Mahasiswa Teknik Kimia UNS Olah Limbah Kubis dan Sawi Menjadi Pelet Probiotik untuk Pakan Ternak

Tim Hibah MBKM Desa Ngagrong UNS. (Dok. Tim Hibah MBKM UNS Desa Ngagrong)
Tim Hibah MBKM Desa Ngagrong UNS. (Dok. Tim Hibah MBKM UNS Desa Ngagrong)

Ngagrong, Krajan.id – Tim mahasiswa Program Studi Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah kubis dan sawi menjadi pelet probiotik sebagai aditif pakan ternak melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan di Balai Desa Ngagrong, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Hibah Pembelajaran Berdampak skema Membangun Desa melalui implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program ini berada di bawah bimbingan Dr. Ir. Margono, S.T., M.T. dan melibatkan masyarakat Desa Ngagrong sebagai mitra dalam penerapan teknologi tepat guna berbasis potensi lokal.

Bacaan Lainnya

Melalui program tersebut, mahasiswa mendorong pemanfaatan limbah hasil panen yang selama ini belum dimaksimalkan agar memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Inovasi ini juga diharapkan dapat menjadi alternatif penyediaan bahan baku pakan ternak bagi peternak di wilayah setempat.

Pelatihan diikuti oleh perangkat desa, kelompok tani, peternak, serta masyarakat Desa Ngagrong. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pelaksanaan pretest untuk mengukur tingkat pemahaman peserta mengenai pemanfaatan limbah pertanian serta teknologi pakan probiotik.

Selanjutnya, peserta mendapatkan materi mengenai konsep dasar probiotik, peran mikroorganisme dalam proses fermentasi, hingga tahapan pengolahan limbah kubis dan sawi menjadi pelet probiotik.

Pada sesi praktik, peserta diperkenalkan secara langsung dengan proses pembuatannya, mulai dari pemilahan bahan baku, pencacahan, pengeringan, pencampuran menggunakan larutan EM4, molase, dan air, hingga proses fermentasi di dalam wadah kedap udara selama 12 hari.

Dosen pembimbing kegiatan, Dr. Ir. Margono, S.T., M.T., mengatakan program tersebut merupakan implementasi pembelajaran di perguruan tinggi yang diarahkan untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat melalui penerapan teknologi sederhana yang mudah diaplikasikan.

“Limbah pertanian memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai guna. Melalui program ini kami berharap masyarakat dapat menerapkan teknologi pengolahan limbah secara mandiri sehingga mampu mendukung kebutuhan pakan ternak sekaligus menciptakan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari evaluasi program, tim mahasiswa juga melakukan pengujian laboratorium terhadap pelet probiotik yang telah dihasilkan. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kualitas nutrisi sekaligus memastikan keberhasilan proses fermentasi.

Berdasarkan hasil analisis proksimat, pelet yang dihasilkan memiliki kadar air sebesar 9,40–10,49 persen, protein 8,32–8,77 persen, lemak 4,15–4,21 persen, mineral 12,60–12,86 persen, serta karbohidrat 63,73–65,47 persen.

Sementara itu, hasil uji Total Plate Count (TPC) menunjukkan jumlah mikroorganisme berkisar antara 7,9 × 10⁸ hingga 1,2 × 10¹¹ CFU/g. Temuan tersebut mengindikasikan keberadaan mikroorganisme probiotik aktif di dalam produk sehingga menunjukkan proses fermentasi berlangsung sesuai tujuan pengembangan.

Melalui hasil tersebut, limbah pertanian yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak yang memiliki nilai tambah. Inovasi ini tidak hanya berkontribusi terhadap efisiensi pemanfaatan limbah, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas sektor peternakan berbasis sumber daya lokal.

Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah, serta tujuan ke-17 mengenai kemitraan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok tani, dan peternak.

Melalui kegiatan tersebut, Universitas Sebelas Maret berharap inovasi pengolahan limbah kubis dan sawi menjadi pelet probiotik dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Ngagrong. Dengan demikian, teknologi sederhana tersebut diharapkan mampu mendukung pengelolaan limbah pertanian, meningkatkan produktivitas peternakan, sekaligus memperkuat pembangunan desa yang berkelanjutan melalui pemanfaatan potensi lokal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *