Kadusirung, Krajan.id – Pemahaman mengenai literasi keuangan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Kemampuan mengelola uang, menentukan prioritas kebutuhan, hingga membangun kebiasaan menabung dinilai dapat menjadi bekal bagi anak-anak dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang.
Namun, dalam praktiknya, masih banyak anak yang menggunakan uang saku tanpa perencanaan yang jelas karena belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai pengelolaan keuangan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) untuk menghadirkan edukasi keuangan sederhana yang disesuaikan dengan karakteristik siswa sekolah dasar.
Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), mahasiswa UNPAM menggelar kegiatan bertajuk “Pembentukan Perilaku Keuangan Sejak Dini melalui Pengelolaan Uang Saku pada Siswa Sekolah Dasar” di SDN Kadusirung 2, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang.
Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan konsep dasar pengelolaan keuangan kepada siswa melalui metode pembelajaran yang interaktif, komunikatif, dan mudah dipahami. Dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, para siswa diajak memahami pentingnya mengelola uang secara bijak sejak usia dini.
Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Indana Zulfa selaku Master of Ceremony (MC). Suasana kelas tampak hangat sejak awal acara. Para siswa mengikuti kegiatan dengan antusias dan terlibat aktif dalam setiap sesi yang disiapkan oleh tim mahasiswa.

Selanjutnya, Ketua Kelompok PKM, Bagus Andre Juliyanto, menyampaikan sambutan sekaligus memberikan gambaran mengenai pentingnya membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak masa kanak-kanak.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap adik-adik dapat memahami pentingnya mengelola uang dengan baik, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mulai membiasakan diri untuk menabung sejak sekarang,” ujar Bagus Andre Juliyanto.
Menurutnya, kebiasaan sederhana dalam mengelola uang saku dapat menjadi fondasi yang kuat dalam membentuk karakter anak yang lebih bertanggung jawab terhadap penggunaan uang.
Memasuki sesi utama, materi disampaikan oleh Nazwa Rahmayani. Sebelum menjelaskan konsep dasar keuangan, siswa terlebih dahulu diajak berdiskusi mengenai pengertian uang melalui sejumlah pertanyaan sederhana. Pendekatan tersebut membuat suasana belajar lebih hidup karena banyak siswa yang berani menyampaikan pendapat berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari.
Dalam sesi tersebut, siswa diperkenalkan pada pengertian uang sebagai alat yang digunakan untuk membeli barang maupun membayar berbagai kebutuhan. Selain itu, mereka juga memperoleh pemahaman mengenai fungsi uang dalam kehidupan sehari-hari.
Nazwa menjelaskan bahwa uang memiliki beberapa fungsi penting, yakni sebagai alat tukar untuk memperoleh barang, alat pembayaran untuk memenuhi kebutuhan maupun jasa, serta sebagai penyimpan nilai yang dapat ditabung dan digunakan pada masa mendatang.
Pengenalan konsep dasar tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran siswa bahwa uang tidak hanya berfungsi sebagai alat berbelanja, tetapi juga perlu dikelola secara bijaksana.
Salah satu materi yang paling menarik perhatian siswa adalah pembahasan mengenai perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Materi ini disampaikan menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh peserta.
Siswa dijelaskan bahwa kebutuhan merupakan hal yang harus dipenuhi terlebih dahulu, seperti makanan, minuman, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan belajar lainnya. Sementara itu, keinginan merupakan sesuatu yang sifatnya tidak mendesak dan lebih berorientasi pada kesenangan.
Melalui simulasi sederhana, siswa diajak memahami cara menentukan prioritas penggunaan uang saku. Sebagai contoh, ketika menerima uang saku sebesar Rp5.000, mereka dianjurkan untuk terlebih dahulu memenuhi kebutuhan utama seperti membeli makanan. Apabila masih terdapat sisa uang, barulah dapat digunakan untuk membeli jajanan atau keperluan lain yang sifatnya tidak mendesak.
Para siswa juga diberikan pemahaman bahwa apabila ingin membeli barang tertentu, seperti mainan atau benda yang diinginkan, mereka dapat mulai menabung sedikit demi sedikit hingga jumlah uang yang dibutuhkan terkumpul.
Pendekatan tersebut membantu siswa memahami bahwa setiap keputusan dalam menggunakan uang perlu mempertimbangkan skala prioritas agar tidak mudah habis untuk hal-hal yang kurang penting.
Pada sesi berikutnya, mahasiswa mengajak siswa mengidentifikasi berbagai kebiasaan yang dapat membuat uang saku cepat habis. Beberapa contoh yang dibahas antara lain terlalu sering membeli jajanan, mudah tergoda membeli barang yang menarik, serta tidak menyisihkan uang untuk ditabung.
Melalui diskusi tersebut, siswa diajak memahami bahwa kebiasaan membeli sesuatu secara impulsif dapat berdampak pada habisnya uang saku tanpa disadari. Karena itu, mereka didorong untuk mulai menerapkan kebiasaan mengatur pengeluaran dan menyisihkan sebagian uang untuk kebutuhan jangka panjang.
Agar penyampaian materi lebih menarik, tim PKM menggunakan media presentasi PowerPoint (PPT) interaktif yang dilengkapi gambar, ilustrasi, dan contoh-contoh sederhana. Metode ini membantu siswa memahami materi secara visual sekaligus meningkatkan partisipasi mereka selama kegiatan berlangsung.
Tidak hanya mendengarkan penjelasan, siswa juga diajak berdiskusi dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh pemateri. Beberapa siswa bahkan berbagi pengalaman mengenai cara mereka menggunakan uang saku sehari-hari.
Suasana kelas pun berlangsung dinamis. Interaksi yang terbangun menunjukkan bahwa edukasi keuangan dapat diterima dengan baik apabila disampaikan menggunakan metode yang sesuai dengan usia peserta didik.
Selain membahas pengelolaan uang saku, kegiatan ini juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan menabung sejak dini. Para siswa diberikan pemahaman bahwa menabung tidak harus dimulai dari nominal yang besar.
Menyisihkan sebagian kecil uang saku secara rutin dinilai dapat melatih kedisiplinan sekaligus membangun kebiasaan finansial yang positif. Kebiasaan tersebut juga membantu anak memahami pentingnya perencanaan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Sebagai bentuk dukungan agar materi dapat langsung dipraktikkan, mahasiswa Universitas Pamulang membagikan celengan kepada para siswa. Melalui media tersebut, siswa didorong untuk mulai menyisihkan uang saku mereka dengan target tabungan sebesar Rp2.000 setiap hari.
Pemberian celengan tidak hanya menjadi simbol ajakan untuk menabung, tetapi juga sarana sederhana yang dapat membantu siswa membangun kebiasaan menyimpan uang secara konsisten.
Mahasiswa berharap langkah kecil tersebut dapat menjadi awal terbentuknya perilaku keuangan yang lebih baik di kalangan anak-anak. Dengan menabung secara rutin, siswa tidak hanya belajar mengumpulkan uang, tetapi juga belajar mengatur prioritas, melatih kesabaran, dan memahami nilai dari sebuah proses.
Kesuksesan pelaksanaan kegiatan ini tidak terlepas dari kolaborasi seluruh anggota tim PKM Universitas Pamulang. Setiap anggota berkontribusi dalam penyusunan materi, pendampingan siswa, dokumentasi, hingga pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Kerja sama yang terbangun memungkinkan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan mendapatkan respons positif dari pihak sekolah maupun para peserta. Antusiasme siswa selama mengikuti kegiatan menjadi indikator bahwa edukasi mengenai pengelolaan uang saku memiliki relevansi yang tinggi dan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak sekolah dasar.

Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, mahasiswa Universitas Pamulang berharap para siswa tidak hanya memahami konsep keuangan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan sederhana seperti menabung, menentukan prioritas kebutuhan, serta berpikir sebelum melakukan pembelian diharapkan dapat menjadi fondasi dalam membentuk perilaku keuangan yang sehat.
Sebab, karakter finansial yang baik tidak terbentuk secara instan. Kebiasaan tersebut tumbuh melalui proses panjang yang dimulai dari langkah-langkah kecil sejak usia dini. Dengan pemahaman yang tepat mengenai pengelolaan uang saku, para siswa diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan cerdas dalam mengambil keputusan keuangan di masa depan.





