Sumber daya perusahaan mencakup seluruh faktor yang dimiliki perusahaan, baik yang bersifat berwujud (tangible assets) seperti mesin dan teknologi, maupun yang tidak berwujud (intangible assets) yaitu modal utama manusia atau human capital. Human capital menjadi salah satu komponen utama yang sangat esensial dari aset tidak berwujud yang dimiliki perusahaan. Namun, selama ini penilaian kinerja perusahaan cenderung lebih banyak berfokus pada pemanfaatan aset berwujud (Diana Hasan, 2017).
Human capital tidak memandang manusia semata-mata sebagai alat produksi layaknya mesin. Sebaliknya, secara filosofis jika ditinjau melalui pendekatan teori humanisme konsep ini menempatkan manusia sebagai modal strategis yang berperan penting dalam mendukung pengambilan keputusan serta membangun kualitas sumber daya manusia untuk meningkatkan mutu organisasi.
Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan pengembangan sumber daya manusia secara berkelanjutan agar mampu menghadapi tantangan dan mencapai visi serta misinya. Menurut Larkan (2008), kesadaran akan pentingnya pengelolaan SDM di era modern semakin meningkat. Perusahaan kini memahami bahwa kinerja organisasi tidak hanya ditentukan oleh modal finansial, teknologi, atau aset tetap lainnya, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh modal tidak berwujud, yaitu SDM. Inilah yang menjadi landasan lahirnya konsep human capital.
Human capital management muncul sebagai pengembangan dari konsep human resource management, dengan perbedaan mendasar pada filosofinya. Human Resources memandang manusia sebagai sumber daya yang dapat habis jika dieksploitasi berlebihan, sehingga pengelolaannya sering dianggap sebagai biaya yang harus ditekan. Sementara itu, Human Capital memandang manusia sebagai modal utama yang memiliki nilai tak terhingga mencakup pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan kecerdasan sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan nilai perusahaan jika dikelola dengan baik (Diana Hasan, 2017).
Di Indonesia, tren perubahan nama divisi dari “Human Resource Management” menjadi “Human Capital Management” mulai banyak diterapkan oleh berbagai perusahaan. Namun, perlu dipastikan bahwa perubahan ini tidak hanya sebatas pergantian istilah, melainkan diikuti dengan pemahaman yang mendalam dan penerapan strategi yang sesuai dengan filosofis human capital.
Sekelumit Tentang Human Capital
Pengertian Human capital secara harfiah adalah dapat diartikan sebagai modal manusia. Namun jika dideskripsikan lebih lanjut, modal manusia ini merupakan sekumpulan aspek pengetahuan, keahlian, kemampuan, hingga keterampilan yang mana menjadikan seorang manusia sebagai aset di dalam perusahaan. Human capital (Thahrim & Pinoa, 2019) dalam Armstrong (2006) mendefinisikan sebagai “Persediaan dari kumpulan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kreativitas dan atribut pekerja lainnya” dan berpendapat bahwa human capital juga mencakup “memberi nilai pada setiap atribut ini serta menggunakan pengetahuan secara efektif untuk mengelola organisasi”.
Sehingga Human Capital dapat dipahami sebagai sumber daya manusia yang dipinjamkan kepada perusahaan melalui kapabilitas individu, termasuk komitmen, pengetahuan, serta pengalaman pribadi. Selain aspek individu, konsep ini juga mencakup kerja tim yang terjalin melalui hubungan interpersonal baik di dalam maupun di luar organisasi (Stewart, 1997). Menurut Malhotra dan Bontis (Rachmawati & Wulani, 2004), human capital merupakan kombinasi dari berbagai elemen seperti pengetahuan, keterampilan, inovasi, dan kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya. Elemen-elemen ini berkontribusi pada penciptaan nilai yang bertujuan untuk mencapai keberlanjutan pendapatan (sustainable revenue) perusahaan di masa depan.
Keberadaan human capital dalam suatu organisasi memberikan nilai tambah melalui berbagai aspek seperti motivasi, komitmen, kompetensi, serta efektivitas kerja tim. Nilai tambah ini tercermin dalam pengembangan kompetensi perusahaan, alih pengetahuan dari individu ke organisasi, serta transformasi budaya manajemen (Rachmawati et al., 2004). Andrew Mayo (2008) mendefinisikan human capital sebagai kombinasi dari faktor genetik, pendidikan, pengalaman, serta cara pandang seseorang terhadap kehidupan dan dunia bisnis. Berdasarkan berbagai perspektif tersebut, human capital dapat disimpulkan sebagai keseluruhan aspek manusia yang mencakup keterampilan, pengalaman, dan perilaku yang dapat memberikan nilai strategis bagi organisasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Konsep Utama Human Capital
Human capital lahir dari perubahan pandangan terhadap peran sumber daya manusia dalam organisasi, yang awalnya dianggap sebagai beban biaya, kini dipandang sebagai aset strategis yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan (Iwan Sukoco & Dea Prameswari, 2017). Konsep ini menyoroti bahwa karyawan tidak hanya sekadar tenaga kerja, tetapi juga merupakan sumber daya yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi keunggulan kompetitif perusahaan atau organisasi.
Menurut Chatzkel human capital adalah elemen pembeda utama dalam menentukan keunggulan kompetitif sebuah organisasi. Karyawan memiliki keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang bisa “disewakan” kepada perusahaan, sebagaimana dijelaskan oleh Ehrenberg dan Smith. Dengan kata lain, organisasi tidak hanya memanfaatkan tenaga karyawan, tetapi juga memperoleh nilai dari kapasitas intelektual dan potensi yang dimiliki setiap individu (Rio Nardo, 2022).
Larkan (2008) menambahkan bahwa di abad ke-21, kesadaran akan pentingnya pengelolaan SDM semakin meningkat. Perusahaan kini memahami bahwa performa bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh modal finansial, mesin, atau teknologi, melainkan sangat dipengaruhi oleh modal tidak berwujud, yaitu sumber daya manusia. Human capital menjadi faktor krusial yang mampu mendorong inovasi, produktivitas, dan daya saing jangka panjang.
Scarborough & Elias (2009) menyoroti bahwa konsep human capital berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan praktik manajemen SDM dengan kinerja bisnis. Mereka menjelaskan bahwa human capital bersifat dinamis dan kontekstual, sehingga sulit untuk dievaluasi secara pasti. Faktor penting dalam human capital meliputi keluwesan dan kreativitas individu, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta kemauan untuk terus mengembangkan keterampilan sepanjang hayat. Ini menjadi pembeda utama dibandingkan dengan physical capital, yang merujuk pada aset fisik seperti pabrik dan peralatan.
Lebih jauh, manusia sebagai pelaku bisnis memegang peranan utama dalam meningkatkan produktivitas. Mereka dituntut untuk memiliki etos kerja yang tinggi, keterampilan yang relevan, kreativitas, disiplin, profesionalisme, serta kemampuan memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai teknologi serta manajemen. Keberhasilan suatu organisasi sangat bergantung pada bagaimana individu di dalamnya mampu memaksimalkan potensi diri dan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan bersama.
Priyono dan Marnis berpendapat secara keseluruhan, human capital menempatkan manusia sebagai inti dari keberhasilan organisasi. Investasi dalam pengembangan SDM tidak hanya berdampak pada peningkatan kompetensi individu, tetapi juga memperkuat daya saing organisasi dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang (Priyono & Marnis, 2008)
Dalam buku ROI of Human Capital Jac Fitz- enZ (2009) mengungkapkan dorongan untuk mengukur human capital ini merefleksikan perubahan peran manajemen sumber daya manusia dari peran administratif menjadi partner bisnis yang strategis. Lebih lanjut dikatakan orang semakin menyadari bahwa sumber keunggulan bersaing bukan berasal dari desain produk atau layanan yang canggih, strategi pemasaran yang terbaik, desain teknologi, atau manajemen keuangan yang paling cerdas, tetapi berasal dari adanya sistem yang tepat, aktivitas memotivasi, dan mengelola organisasi sumber daya manusia. Konsep human capital muncul karena adanya pergeseran peranan sumber daya manusia. Human capital muncul dari pemikiran bahwa manusia merupakan intangible asset yang memiliki banyak kelebihan yaitu:
- Kemampuan manusia apabila digunakan dan disebarkan tidak akan berkurang melainkan bertambah baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi organisasi
- Manusia mampu mengubah data menjadi informasi yang bermakna
- Manusia mampu berbagi intelegensia dengan pihak lain.
Derek Stokey (2003) mengemukakan beberapa argumentasi, mengapa saat ini human capital sangat diperlukan keberadaannya di sebuah perusahaan atau organisasi.
- Persaingan dalam dunia bisnis semakin ketat, baik dari segi keuntungan finansial maupun non-finansial, mendorong perusahaan untuk terus berinovasi dan meningkatkan keunggulan mereka.
- Para pemimpin di bidang bisnis dan politik mulai menyadari bahwa memiliki tenaga kerja yang terampil dan termotivasi tinggi dapat menjadi faktor pembeda yang signifikan dalam mendorong peningkatan kinerja perusahaan.
- Perkembangan teknologi yang pesat membuat inovasi menjadi tidak bertahan lama, karena pesaing dapat dengan cepat mengadopsi teknologi yang sama. Oleh karena itu, tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan kemampuan unggul sangat dibutuhkan untuk mendukung proses adaptasi dan implementasi perubahan.
- Agar dapat bertumbuh dan beradaptasi dengan perubahan, kepemimpinan organisasi perlu mengakui nilai serta kontribusi yang diberikan oleh setiap individu dalam mendukung pencapaian tujuan perusahaan.
Sehingga dapat terlihat konsep utama dari human capital adalah bahwa manusia bukan sekedar sumber daya namun merupakan modal (capital) yang menghasilkan pengembalian (return) dan setiap pengeluaran yang dilakukan dalam rangka mengembangkan kualitas dan kuantitas modal tersebut merupakan kegiatan investasi.
Human Capital dalam Pendekatan Filosofis
Secara historis, konsep ini mulai berkembang pada abad ke-18 melalui pemikiran filosof Adam Smith dalam karyanya “The Wealth of Nations” (1776), di mana ia menyoroti pentingnya investasi dalam pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas individu. Adam Smith berpendapat bahwa pengembangan keterampilan individu adalah bentuk investasi jangka panjang yang mampu menghasilkan keuntungan bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan. Pada abad ke-20, pemikiran tentang human capital semakin diperkuat oleh teori-teori dari Gary Becker dan Theodore Schultz. Becker (1964) dalam bukunya “Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education” menekankan bahwa pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja adalah bentuk investasi yang menghasilkan pengembalian ekonomi, baik untuk perkembangan dan
pertumbuhan individu maupun institusi. Bersamaan dengan itu Schultz (1961) juga menyoroti pentingnya investasi dalam manusia sebagai faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi.
Perspektif filosofis tentang human capital memberikan pemahaman bernuansa yang melampaui sekadar kalkulasi ekonomi tentang produktivitas dan laba atas investasi. Khususnya, pernyataan Francis Bacon bahwa “knowledge is power” menekankan kapasitas unik yang dibawa individu ke organisasi, memposisikan mereka sebagai aset vital, bukan sekadar karyawan. Hal ini sejalan dengan pandangan modern tentang pekerja yang semakin menyadari peran integral mereka dalam keberhasilan organisasi, menyumbangkan ide-ide inovatif yang mendorong kemajuan. Lebih jauh, melalui pendekatan filosofis terhadap human capital menyoroti perlunya menyeimbangkan tuntutan organisasi dengan aspirasi individu, karena keduanya penting untuk manajemen sumber daya manusia yang efektif.
Keseimbangan ini mengakui bahwa karyawan bukan sekadar sumber daya yang akan digunakan untuk produksi sehingga dieksploitasi, tetapi kontributor berharga dengan value, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan unik yang dapat membedakan perusahaan di pasar yang kompetitif. Misalnya, perspektif Aristoteles tentang manusia sebagai makhluk rasional menggarisbawahi kemampuan unik yang ditawarkan individu, meningkatkan nilai mereka sebagai modal manusia.
Sebaliknya, konsepsi tradisional tentang sumber daya manusia cenderung mereduksi individu menjadi sekadar faktor produksi, yang membatasi nilai yang mereka rasakan dan mengabaikan dimensi manusia mereka yang kompleks. Seiring dengan perkembangan masyarakat, maka konsepsi human capital pun harus berkembang, karena manusia adalah makhluk yang sangat kompleks terdiri dari dimensi intelektual dan dimensi spiritual.
Sehingga human capital menggarisbawahi bahwa value added manusia terletak pada sifatnya yang multifaset, yang menekankan pentingnya pengembangan potensi dan kompetensi individu untuk mencapai tujuan organisasi dengan cara yang bermakna dan berkelanjutan (Muhammad Zakiy & Arqom Kuswanjoyo, 2023).
Kesimpulan
Pemahaman filosofis tentang human capital membawa perspektif baru dalam manajemen organisasi dalam sebuah perusahaan, di mana manusia tidak hanya dipandang sebagai sumber daya yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan pasar tetapi sebagai modal utama aset strategis yang memiliki nilai intrinsik dan potensi untuk berkembang. Pendekatan ini menekankan bahwa investasi dalam pengembangan manusia akan memberikan manfaat jangka panjang bagi individu, organisasi, dan masyarakat secara luas. Dengan demikian, implementasi konsep human capital yang berbasis pada pemahaman filosofis dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kesejahteraan manusia secara holistik dan menyeluruh.
Daftar Pustaka
- Edy, Sutrisno. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Prenada Media Group
- Fitz-enz, J. 2000. The ROI of Human Capital: Measuring the Economic Value Added of Employee Performance. New York: American Management Association.
- Hasan, Diana. et.al. 2017. Literasi Dan Human Capital. Yogyakarta: Samudra Biru.
- Larkan, K. 2008. The Talent War: Mendapatkan Dan Mempertahankan Orang Orang Terbaik Organisasi. Jakarta: PPM Manajemen.
- Nardo, Rio. et.al. 2022. Human Capital Management. Bandung: CV Media Sains Indonesia. Priyono & Marnis. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Sidoarjo: Zifatama Publisher.
- Rachmawati, D., F. Wulani, & C. E. Susilowati. 2004. “Intellectual Capital dan Kinerja Bisnis: Studi Empiris pada Industri di Indonesia”, Seminar Internasional Management and Research Conference, FE-Universitas Indonesia, Agustus: 1-21.
- Schultz, T. W. 1961. Investment in Human Capital: A Theoretical Analysis. The American Economic Review, 51(1), 1-17.
- Sukoco, Iwan & Dea Prameswari. 2017. Human Capital Approach To Increasing Productivity Of Human Resources Management. Jurnal Administrasi Bisnispreneur, 2, (1), 93-104.
- Zakiy, Muhammad & Arqom Kuswanjono. 2023. Human Resources vs Human Capital: A Philosophical Review of Human Conception in the Industrial World. Journal Human Resource Management, (5), 1130-1142.





