Karangpelem, Krajan.id – Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Karangpelem, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, mulai diarahkan untuk memiliki nilai ekonomi yang lebih besar. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) mendorong pemanfaatan tanaman sereh sebagai bahan baku produk olahan yang berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat desa.
Upaya tersebut dilakukan melalui program “Penguatan Tata Kelola dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Produk Olahan TOGA Berbasis Sereh di Desa Karangpelem”. Program ini dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan KKN Tim II UNDIP di Desa Karangpelem.
Selama ini, sereh (Cymbopogon citratus) lebih banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bumbu dapur. Padahal, tanaman tersebut merupakan salah satu potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah. Salah satu bentuk pengembangan yang diarahkan mahasiswa adalah pengolahan sereh menjadi spray antinyamuk.
Pengembangan tersebut tidak hanya berfokus pada proses produksi. Mahasiswa juga menyoroti pentingnya tata kelola dan keterlibatan masyarakat agar pemanfaatan TOGA dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pemerintah desa, kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kelompok masyarakat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemangku kepentingan lainnya dinilai perlu memiliki peran yang jelas dalam pengembangan produk berbasis TOGA.
Untuk memetakan kondisi tersebut, mahasiswa menggunakan pendekatan partisipatif melalui observasi, wawancara, diskusi dengan masyarakat, serta pemetaan pemangku kepentingan. Hasil identifikasi kemudian disusun menjadi sejumlah rekomendasi bagi Pemerintah Desa Karangpelem.
Salah satu rekomendasi ialah penguatan kelembagaan pengelola TOGA dengan melibatkan kelompok masyarakat desa. Selain itu, pengembangan produk memerlukan pendampingan secara berkelanjutan, mulai dari pengolahan bahan, pengemasan, pemasaran, hingga pemenuhan legalitas usaha.
Langkah tersebut penting agar pemanfaatan TOGA tidak berhenti pada kegiatan penanaman dan penggunaan untuk kebutuhan rumah tangga. Melalui proses hilirisasi, tanaman yang tersedia di lingkungan masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat.
Hasil kajian mahasiswa kemudian dituangkan dalam Policy Brief berjudul “Penguatan Tata Kelola dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Produk Olahan TOGA Berbasis Sereh di Desa Karangpelem”. Dokumen tersebut diserahkan kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Karangpelem sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan TOGA secara berkelanjutan.
Program ini menempatkan pengembangan produk bukan semata-mata sebagai kegiatan mahasiswa selama KKN, melainkan sebagai upaya mendorong masyarakat melihat kembali potensi yang telah tersedia di desa. Sereh yang sebelumnya identik dengan kebutuhan dapur diarahkan untuk memiliki fungsi ekonomi yang lebih luas.
Ke depan, pengembangan sereh menjadi spray antinyamuk diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan potensi lokal Desa Karangpelem. Pengembangan tersebut membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, kelompok masyarakat, pelaku UMKM, dan pihak terkait lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, TOGA tidak hanya dipandang sebagai tanaman pekarangan, tetapi juga sebagai sumber bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk lokal. Penguatan tata kelola dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar potensi tersebut dapat berkembang dan memberi manfaat ekonomi bagi desa.





