya terlihat sebagai angka yang bergerak di layar bursa atau laporan ekonomi. Padahal, dampaknya jauh lebih luas daripada sekadar persoalan makroekonomi.

Ketika rupiah melemah, konsekuensinya tidak berhenti pada naiknya harga barang impor atau meningkatnya biaya produksi. Pelemahan mata uang juga merambat ke kehidupan sosial masyarakat, memengaruhi pola konsumsi, hubungan antarkelompok, hingga cara masyarakat mempertahankan tradisi dan solidaritas sosial. Dengan kata lain, depresiasi rupiah bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan sosial dan budaya.

Bacaan Lainnya

Uang sebagai Simbol Status Sosial

Sosiolog dan antropolog Marcel Mauss dalam karyanya The Gift: Forms and Functions of Exchange in Archaic Societies (1990) menjelaskan bahwa uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar ekonomi. Uang juga menjadi medium komunikasi sosial yang merepresentasikan identitas, kekuasaan, kehormatan, dan posisi seseorang dalam struktur masyarakat.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa nilai uang tidak semata-mata bersifat material. Weruin (2025) menyebutkan bahwa uang juga mengandung nilai simbolik dan abstrak, seperti kekayaan, pengaruh, status sosial, hingga kekuasaan. Karena itu, ketika nilai rupiah melemah, yang mengalami penurunan bukan hanya kemampuan membeli barang dan jasa, melainkan juga nilai simbolik yang melekat pada kepemilikan ekonomi masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat menghadapi kenyataan bahwa pendapatan yang sama tidak lagi memiliki daya jangkau yang setara. Nilai kekayaan yang selama ini menjadi penopang status sosial perlahan mengalami penurunan akibat inflasi dan kenaikan biaya hidup.

Inflasi yang Menekan Kehidupan Sehari-hari

Dampak depresiasi rupiah semakin terasa ketika dikaitkan dengan perkembangan harga kebutuhan pokok. Pada Mei 2026, kelompok bahan makanan bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 6,24 persen secara tahunan (year on year). Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan.

Memang, angka inflasi IHK masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5 ± 1 persen. Namun, lonjakan harga pada kelompok pangan menunjukkan tekanan yang nyata bagi masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian karena pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, memperbesar biaya distribusi, serta memperkuat tekanan harga energi yang masih relatif tinggi.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah (2026), menegaskan bahwa kenaikan dolar akan berdampak pada harga bahan baku, biaya produksi, dan harga bahan bakar minyak. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh konsumen barang impor, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat karena kenaikan biaya produksi pada akhirnya akan diteruskan ke harga barang dan jasa.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika kenaikan harga tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, rumah tangga harus melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari mengurangi konsumsi, menunda pembelian kebutuhan tertentu, hingga mengubah prioritas pengeluaran demi mempertahankan kondisi ekonomi keluarga.

Ketika Ekonomi Mengubah Hubungan Sosial

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori embeddedness yang dikemukakan Granovetter (1985). Teori ini menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi tidak pernah berdiri sendiri karena selalu tertanam dalam relasi sosial yang membentuk kehidupan masyarakat.

Ketika kondisi ekonomi mengalami tekanan, relasi sosial ikut terdampak. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan berkurangnya daya beli masyarakat tidak hanya mengubah pola konsumsi, tetapi juga memengaruhi praktik sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan komunal masyarakat Indonesia.

Tradisi berbagi makanan dengan tetangga, gotong royong membantu warga yang memiliki hajatan, hingga kebiasaan memberikan sumbangan dalam berbagai kegiatan sosial dapat mengalami penyesuaian. Bukan karena masyarakat kehilangan kepedulian sosial, melainkan karena keterbatasan ekonomi memaksa mereka untuk lebih selektif dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengurangi intensitas interaksi sosial yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Indonesia. Solidaritas yang biasanya terbangun melalui berbagai aktivitas bersama menghadapi tantangan ketika tekanan ekonomi semakin besar.

Kelas Menengah yang Kian Rentan

Kelompok yang paling rentan menghadapi situasi ini adalah kelas menengah. Selama ini, kelas menengah sering kali berada dalam posisi yang sulit. Mereka tidak termasuk penerima bantuan sosial sebagaimana kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, mereka juga tidak memiliki aset dan cadangan kekayaan yang cukup kuat seperti kelompok ekonomi atas.

Ketika harga-harga terus meningkat sementara pendapatan relatif stagnan, ruang gerak ekonomi kelas menengah menjadi semakin sempit. Tabungan yang dimiliki berpotensi tergerus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada saat yang sama, kemampuan untuk menabung, berinvestasi, atau meningkatkan kualitas hidup menjadi semakin terbatas.

Kondisi tersebut dapat memperlebar stratifikasi sosial yang selama ini sudah terbentuk. Sebagian masyarakat kelas menengah berisiko mengalami penurunan status ekonomi, sementara kelompok yang memiliki aset kuat relatif lebih mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi. Akibatnya, jarak antara kelompok atas dan kelompok bawah semakin terlihat.

Jika uang merupakan salah satu simbol status sosial sebagaimana dijelaskan Mauss, maka pelemahan nilai rupiah secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap posisi sosial berbagai kelompok masyarakat. Perubahan ekonomi pada akhirnya menciptakan perubahan dalam struktur sosial yang lebih luas.

Menjaga Rupiah, Menjaga Kohesi Sosial

Pelemahan rupiah hingga menyentuh titik terendah bukan sekadar peristiwa ekonomi yang tercermin dalam statistik dan grafik nilai tukar. Peristiwa ini memiliki implikasi sosial yang nyata karena menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Daya beli yang menurun dapat mengubah pola interaksi sosial, mengurangi ruang solidaritas, serta memperbesar kerentanan kelompok tertentu, terutama kelas menengah. Dalam konteks ini, depresiasi rupiah bukan hanya soal nilai mata uang yang melemah, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat mempertahankan jaringan sosial, budaya gotong royong, dan rasa saling percaya di tengah tekanan ekonomi.

Karena itu, respon terhadap pelemahan rupiah tidak cukup hanya melalui instrumen moneter. Kebijakan yang diambil juga perlu memperhatikan dimensi sosial dan kebudayaan. Penguatan jaringan sosial lokal, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta upaya menjaga kepercayaan publik menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak depresiasi rupiah yang semakin terasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *