Air merupakan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Hampir seluruh aktivitas sehari-hari, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga menjaga kebersihan lingkungan, sangat bergantung pada ketersediaan air bersih. Karena itu, kualitas air tidak sekadar menjadi persoalan kebutuhan domestik, melainkan juga berkaitan erat dengan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
Ironisnya, di tengah meningkatnya kesadaran tentang kesehatan lingkungan, persoalan akses terhadap air bersih yang layak masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia. Air yang tampak jernih belum tentu aman dikonsumsi. Dalam banyak kasus, air justru menjadi media penyebaran penyakit apabila telah terkontaminasi zat berbahaya atau mikroorganisme patogen. Salah satu penyakit yang paling sering berkaitan dengan buruknya kualitas air adalah diare.
Penyakit ini kerap dianggap ringan karena lazim terjadi di masyarakat. Padahal, diare masih menjadi masalah kesehatan serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Secara medis, diare didefinisikan sebagai kondisi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi tinja lebih cair dari biasanya. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi berat, gangguan gizi, bahkan kematian.
Di tingkat global, diare masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak usia di bawah lima tahun. Di Indonesia, penyakit ini secara konsisten masuk dalam sepuluh besar kasus penyakit terbanyak setiap tahun. Tingginya angka kejadian diare tidak dapat dipisahkan dari persoalan mendasar, yakni belum meratanya akses masyarakat terhadap sumber air bersih yang memenuhi standar kesehatan.
Sumber: Pixel
Parameter Kualitas Air Bersih
Kualitas air bersih pada dasarnya tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tampilan fisiknya. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 telah menetapkan bahwa kualitas air harus memenuhi tiga parameter utama, yaitu parameter fisik, kimia, dan bakteriologis.
Parameter fisik mencakup warna, bau, rasa, serta tingkat kekeruhan air. Air bersih idealnya tampak jernih, tidak berwarna, tidak memiliki aroma menyengat, dan tidak meninggalkan rasa asing ketika digunakan. Kekeruhan sering kali menjadi indikator awal adanya partikel asing, endapan, atau mikroorganisme tertentu yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Selain itu, terdapat parameter kimia yang mengukur kandungan zat tertentu dalam air, seperti tingkat keasaman (pH), nitrat, nitrit, logam berat, serta berbagai senyawa organik lainnya. Kandungan kimia yang melebihi ambang batas bukan hanya menimbulkan pencemaran, tetapi juga dapat memicu gangguan kesehatan dalam jangka panjang, termasuk penurunan daya tahan tubuh.
Di antara ketiga indikator tersebut, parameter bakteriologis menjadi aspek yang paling erat kaitannya dengan kejadian diare. Pemeriksaan ini berfungsi mendeteksi keberadaan bakteri indikator pencemaran tinja, terutama Escherichia coli (E. coli) dan total coliform. Kehadiran bakteri tersebut menunjukkan bahwa air telah terkontaminasi limbah feses, sehingga berpotensi membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit seperti Vibrio cholerae, Shigella sp., dan Salmonella sp.
Kontaminasi bakteriologis inilah yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Air dapat tampak bening, tidak berbau, bahkan terasa normal, tetapi tetap berisiko menimbulkan gangguan kesehatan apabila telah tercemar mikroorganisme berbahaya.
Hubungan Kualitas Air dengan Kejadian Diare
Hubungan antara kualitas air bersih dan kejadian diare sangat erat. Penularan diare umumnya terjadi melalui mekanisme fecal-oral, yakni masuknya mikroorganisme dari feses ke dalam tubuh melalui mulut. Dalam mekanisme ini, air yang terkontaminasi menjadi media penularan paling umum.
Masyarakat yang mengonsumsi air tanpa proses pengolahan yang memadai memiliki risiko lebih tinggi mengalami diare. Air minum yang tidak dimasak hingga mendidih atau air yang berasal dari sumber tercemar dapat membawa bakteri patogen masuk ke saluran pencernaan. Risiko ini semakin besar ketika masyarakat tidak menyadari bahwa kualitas air yang digunakan sehari-hari telah mengalami pencemaran.
Salah satu faktor yang kerap luput dari perhatian ialah jarak antara sumber air dan tempat pembuangan tinja. Dalam standar kesehatan lingkungan, sumur sebaiknya memiliki jarak minimal 10 meter dari septic tank atau saluran pembuangan limbah domestik. Ketika jarak tersebut terlalu dekat, bakteri dari limbah dapat merembes ke dalam tanah dan mencemari sumber air tanah yang digunakan warga.
