Serang, Krajan.id – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bina Bangsa (UNIBA) menggelar kegiatan edukasi interaktif bertajuk “Menjadikan Perbedaan sebagai Kekuatan dalam Mewujudkan Lingkungan Sekolah Anti-Bullying” di SDN Cilampang, Kota Serang, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya bullying serta menanamkan pentingnya menghargai perbedaan sejak dini.
Permasalahan perundungan masih menjadi tantangan di lingkungan pendidikan Indonesia. Dampaknya tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat mengancam keselamatan anak. Sejumlah kasus yang terjadi menunjukkan bahwa tindakan tersebut tidak dapat dianggap sebagai candaan semata karena berpotensi menimbulkan dampak serius.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa UNIBA menginisiasi kegiatan edukatif yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 10.30 WIB dan diikuti oleh 27 siswa kelas V SDN Cilampang.
Ketua pelaksana kegiatan, Chitra Cahya Anggraeni, mengatakan bahwa pendidikan mengenai bahaya perundungan perlu diberikan sejak usia dini agar anak-anak memahami pentingnya menghormati sesama.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak siswa memahami bahwa setiap orang memiliki perbedaan yang harus dihargai. Perbedaan bukan alasan untuk mengejek atau merundung, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan,” ujar Chitra.
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan dan ice breaking guna menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Setelah itu, para mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian bullying, berbagai bentuk perundungan, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah pencegahannya.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Panitia juga membuka sesi tanya jawab agar peserta dapat menyampaikan pendapat maupun pengalaman mereka selama berada di lingkungan sekolah.
Salah seorang panitia, Sabrina Puspita Sari, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan sengaja dirancang agar materi lebih mudah diterima oleh anak-anak.
“Kami mengemas materi melalui permainan, diskusi, dan tantangan sederhana agar siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berpartisipasi selama kegiatan berlangsung,” kata Sabrina.
Usai sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan fun games dan mini challenge. Berbagai permainan tersebut dirancang untuk melatih kemampuan bekerja sama, meningkatkan rasa empati, serta membangun sikap saling menghargai di antara para siswa.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para siswa tampak aktif mengikuti permainan kelompok serta menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan panitia. Suasana yang santai dan menyenangkan membuat proses pembelajaran berlangsung lebih interaktif.
Salah seorang peserta mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai perilaku yang termasuk dalam tindakan perundungan.
“Saya jadi tahu kalau mengejek teman juga termasuk bullying. Sekarang saya ingin lebih menghargai teman-teman di sekolah,” ungkapnya.
Menjelang akhir kegiatan, panitia memberikan hadiah kepada peserta yang aktif selama sesi berlangsung. Selain itu, dilakukan pula pengisian kuesioner evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan mahasiswa, guru, dan seluruh peserta. Melalui program tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIBA berharap nilai-nilai empati, toleransi, serta sikap saling menghormati dapat tertanam sejak dini pada diri siswa.
Upaya edukasi semacam ini dinilai penting untuk membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying. Dengan meningkatnya kesadaran siswa mengenai dampak perundungan, budaya saling menghargai di lingkungan pendidikan diharapkan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih sehat. Melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, pesan mengenai pentingnya menghormati perbedaan dapat diterima dengan lebih mudah oleh anak-anak.
Ke depan, upaya pencegahan perundungan di sekolah membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari keluarga, tenaga pendidik, hingga masyarakat. Edukasi sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk menumbuhkan karakter yang berlandaskan empati dan toleransi sehingga kasus bullying dapat diminimalkan.





