Hubungan yang sehat semestinya menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, saling menghargai, serta memberikan kesempatan bagi kedua individu untuk bertumbuh bersama. Dalam hubungan yang demikian, perbedaan pendapat dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka tanpa adanya intimidasi, manipulasi, maupun kekerasan emosional. Kenyataannya, tidak semua hubungan berjalan sesuai harapan tersebut. Banyak orang justru menjalani hubungan yang dipenuhi pertengkaran, kontrol berlebihan, manipulasi, penghinaan, hingga kekerasan psikologis yang berlangsung secara berulang.
Fenomena toxic relationship kini semakin sering menjadi perhatian publik, terutama sejak media sosial dipenuhi berbagai konten mengenai red flag, gaslighting, love bombing, maupun perilaku posesif dalam hubungan. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu ini merupakan perkembangan yang positif. Akan tetapi, masih banyak anggapan yang menyederhanakan persoalan tersebut. Tidak sedikit korban yang justru disalahkan karena memilih bertahan. Mereka dianggap lemah, terlalu bergantung kepada pasangan, atau tidak memiliki keberanian untuk mengakhiri hubungan yang jelas-jelas menyakitkan.
Pandangan seperti itu sesungguhnya kurang tepat. Keputusan seseorang untuk tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat bukanlah pilihan yang sederhana. Di balik keputusan tersebut terdapat proses psikologis yang kompleks, dipengaruhi oleh pengalaman hidup, kebutuhan emosional, harapan, hingga berbagai pertimbangan sosial. Karena itu, sebelum memberikan penilaian terhadap seseorang yang bertahan dalam toxic relationship, masyarakat perlu memahami berbagai faktor yang melatarbelakangi keputusan tersebut.
Pandangan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alifah Qonitah, Syifa Ayu Salsabilla, Paskah Marpaung, Deni Adi Mulyana, dan Monica Dhelta Dwi Safitri mengenai pengalaman individu dalam toxic relationship. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa korban tetap mempertahankan hubungan meskipun mengalami berbagai bentuk kekerasan emosional maupun verbal. Keputusan itu dipengaruhi oleh keterikatan emosional, harapan agar pasangan berubah, serta rasa takut kehilangan hubungan yang telah dibangun dalam waktu yang tidak singkat. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan bertahan jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan keberanian untuk pergi.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) yang dikembangkan dalam kajian komunikasi interpersonal. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan mempertimbangkan manfaat dan kerugian sebelum mengambil keputusan dalam suatu hubungan. Menurut West & Turner (2017), individu cenderung mempertahankan hubungan apabila manfaat yang dirasakan masih dianggap lebih besar dibandingkan pengorbanan yang harus diterima. Sebaliknya, hubungan akan ditinggalkan ketika biaya emosional maupun sosial dinilai telah melampaui manfaat yang diperoleh.
Dalam kehidupan sehari-hari, proses pertimbangan tersebut sering kali tidak disadari. Seseorang yang berada dalam hubungan tidak sehat mungkin memahami bahwa dirinya sedang mengalami perlakuan yang menyakitkan. Akan tetapi, pada saat yang sama ia masih merasakan adanya hal-hal yang dianggap berharga untuk dipertahankan. Pertimbangan inilah yang membuat keputusan mengakhiri hubungan menjadi jauh lebih sulit daripada yang terlihat dari luar.
Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah keterikatan emosional. Hubungan yang telah berlangsung bertahun-tahun membentuk ikatan psikologis yang tidak mudah diputus begitu saja. Berbagai kenangan, pengalaman bersama, serta impian yang pernah disusun menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Hubungan tidak hanya dipandang sebagai keberadaan pasangan, melainkan juga sebagai bagian dari identitas dan perjalanan hidup. Ketika hubungan tersebut harus diakhiri, korban merasa kehilangan sesuatu yang telah menjadi bagian dari dirinya.
Harapan bahwa pasangan akan berubah juga menjadi alasan yang sangat kuat. Dalam banyak kasus, pasangan yang melakukan kekerasan emosional tidak selalu menunjukkan perilaku buruk setiap saat. Setelah terjadi pertengkaran, mereka dapat meminta maaf, bersikap sangat perhatian, memberikan hadiah, atau berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Perubahan sikap yang terjadi sesaat inilah yang membuat korban kembali percaya bahwa hubungan tersebut masih memiliki peluang untuk diperbaiki.
Pola hubungan seperti ini menciptakan siklus yang berulang. Setelah fase konflik dan kekerasan terjadi, muncul fase penyesalan dan perhatian dari pelaku. Korban kemudian kembali memberikan kesempatan. Ketika situasi mulai membaik, harapan kembali tumbuh. Sayangnya, tidak lama kemudian perilaku yang sama kembali muncul. Siklus tersebut terus berlangsung dan membuat korban semakin sulit mengambil keputusan untuk pergi karena selalu ada keyakinan bahwa perubahan masih mungkin terjadi.
Dari sudut pandang Social Exchange Theory, perhatian sesaat yang diberikan pasangan tetap dipersepsikan sebagai manfaat dalam hubungan. Walaupun manfaat tersebut tidak berlangsung lama, keberadaannya cukup untuk membuat korban tetap mempertimbangkan hubungan sebagai sesuatu yang layak dipertahankan. Inilah yang sering kali tidak dipahami oleh orang-orang di luar hubungan tersebut.
