KKN 192 UNS Kenalkan Pengolahan Kotoran Hewan Menjadi Pupuk Kompos di Pacitan

Dokumentasi Bersama setelah pelaksanaan program kerja “Workshop Pengolahan Pupuk Kompos: Pelatihan Keterampilan Kerja dan Edukasi Lingkungan dari Kotoran Hewan” di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. (Dok. Pribadi/KKN 192 UNS)
Dokumentasi Bersama setelah pelaksanaan program kerja “Workshop Pengolahan Pupuk Kompos: Pelatihan Keterampilan Kerja dan Edukasi Lingkungan dari Kotoran Hewan” di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. (Dok. Pribadi/KKN 192 UNS)

Sidomulyo, Krajan.id – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 192 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk kompos di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini menyasar warga Dusun Ledok Kulon dengan tujuan meningkatkan keterampilan pengelolaan limbah organik sekaligus mendorong kepedulian terhadap lingkungan.

Program bertajuk “Workshop Pengolahan Pupuk Kompos: Pelatihan Keterampilan Kerja dan Edukasi Lingkungan dari Kotoran Hewan” tersebut diikuti 25 warga. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh sosialisasi mengenai pemanfaatan kotoran hewan sebagai bahan baku pupuk kompos yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pertanian.

Bacaan Lainnya

Penanggung jawab kegiatan, Muhammad Aziz Ramadhani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keolahragaan UNS, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menghubungkan edukasi lingkungan dengan pengembangan keterampilan masyarakat.

Pelatihan pengolahan kompos tidak hanya berfokus pada pemanfaatan limbah organik, tetapi juga memperkenalkan peluang pemanfaatan sumber daya lokal yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Pengolahan Limbah Organik sebagai Edukasi Lingkungan

Kegiatan KKN 192 UNS ini mengusung sejumlah tujuan yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satunya adalah SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Melalui pelatihan secara langsung atau hands-on, masyarakat diperkenalkan pada tata cara pengolahan kotoran hewan menjadi produk yang bermanfaat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pengetahuan sekaligus keterampilan praktis warga dalam mengelola limbah organik.

Program ini juga berkaitan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Keterampilan mengolah kotoran hewan menjadi pupuk kompos berpotensi dikembangkan sebagai kegiatan produktif yang mendukung kemandirian ekonomi masyarakat. Namun, pemanfaatan ekonomi tersebut tetap bergantung pada pengelolaan, kualitas produk, serta kebutuhan pengguna di tingkat lokal.

Dari sisi lingkungan, kegiatan ini mengacu pada SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pemanfaatan kotoran hewan sebagai bahan kompos menjadi salah satu cara untuk mengurangi penumpukan limbah organik dan mengalihkannya menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Mendorong Pemanfaatan Pupuk Organik

Selain itu, program workshop tersebut dikaitkan dengan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan. Pemanfaatan pupuk organik hasil pengolahan limbah hewan diarahkan untuk mendukung pemeliharaan kesuburan tanah dan kebutuhan pertanian maupun perkebunan masyarakat.

Penggunaan pupuk kompos dalam kegiatan pertanian dapat menjadi bagian dari pengelolaan bahan organik secara berkelanjutan. Meski demikian, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, kondisi tanah, dan kualitas kompos yang dihasilkan.

Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari Kepala Dusun Ledok Kulon beserta jajarannya. Dukungan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan program KKN 192 UNS dalam memperkenalkan pengelolaan limbah organik kepada masyarakat Desa Sidomulyo.

Melalui workshop ini, mahasiswa UNS berupaya menghadirkan kegiatan edukasi yang menghubungkan keterampilan kerja, pengelolaan lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Pelatihan pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk kompos diharapkan dapat menjadi pengetahuan yang dapat diterapkan masyarakat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lingkungan desa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *