Sebagai anak yang tumbuh di Indonesia, banyak dari kita memiliki kenangan tentang permainan tradisional seperti gobak sodor, bentengan, lompat tali, hingga dakon. Permainan-permainan tersebut dahulu menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak, dimainkan di halaman rumah, lapangan kampung, atau lingkungan sekolah bersama teman sebaya. Namun, pemandangan seperti itu kini semakin jarang ditemukan.
Perubahan zaman membawa pergeseran besar pada pola bermain anak. Kehadiran teknologi digital, terutama telepon pintar dan internet, perlahan mengubah kebiasaan bermain yang sebelumnya dilakukan secara kolektif menjadi aktivitas individual berbasis layar. Anak-anak masa kini cenderung lebih akrab dengan permainan digital dibandingkan permainan tradisional yang telah diwariskan lintas generasi.
Data dari Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa jumlah pelanggan telepon seluler di Indonesia mencapai 352 juta. Tingginya kepemilikan perangkat mobile tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya penggunaan aplikasi digital, termasuk mobile games di kalangan anak-anak dan remaja. Kondisi ini memperlihatkan adanya perubahan signifikan dalam pola aktivitas anak, dari permainan fisik yang melibatkan interaksi sosial menuju hiburan virtual yang lebih praktis dan mudah diakses.
Tidak dapat dimungkiri, perkembangan teknologi digital memang menghadirkan banyak kemudahan, termasuk dalam sektor hiburan. Anak-anak kini dapat mengakses beragam jenis permainan hanya melalui gawai yang berada di genggaman mereka. Game online menawarkan visual menarik, tantangan yang dinamis, hingga kesempatan berinteraksi dengan pemain lain secara virtual. Kombinasi tersebut menjadikan permainan digital terasa lebih menarik dibandingkan permainan tradisional yang menuntut interaksi langsung dan aktivitas fisik di luar rumah.
Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah permainan tradisional masih relevan bagi anak-anak saat ini?
Jawabannya tentu masih relevan, bahkan semakin penting. Permainan tradisional tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga medium pembelajaran sosial dan pembentukan karakter yang sulit tergantikan oleh teknologi digital. Di dalam permainan tradisional, anak-anak belajar tentang kerja sama, empati, sportivitas, hingga kemampuan menyelesaikan konflik secara langsung.
Lebih dari itu, permainan tradisional juga mengandung nilai-nilai moral seperti kebersamaan, solidaritas, serta semangat kekeluargaan. Nilai-nilai tersebut tumbuh secara alami melalui interaksi antarpemain. Anak-anak belajar memahami aturan, menghargai giliran, menerima kekalahan, dan merayakan kemenangan bersama. Pengalaman sosial seperti ini menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter sejak usia dini.
Tak kalah penting, permainan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya bangsa. Permainan seperti engklek, congklak, bentengan, maupun gobak sodor lahir dari kearifan lokal masyarakat Indonesia. Karena itu, keberadaannya tidak hanya merepresentasikan hiburan masa lalu, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya nasional yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya. Jika permainan-permainan tersebut terus ditinggalkan, bukan tidak mungkin generasi mendatang semakin asing terhadap akar budayanya sendiri.
Permainan Tradisional Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak
Permainan tradisional memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak secara sosial maupun emosional. Dalam permainan seperti gobak sodor atau bakiak, anak-anak belajar memahami arti kerja sama tim, kesabaran, serta pentingnya membangun kepercayaan dengan anggota kelompok lainnya. Proses bermain menjadi ruang belajar yang berlangsung secara alami tanpa tekanan formal.
Dari aspek emosional, permainan tradisional juga membantu anak menjadi lebih percaya diri dan berani mengambil peran dalam kelompok. Anak belajar bertanggung jawab, mengendalikan emosi saat mengalami kekalahan, sekaligus memahami keberagaman karakter teman bermain. Situasi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran sosial yang sangat berharga.
Hal ini sejalan dengan temuan Nuryati et al. (2025) yang menyebutkan bahwa permainan tradisional berkontribusi terhadap perkembangan karakter sosial anak, terutama dalam aspek komunikasi, toleransi, serta kemampuan bekerja sama.
Hasil wawancara yang dilakukan penulis juga memperkuat pandangan tersebut. Narasumber menyampaikan bahwa permainan rakyat sangat membantu pembentukan karakter melalui nilai kebersamaan, gotong royong, dan komunikasi sosial yang nyata. Menurut narasumber, nilai-nilai tersebut sulit diperoleh apabila anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain game online secara individual karena mengurangi kehadiran fisik dan komunikasi langsung antaranak.
Di tengah derasnya perkembangan era digital, permainan tradisional justru dapat menjadi alternatif aktivitas yang lebih sehat dan edukatif. Selain menciptakan ruang interaksi sosial yang positif, permainan tradisional juga dapat membantu mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai. Karena itu, permainan tradisional seharusnya tidak dipandang sebagai bentuk hiburan kuno yang tertinggal zaman, melainkan sebagai media pendidikan karakter yang tetap relevan dengan kebutuhan anak saat ini.
Narasumber wawancara juga mengingatkan bahwa permainan rakyat merupakan warisan turun-temurun yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Warisan tersebut semestinya terus dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Upaya Pelestarian Permainan Tradisional
Pelestarian permainan tradisional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah. Upaya ini tidak dapat dibebankan kepada satu pihak semata karena perubahan pola bermain anak dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama perkembangan teknologi.
Di lingkungan keluarga, orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan kembali permainan tradisional sejak usia dini. Anak perlu diberikan pengalaman bermain yang tidak hanya bergantung pada perangkat digital. Mengenalkan permainan tradisional sejak kecil dapat menjadi langkah awal untuk membangun keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan aktivitas sosial.
Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungan permainan tradisional. Integrasi permainan rakyat dalam kegiatan pembelajaran maupun ekstrakurikuler dapat menjadi strategi efektif untuk memperkenalkan budaya lokal secara lebih menyenangkan dan kontekstual.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, narasumber menyatakan, “Perlu (dilestarikan), karena jika hilang begitu saja akan rugi… dan Indonesia tidak memiliki identitas permainan.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hilangnya permainan tradisional bukan sekadar kehilangan bentuk hiburan, tetapi juga hilangnya bagian penting dari identitas budaya bangsa.
Di sisi lain, pemerintah bersama komunitas masyarakat perlu memperluas ruang pelestarian melalui festival budaya, perlombaan permainan tradisional, maupun kampanye kreatif yang melibatkan generasi muda. Narasumber wawancara turut menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam memperkenalkan kembali permainan-permainan tradisional agar terjadi regenerasi budaya.
Pemanfaatan media sosial juga perlu dioptimalkan sebagai sarana promosi yang efektif di era digital. Konten edukatif mengenai permainan tradisional dapat dikemas secara menarik agar lebih mudah diterima generasi muda. Strategi ini penting agar permainan tradisional tidak hanya dikenang sebagai nostalgia masa lalu, tetapi hadir kembali sebagai bagian dari kehidupan anak-anak Indonesia hari ini.
Kemajuan teknologi tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan warisan budaya. Justru di tengah derasnya arus digitalisasi, permainan tradisional dapat menjadi penyeimbang yang membantu anak tumbuh tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara sosial dan emosional. Karakter anak yang kuat tidak lahir dari ruang virtual semata, melainkan dari pengalaman nyata dalam membangun relasi, memahami kebersamaan, dan belajar menghargai sesama.





