Rembang, Krajan.id – Pendampingan yang dilakukan tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil mendorong transformasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pandean Berkah Bersama di Desa Pandean, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Melalui penerapan Business Model Canvas (BMC) dan penguatan digital marketing, omzet BUMDes tercatat meningkat sebesar 17,5 persen dalam enam minggu pertama setelah implementasi program.
Program tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS) Tahun 2026 yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret. Kegiatan dilaksanakan oleh Research Group Monetary and Fiscal Studies FEB UNS dengan menggandeng BUMDes Pandean Berkah Bersama sebagai mitra utama.
Tim pengabdian dipimpin oleh Dr. Tetuko Rawidyo Putro, S.E., M.Si., bersama delapan dosen anggota kelompok riset. Pendampingan difokuskan pada penyusunan model bisnis yang lebih terstruktur sekaligus memperluas pemasaran melalui platform digital agar potensi ekonomi desa dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menurut Dr. Tetuko Rawidyo Putro, Desa Pandean memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, namun belum didukung oleh sistem pengelolaan bisnis dan strategi pemasaran yang memadai.
“Kami menemukan bahwa BUMDes Pandean sebenarnya memiliki potensi produk yang luar biasa, olahan ikan pesisir, jasa peralatan nelayan, hingga wisata pantai berbasis komunitas. Yang kurang adalah sistem dan keberanian untuk go digital. Di situlah kami hadir,” ujar Dr. Tetuko Rawidyo Putro.
Pengelolaan BUMDes Lebih Terarah
Sebelum program pendampingan berjalan, aktivitas usaha BUMDes masih dilakukan secara konvensional. Pengelolaan usaha belum memiliki perencanaan bisnis yang jelas, segmentasi pasar belum terpetakan, dan promosi produk masih mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut di lingkungan sekitar desa.
Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan usaha berjalan lambat dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes) belum optimal.

Melalui lokakarya Business Model Canvas, sebanyak 23 peserta yang terdiri atas pengurus BUMDes, perangkat desa, pemuda, serta komunitas nelayan mengikuti pelatihan intensif selama dua hari. Peserta diajak menyusun kembali arah pengembangan usaha berdasarkan sembilan komponen utama dalam Business Model Canvas, mulai dari identifikasi pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi, hubungan pelanggan, hingga struktur biaya dan sumber pendapatan.
Hasil dari kegiatan tersebut berupa dokumen Blueprint Model Bisnis yang kini menjadi pedoman operasional dalam pengelolaan BUMDes.
Selain menghasilkan dokumen perencanaan, pelatihan juga memberikan dampak terhadap peningkatan kapasitas peserta. Berdasarkan hasil evaluasi, rata-rata skor pengetahuan peserta mengenai manajemen bisnis dan pemasaran digital meningkat dari 44,2 menjadi 79,6 atau naik sekitar 80,1 persen hanya dalam tiga hari pelatihan.
Penguatan Digital Marketing Perluas Jangkauan Pasar
Pendampingan tidak berhenti pada penyusunan strategi bisnis. Tim pengabdian juga membekali peserta dengan keterampilan pemasaran digital agar produk-produk unggulan desa mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Materi pelatihan meliputi teknik fotografi produk menggunakan telepon pintar, penulisan caption promosi (copywriting), pengelolaan media sosial, hingga penyusunan kalender konten melalui Meta Business Suite.
Lima pemuda desa yang ditunjuk sebagai “Duta Digital” turut dilibatkan sebagai motor penggerak pemasaran digital BUMDes.
Dalam enam minggu pertama setelah pelatihan, sejumlah capaian berhasil diraih, antara lain:
- Akun Instagram bisnis @bumdes.pandean.rembang aktif dengan 412 pengikut organik.
- Facebook Page resmi BUMDes Pandean Rembang mulai beroperasi.
- E-catalogue daring yang memuat 14 produk unggulan berhasil diluncurkan.
- Sebanyak 19 konten promosi dipublikasikan dengan rata-rata engagement rate mencapai 8,3 persen.
- Omzet BUMDes meningkat sebesar 17,5 persen dibandingkan periode sebelum program berlangsung.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital mampu membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal yang sebelumnya hanya dipasarkan di wilayah sekitar desa.
Libatkan Nelayan dan Kelompok Perempuan
Program pengabdian ini juga mengedepankan pendekatan inovasi sosial dalam pengembangan usaha desa.
Tim pengabdian tidak hanya berfokus pada peningkatan keuntungan BUMDes, tetapi juga mengintegrasikan kelompok nelayan dan perempuan pengolah hasil perikanan sebagai bagian dari rantai pasok usaha.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang dirasakan bersama oleh masyarakat desa. Pertumbuhan usaha BUMDes diharapkan berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan kelompok masyarakat yang menjadi mitra produksi.
Sekretaris Desa Pandean, Nofi Ikaferiana, mengapresiasi pendampingan yang diberikan oleh tim FEB UNS. Ia menilai program tersebut tidak hanya memperkenalkan teknologi pemasaran digital, tetapi juga memberikan arah pengembangan usaha yang lebih jelas.
“Sekarang kami punya akun Instagram, katalog online, dan yang terpenting kami tahu mau ke mana. Desa Pandean punya potensi besar, dan sekarang kami mulai bisa menunjukkannya ke dunia luar,” kata Nofi Ikaferiana.
Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi memberikan semangat baru bagi pengurus BUMDes untuk mengembangkan berbagai potensi desa yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
Mendukung Pencapaian SDGs
Program pengabdian masyarakat ini juga mendukung implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Pada SDG Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, kegiatan difokuskan pada peningkatan literasi digital serta kompetensi kewirausahaan bagi 23 warga desa yang mengikuti pelatihan.
Sementara pada SDG Nomor 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, program memperkuat kolaborasi antara Universitas Sebelas Maret, Pemerintah Desa Pandean, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Rembang, serta masyarakat melalui pengelolaan BUMDes.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi contoh pengembangan BUMDes berbasis kemitraan yang dapat diterapkan di wilayah pesisir lainnya.
Disiapkan Menjadi Model Pengembangan BUMDes
Tim Research Group Monetary and Fiscal Studies FEB UNS berharap pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada peningkatan omzet dalam jangka pendek.
Sebagai bagian dari program PKM HGR-UNS, tim juga telah menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang akan menjadi pedoman pengelolaan BUMDes setelah masa pendampingan selesai.
Dengan adanya sistem bisnis yang lebih terstruktur, pemanfaatan pemasaran digital, serta keterlibatan aktif masyarakat desa, BUMDes Pandean diharapkan mampu berkembang secara mandiri dan menjadi model pengembangan BUMDes berbasis inovasi sosial dan transformasi digital di kawasan pesisir Jawa Tengah.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menghasilkan dampak nyata bagi penguatan ekonomi desa. Pendekatan yang memadukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyusunan strategi bisnis, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi fondasi penting dalam menciptakan usaha desa yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.




![Foto bersama Tim Hibah MBKM ID [2132] UNS dengan perangkat desa dan warga Desa Jeron. (Dok. Tim Hibah MBKM ID [2132] UNS) Foto bersama Tim Hibah MBKM ID [2132] UNS dengan perangkat desa dan warga Desa Jeron. (Dok. Tim Hibah MBKM ID [2132] UNS)](https://www.krajan.id/wp-content/uploads/2026/06/Foto-bersama-Tim-Hibah-MBKM-ID-2132-UNS-dengan-perangkat-desa-dan-warga-Desa-Jeron.-Dok.-Tim-Hibah-MBKM-ID-2132-UNS-200x112.png)
