Ini dimulai dari hal kecil.
Suatu malam, seorang teman cerita ke saya, bukan soal apa yang ia lakukan hari itu, tapi tentang dengan siapa ia ngobrol. Bukan gebetan. Bukan sahabat lama. Ia buka ChatGPT, lalu mulai mengetik panjang. Tentang pekerjaannya yang mulai terasa berat. Tentang keputusan yang sudah lama ia tunda. Tentang hal-hal yang, katanya, “susah diceritain ke orang.”
Saya tanya, kenapa tidak cerita ke saya saja, atau ke teman yang lain? Ia mikir sebentar, lalu jawab, “Soalnya AI nggak akan nge-judge dan nggak akan cerita ke siapa-siapa.”
Saya diam. Karena saya tersadar apa yang dikatakan ada benarnya.
Teknologi yang Kita Pikir Kita Kendalikan
Selama ini kita terbiasa berpikir tentang teknologi dengan cara yang cukup sederhana, ia adalah alat. Kita yang pegang kendali. Kita yang tentukan mau dipakai buat apa. Netral, pasif, seperti pisau, bisa buat masak, bisa buat hal lain, tergantung siapa yang memegangnya.
Tapi ada ilmu yang sudah lama mempertanyakan cara pandang ini, namanya antropologi digital, dan argumennya cukup bikin kita berpikir dalam-dalam sejenak.
Dua antropolog, Daniel Miller dan Heather Horst, pernah menulis sesuatu yang waktu pertama kali saya baca terasa seperti tamparan kecil, “The digital is the human.”Menurut mereka, ruang digital bukan ruang yang hanya kita kunjungi sejenak lalu pulang. Ia sudah jadi bagian dari cara kita hidup, cara kita berpikir, cara kita membangun identitas. Kita tidak “masuk” ke internet lalu “keluar” lagi. Kita sudah tinggal di dalamnya, separuh waktu kita, separuh hidup kita.
Dan kalau itu benar, maka AI bukan sekadar alat baru yang canggih. Ia bagian baru dari ekosistem sosial kita. Entitas yang kita ajak bicara, kita percaya, dan tanpa disadari selalu kita beri tempat dalam hidup kita.
Tiga Hal Kecil yang Sebenarnya Besar
Coba perhatikan kebiasaan-kebiasaan yang sudah mulai terbentuk di sekitar kita.
Yang pertama, orang mulai curhat ke AI. Bukan bertanya soal fakta, bukan minta bantuan nulis email, tapi benar-benar curhat tentang hubungan yang rumit, tentang rasa takut yang susah dijelaskan, tentang pilihan hidup yang tidak jarang bikin pusing. Anehnya, banyak yang bilang kalau mereka malah merasa lebih lega setelah curhat ke AI. Bukan karena AI punya jawaban yang lebih baik dari manusia, tapi karena AI hadir tanpa judgemental, tanpa ekspresi wajah yang bisa dibaca, tanpa ada risiko gosip yang menyebar setelahnya.
Yang kedua, AI masuk ke dalam rutinitas harian. Dulu ritual pagi adalah ngopi sambil scroll Twitter, atau baca berita. Sekarang, mulai banyak orang yang “briefing” dulu sama AI. Nanya apa yang perlu diketahui hari ini, minta bantu susun prioritas, atau sekadar “warming up” pikiran sebelum mulai kerja. Kelihatannya sepele. Tapi antropologi tahu satu hal: ritual membentuk identitas. Apa yang kita lakukan setiap hari, perlahan jadi siapa kita.
Yang ketiga, keputusan-keputusan besar dan kecil mulai dikonsultasikan ke AI. Mau ngelamar kerja tapi ragu? Tanya AI. Mau ngomong sesuatu yang susah ke seseorang? Minta AI bantu formulasikan. Ini bukan tanda bahwa kita lemah atau tidak bisa berpikir sendiri. Ini tanda bahwa AI sudah masuk ke wilayah yang dulu sepenuhnya milik manusia.
AI tidak perlu benar-benar memahami kita untuk mempengaruhi cara kita memahami diri sendiri.
Tapi ada yang mengganjal dan saya tidak mau menghentikan pembahasan di bagian yang nyaman saja.
Karena kalau kita jujur, ada pertanyaan yang lebih sulit di balik semua ini, apa yang terjadi ketika ruang-ruang yang dulu kita isi bersama manusia lain, seperti ruang curhat, ruang cerita, ruang saling mendengarkan, perlahan mulai diisi oleh AI?
Di Indonesia, kita tumbuh dalam budaya yang menjunjung tinggi kekeluargaan. Bukan sekadar nilai di atas kertas tapi sistem nyata. Kita berbagi beban lewat ngobrol di warung, lewat telepon tengah malam ke kakak, lewat teman yang datang tanpa diundang ketika tahu kita sedang tidak baik-baik saja. Sistem itu bekerja karena ada manusia di dalamnya dengan segala kompleksitasnya.
Lalu saya mulai menanyakan satu hal, apakah sebenarnya kita perlahan sedang mengganti sistem itu dengan sesuatu yang lebih tidak ribet tapi disaat yang bersamaan terasa lebih hampa?
Mungkin saja tidak. Mungkin AI cuma mengisi celah yang memang tidak bisa diisi oleh manusia. Celah di saat semua orang sudah tidur dan bingung harus cerita ke siapa, atau ada keresahan yang terlalu kecil untuk di-share tapi terlalu besar untuk ditahan sendiri. Mungkin AI adalah pelengkap, bukan pengganti.
Namun, mungkin kita juga perlu lebih jujur soal seberapa sering kita memilih AI bukan karena tidak ada pilihan lain tapi justru karena curhat ke orang lain terasa lebih ribet.
Yang Terpantul di Cermin
Pada akhirnya, yang paling menarik dari semua fenomena ini bukan AI-nya.
Yang menarik adalah kita.
Fakta kalau jutaan orang, mungkin termasuk kamu yang lagi baca ini, sudah mulai memperlakukan AI seperti entitas yang layak untuk diajak ngobrol, didengarkan, dan dipercaya adalah fenomena yang patut kita perhatikan dengan seksama. Fakta ini tidak bicara soal seberapa canggih teknologinya. Ia bicara soal kebutuhan dasar manusia yang tidak pernah berubah yaitu ingin didengar, ingin merasa aman, ingin ada ruang di mana kita bisa jujur tanpa ada konsekuensi yang merugikan.
Kalau AI akhirnya menjadi tempat kita mencari itu semua, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “apakah ini baik atau buruk?” tapi kenapa kita begitu susah menemukannya dari sesama manusia? Itu pertanyaan yang jawabannya tidak ada di dalam AI tapi ada di antara kita.
Daftar Pustaka
Horst, Heather A., dan Daniel Miller. 2012. Digital Anthropology. London: Berg Publishers.





