Klaten, Krajan.id – Industri pengolahan aren di Dukuh Srijaya, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Produk turunannya, seperti mi soun, telah diproduksi secara turun-temurun dan menjadi sumber penghasilan utama sebagian warga.
Di balik aktivitas ekonomi tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang tak bisa diabaikan. Proses pengolahan pati aren menghasilkan limbah cair dalam jumlah cukup besar. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan karena mengandung bahan organik yang dapat meningkatkan nilai Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) pada perairan.
Kondisi itu mendorong mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung dalam Program Hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk menghadirkan solusi berbasis ekonomi sirkular. Mereka memperkenalkan pemanfaatan limbah cair aren menjadi Pupuk Organik Cair (POC) kepada masyarakat Dukuh Srijaya.
Program tersebut diketuai oleh Fatiyyah Nurul Izzah dengan dosen pembimbing Dr. Ir. Joko Waluyo, S.T., M.T. Tujuannya adalah mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah melalui pemanfaatannya untuk sektor pertanian.
Pohon aren (Arenga pinnata Merr.) sendiri dikenal sebagai tanaman dengan nilai ekonomi tinggi. Hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari nira untuk gula aren, buah muda sebagai bahan kolang-kaling, serat ijuk untuk berbagai kebutuhan industri, hingga pati batang yang digunakan sebagai bahan baku mi soun dan produk pangan tradisional lainnya.
Selain memiliki nilai ekonomi, tanaman ini juga berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sistem perakaran yang kuat membantu mempertahankan struktur tanah dan mengurangi risiko erosi, terutama di wilayah perbukitan maupun lahan kering.
Melihat besarnya potensi sekaligus persoalan yang muncul dari industri pengolahan aren, tim mahasiswa UNS menggelar kegiatan sosialisasi pertama pada 13 Mei 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 40 warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah cair industri aren. Tim mahasiswa juga memperkenalkan proses pembuatan pupuk organik cair sebagai salah satu alternatif pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.

Untuk memudahkan pemahaman warga, mahasiswa memberikan demonstrasi langsung pembuatan POC. Limbah cair aren digunakan sebagai bahan utama yang kemudian dicampur dengan molase, EM4, perasan sayuran hijau, serta air cucian beras. Seluruh bahan tersebut difermentasi selama kurang lebih 14 hari hingga menghasilkan pupuk organik cair yang siap diaplikasikan pada tanaman.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Sebagian peserta mempertanyakan kualitas pupuk organik cair tersebut, terutama terkait kandungan unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).
Pertanyaan tersebut muncul karena para petani selama ini telah terbiasa menggunakan pupuk cair komersial yang dinilai memberikan hasil cukup baik dalam budidaya tanaman.
Menanggapi hal itu, Ketua Tim MBKM UNS, Fatiyyah Nurul Izzah, menjelaskan bahwa program yang dijalankan tidak bertujuan menggantikan pupuk utama yang selama ini digunakan petani. Menurut dia, POC dari limbah cair aren lebih difungsikan sebagai pupuk pendamping sehingga penggunaan pupuk komersial dapat dikurangi.
“Kegiatan yang kami lakukan lebih menekankan pada upaya mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah cair aren. Pupuk organik cair yang dihasilkan dapat digunakan sebagai tambahan pupuk utama yang digunakan warga sehingga konsumsi pupuk cair utama dapat dikurangi,” jelas Fatiyyah.
Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ganda. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, masyarakat juga dapat memperoleh alternatif pupuk dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Sebagai tindak lanjut, tim MBKM UNS kembali mengadakan sosialisasi kedua pada (12/6/2026). Pada kegiatan tersebut, mahasiswa memaparkan perkembangan penelitian yang dilakukan terkait pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dengan beberapa variasi komposisi bahan.

Masyarakat juga diberikan penjelasan mengenai cara penggunaan pupuk organik cair, termasuk teknik pengenceran dengan perbandingan 1:10 sebelum diaplikasikan pada tanaman.
Dalam kesempatan yang sama, tim mahasiswa menyerahkan produk POC hasil pengolahan limbah cair aren kepada warga Dukuh Srijaya. Penyerahan tersebut dilakukan agar masyarakat dapat langsung mencoba penggunaan pupuk pada tanaman pertanian mereka.
Selain itu, mahasiswa juga membagikan brosur yang memuat informasi mengenai manfaat pupuk organik cair, komposisi bahan, tahapan pembuatan, serta cara penggunaannya. Harapannya, masyarakat dapat memproduksi POC secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Produk pupuk organik cair yang dihasilkan berpotensi dipasarkan melalui berbagai platform digital maupun toko daring.
Dengan demikian, limbah cair yang sebelumnya dianggap sebagai sumber pencemaran dapat diubah menjadi produk bernilai guna dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui kegiatan pengabdian tersebut, mahasiswa Teknik Kimia UNS berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah semakin meningkat. Pemanfaatan limbah cair aren menjadi pupuk organik cair dinilai sebagai langkah sederhana yang mampu mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi warga Dukuh Srijaya.
Pendekatan berbasis ekonomi sirkular yang diterapkan dalam program ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu berakhir sebagai beban. Dengan inovasi dan kolaborasi, limbah yang semula dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan, pertanian, dan kesejahteraan masyarakat.