Di sisi lain, teori ini juga menjelaskan bahwa setiap hubungan selalu memiliki biaya atau cost. Dalam konteks toxic relationship, biaya tersebut dapat berupa tekanan emosional, rasa takut, kecemasan berkepanjangan, hilangnya rasa percaya diri, hingga pembatasan terhadap kebebasan pribadi. Tidak sedikit korban yang mulai menjauh dari keluarga maupun sahabat karena pasangan mengontrol pergaulan mereka. Lambat laun, ruang sosial korban semakin sempit sehingga mereka kehilangan sistem pendukung yang sebenarnya dapat membantu keluar dari hubungan tersebut.
Dampak psikologis yang muncul pun tidak dapat dianggap sepele. Korban sering mengalami penurunan harga diri karena terus-menerus menerima kritik, penghinaan, atau manipulasi yang membuat mereka merasa tidak berharga. Mereka mulai mempercayai bahwa dirinya memang pantas diperlakukan buruk atau tidak akan mampu memperoleh pasangan yang lebih baik. Ketika keyakinan negatif ini telah terbentuk, keputusan untuk bertahan menjadi semakin kuat karena korban merasa tidak memiliki pilihan lain.
Dalam Teori Pertukaran Sosial, terdapat konsep yang disebut comparison level. Konsep ini menjelaskan bahwa setiap individu memiliki standar tertentu mengenai seperti apa hubungan yang dianggap memuaskan. Standar tersebut dibentuk oleh pengalaman masa lalu, pola asuh keluarga, lingkungan sosial, maupun hubungan sebelumnya.
Apabila seseorang tumbuh dalam lingkungan yang menganggap pertengkaran, bentakan, atau kontrol berlebihan sebagai hal yang wajar, maka perilaku tersebut dapat dianggap sebagai bagian normal dari sebuah hubungan. Akibatnya, berbagai bentuk manipulasi emosional tidak lagi dipandang sebagai tanda hubungan yang tidak sehat. Sebaliknya, korban justru menganggap kondisi tersebut masih dapat ditoleransi karena sesuai dengan pengalaman yang selama ini dikenalnya.
Hal tersebut menjelaskan mengapa standar setiap orang terhadap hubungan dapat berbeda-beda. Perilaku yang bagi sebagian orang sudah termasuk kekerasan emosional belum tentu dipersepsikan sama oleh orang lain. Oleh sebab itu, memahami latar belakang pengalaman korban menjadi penting agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian.
Teori ini juga mengenalkan konsep comparison level of alternatives, yaitu pertimbangan mengenai tersedia atau tidaknya alternatif hubungan yang lebih baik. Dalam praktiknya, banyak korban memilih bertahan bukan karena mereka bahagia, melainkan karena merasa tidak memiliki pilihan lain. Mereka takut menjalani hidup sendirian, khawatir tidak menemukan pasangan yang lebih baik, atau cemas menghadapi penilaian negatif dari lingkungan apabila hubungan berakhir.
Pertimbangan tersebut sering diperkuat oleh faktor ekonomi, budaya, maupun tekanan keluarga. Pada beberapa kasus, korban telah menginvestasikan begitu banyak waktu, tenaga, dan perasaan sehingga muncul keyakinan bahwa mengakhiri hubungan berarti menyia-nyiakan seluruh pengorbanan yang telah dilakukan. Fenomena ini dikenal sebagai sunk cost, yaitu kecenderungan mempertahankan keputusan karena merasa terlalu banyak yang telah dikorbankan, meskipun keputusan tersebut sebenarnya sudah tidak lagi memberikan manfaat.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa keputusan bertahan tidak selalu mencerminkan kelemahan seseorang. Sebaliknya, keputusan itu sering kali lahir dari proses pertimbangan yang rumit antara harapan, ketakutan, kebutuhan emosional, serta persepsi terhadap alternatif yang tersedia.
Karena itu, masyarakat seharusnya tidak lagi melihat korban toxic relationship hanya dari pilihan mereka untuk bertahan. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang mampu memberikan rasa aman bagi korban untuk bercerita, memperoleh dukungan, dan mencari bantuan profesional apabila diperlukan. Sikap menyalahkan justru dapat memperburuk kondisi psikologis korban dan membuat mereka semakin enggan meninggalkan hubungan yang merugikan.
Edukasi mengenai ciri-ciri hubungan yang sehat juga perlu terus diperluas. Kesadaran bahwa cinta tidak identik dengan kontrol, ancaman, manipulasi, maupun kekerasan emosional harus dibangun sejak dini. Semakin banyak masyarakat memahami dinamika toxic relationship, semakin besar pula peluang bagi korban untuk memperoleh dukungan yang mereka butuhkan.
Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas dari konflik, melainkan hubungan yang mampu menyelesaikan perbedaan melalui komunikasi yang setara, saling menghormati, dan memberikan ruang bagi kedua pihak untuk berkembang. Ketika sebuah hubungan justru menghadirkan rasa takut, kehilangan kebebasan, dan mengikis harga diri, kondisi tersebut patut menjadi bahan refleksi, bukan hanya bagi individu yang menjalaninya, tetapi juga bagi lingkungan sosial yang ada di sekitarnya.
Empati menjadi langkah awal yang jauh lebih bermakna daripada menghakimi. Dengan memahami alasan seseorang bertahan melalui perspektif Teori Pertukaran Sosial, kita dapat melihat bahwa keputusan tersebut merupakan hasil dari berbagai pertimbangan yang kompleks. Dukungan sosial, akses terhadap informasi, serta keberanian untuk mendampingi korban akan menjadi modal penting agar semakin banyak orang mampu keluar dari hubungan yang tidak sehat dan membangun kehidupan yang lebih aman serta lebih bermartabat.