Kondisi geografis tertentu juga memengaruhi tingkat pencemaran. Struktur tanah yang berpori serta curah hujan tinggi mempercepat perpindahan bakteri menuju sumber air. Tidak sedikit masyarakat yang masih menggunakan sumur dangkal tanpa perlindungan memadai sehingga rentan mengalami kontaminasi.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan air di tingkat rumah tangga. Air yang semula aman dikonsumsi dapat kembali tercemar akibat kebiasaan penyimpanan yang tidak higienis. Tempat penampungan yang terbuka, wadah yang jarang dibersihkan, hingga kebiasaan mengambil air menggunakan tangan langsung menjadi faktor risiko yang sering diabaikan.
Tanpa disadari, praktik sederhana tersebut dapat membentuk rantai penularan penyakit yang berlangsung terus-menerus di lingkungan keluarga.
Faktor Risiko yang Mempercepat Kejadian Diare
Kejadian diare tidak hanya dipengaruhi kualitas air, tetapi juga dipicu berbagai faktor lain yang saling berkaitan. Buruknya sanitasi lingkungan menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka diare di sejumlah daerah.
Kebiasaan buang air besar sembarangan, misalnya, masih menjadi persoalan serius yang berdampak langsung terhadap pencemaran sumber air. Karena itu, pemerintah mendorong implementasi program Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan sebagai bagian dari strategi peningkatan kesehatan lingkungan.
Selain sanitasi, perilaku higiene individu memegang peranan penting. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, sebelum mengolah makanan, dan setelah buang air besar terbukti efektif menurunkan risiko diare. Sayangnya, praktik sederhana ini belum sepenuhnya menjadi budaya di sebagian masyarakat.
Tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat juga memengaruhi kemampuan dalam menjaga kualitas air dan sanitasi rumah tangga. Masyarakat dengan pemahaman kesehatan yang baik umumnya lebih memperhatikan sumber air yang digunakan, cara penyimpanan, hingga pentingnya kebersihan lingkungan.
Di sisi lain, faktor ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah sering kali menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas air bersih dan sanitasi layak. Situasi ini membuat mereka lebih rentan mengalami penyakit berbasis lingkungan, termasuk diare.
Upaya Pencegahan
Pencegahan diare akibat kualitas air yang buruk membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari individu, keluarga, hingga pemerintah.
Pada tingkat rumah tangga, langkah paling sederhana dan efektif adalah memastikan air minum dimasak hingga mendidih sebelum dikonsumsi. Penggunaan filter air, kaporit, maupun teknologi pemurnian seperti sinar ultraviolet dapat menjadi alternatif tambahan untuk meningkatkan keamanan air minum.
Selain itu, kebersihan wadah penyimpanan air juga harus menjadi perhatian. Tempat penampungan perlu ditutup rapat, dibersihkan secara berkala, serta dihindarkan dari kontak langsung dengan tangan yang belum higienis. Disiplin mencuci tangan menggunakan sabun juga tetap menjadi langkah preventif yang murah, mudah, namun memiliki dampak besar terhadap pencegahan penyakit.
Pada tingkat komunitas dan pemerintah, pembangunan sarana air bersih yang merata menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah juga perlu memperkuat edukasi mengenai sanitasi lingkungan agar masyarakat memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga kesehatan.
Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menjadi salah satu pendekatan yang cukup komprehensif. Melalui lima pilar utamanya, yakni stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum rumah tangga, pengelolaan sampah, dan pengelolaan limbah cair, program ini diharapkan mampu menekan risiko penyakit berbasis lingkungan secara berkelanjutan.
Kualitas air bersih memiliki hubungan yang sangat erat dengan kejadian diare di masyarakat. Air yang tidak memenuhi standar fisik, kimia, maupun bakteriologis dapat menjadi pintu masuk berbagai patogen berbahaya yang mengancam kesehatan manusia.
Persoalan diare tidak cukup diatasi hanya dengan pengobatan ketika sakit muncul. Upaya pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menjaga kualitas sumber air, memastikan pengolahan air yang aman, memperbaiki perilaku hidup bersih, hingga memperkuat sanitasi lingkungan.
Kesadaran bahwa air bersih merupakan hak dasar sekaligus tanggung jawab bersama perlu terus dibangun. Ketika kualitas air terjaga, masyarakat tidak hanya terlindungi dari ancaman diare, tetapi juga memperoleh fondasi kesehatan yang lebih baik untuk kehidupan jangka panjang.





