Pada 23 Mei 2026, komunitas pejalan kaki Jejak Kota menggelar kegiatan bertajuk Lost in Kotabaru: Discovering the Sense of Place di kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai daerah, tidak hanya dari Yogyakarta tetapi juga dari kota-kota lain di Indonesia. Kehadiran peserta lintas wilayah menunjukkan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap cara baru menikmati kota melalui pengalaman berjalan kaki yang lebih reflektif dan bermakna.
Jejak Kota merupakan komunitas yang bergerak pada isu perkotaan, lingkungan, dan inklusivitas. Komunitas ini memiliki jaringan di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Sejak aktif pada 2023, Jejak Kota secara konsisten menghadirkan berbagai kegiatan yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam memahami ruang kota sekaligus membangun memori kolektif terhadap lingkungan tempat mereka hidup.
Berbeda dengan kegiatan wisata perkotaan yang umumnya berfokus pada destinasi populer atau aktivitas konsumtif, Jejak Kota mengajak peserta untuk memahami kota sebagai ruang hidup yang dibentuk oleh sejarah, masyarakat, lingkungan, serta struktur fisiknya. Dalam perspektif komunitas ini, sebuah kota bukan sekadar kumpulan bangunan dan jalan, melainkan hasil interaksi panjang antara manusia dan ruang yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Karena itu, aksesibilitas kawasan bagi pejalan kaki menjadi salah satu perhatian utama Jejak Kota. Trotoar, jalur pedestrian, ruang terbuka publik, hingga kemudahan akses bagi kelompok rentan dipandang sebagai indikator penting untuk menilai tingkat inklusivitas sebuah kota. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan berjalan kaki tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga sarana membaca dan memahami kondisi perkotaan secara lebih kritis.
Kegiatan Lost in Kotabaru: Discovering the Sense of Place dimulai dari Toko Kami sebagai titik kumpul peserta dan fasilitator. Dari lokasi tersebut, peserta diajak menelusuri berbagai bangunan dan situs bersejarah yang menjadi bagian penting dari identitas kawasan Kotabaru. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Museum Sandi, Babon Aniem, serta kawasan sekitar Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.
Salah satu keunikan kegiatan ini adalah penggunaan zine sebagai media interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai lokasi yang dikunjungi, tetapi juga diajak mencatat pengalaman, kesan, dan temuan mereka selama perjalanan. Metode ini membuat setiap peserta memiliki ruang untuk membangun hubungan personal dengan tempat yang mereka datangi.
Sepanjang perjalanan, peserta menggunakan trotoar dan fasilitas pejalan kaki yang tersedia di kawasan Kotabaru. Pengalaman berjalan kaki tersebut kemudian menjadi bahan refleksi dalam sesi diskusi yang dilaksanakan setelah kegiatan berakhir. Dalam forum tersebut, peserta berbagi pengalaman mengenai kenyamanan trotoar, aksesibilitas ruang publik, keberadaan fasilitas pendukung, hingga berbagai tantangan yang masih dihadapi pejalan kaki di kawasan perkotaan.
Diskusi tersebut menjadi bagian penting dari tujuan Jejak Kota untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu perkotaan. Melalui pengalaman langsung, peserta diajak melihat bahwa kualitas ruang publik tidak hanya ditentukan oleh estetika kota, tetapi juga oleh kemampuannya melayani seluruh lapisan masyarakat secara setara. Kesadaran seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap berbagai persoalan perkotaan, mulai dari hak pejalan kaki, pengelolaan sampah, hingga pentingnya ruang publik yang inklusif.
Dalam konteks yang lebih luas, kegiatan ini memiliki keterkaitan erat dengan konsep regenerative tourism atau pariwisata regeneratif. Menurut Baletto dkk. (2022), pariwisata regeneratif merupakan pendekatan transformatif yang bertujuan mengembangkan potensi suatu destinasi dengan menciptakan nilai tambah dan dampak positif bagi kawasan tersebut. Pendekatan ini tidak hanya berupaya mengurangi dampak negatif pariwisata, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan, masyarakat, dan budaya setempat.
Konsep tersebut semakin relevan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pariwisata saat ini, termasuk fenomena overtourism yang terjadi di sejumlah destinasi populer. Jika pendekatan sustainable tourism berfokus pada upaya menjaga agar dampak negatif tetap berada pada tingkat minimal, maka regenerative tourism melangkah lebih jauh dengan menciptakan kondisi yang membuat suatu kawasan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Dalam kerangka itulah kegiatan Jejak Kota dapat dipahami sebagai praktik pariwisata regeneratif dalam skala komunitas. Melalui kegiatan kelana kota, peserta tidak hanya menjadi pengunjung yang menikmati ruang, tetapi juga individu yang diajak memahami, merefleksikan, dan memberikan perhatian terhadap kondisi kawasan yang mereka kunjungi.
Kawasan Kotabaru sendiri memiliki nilai penting sebagai kawasan cagar budaya yang telah menjadi bagian dari perkembangan Kota Yogyakarta selama puluhan tahun. Melalui pengalaman berjalan kaki, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenali nilai sejarah kawasan sekaligus memahami tantangan perkotaan yang dihadapi saat ini. Aktivitas tersebut menciptakan hubungan yang lebih mendalam antara manusia dan ruang kota, sesuatu yang menjadi inti dari pendekatan pariwisata regeneratif.
Jejak Kota juga menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari organisasi besar atau program berskala masif. Komunitas yang relatif kecil pun dapat menghadirkan dampak positif ketika mampu membangun kesadaran kolektif dan menghubungkan masyarakat dengan ruang hidupnya. Pengalaman yang diperoleh peserta berpotensi membentuk perspektif baru mengenai pentingnya kota yang ramah pejalan kaki, inklusif, dan berkelanjutan.
Kontribusi Jejak Kota terhadap penguatan ruang publik di Kotabaru menjadi contoh bagaimana komunitas warga dapat berperan dalam menciptakan ekosistem perkotaan yang lebih sehat. Ketika masyarakat semakin mengenal, memahami, dan merasa memiliki ruang kota, peluang untuk menjaga serta mengembangkan kawasan tersebut akan semakin besar. Dari langkah-langkah sederhana seperti berjalan kaki dan berdiskusi mengenai pengalaman ruang, lahir kesadaran yang dapat mendorong perubahan sosial maupun lingkungan dalam jangka panjang.
Daftar Pustaka
Bellato, L., Frantzeskaki, N., & Nygaard, C. A. (2022). Regenerative tourism: A conceptual framework leveraging theory and practice. Tourism Geographies, 25(4), 1026–1046. https://doi.org/10.1080/14616688.2022.2044376





