Di kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat lepas dari hubungan dengan orang lain. Kita berkomunikasi dengan teman, dosen, keluarga, rekan kerja, komunitas, hingga orang-orang baru yang ditemui dalam berbagai kegiatan. Dari interaksi tersebut, terbentuk jaringan atau networking.
Networking kerap dipahami sebatas aktivitas menambah teman atau koneksi. Padahal, maknanya jauh lebih luas. Networking merupakan proses membangun, mengembangkan, dan mempertahankan hubungan dengan orang lain yang dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Bagi mahasiswa, kemampuan membangun networking semakin penting karena lingkungan kampus menyediakan ruang yang luas untuk bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Jaringan dapat dibangun melalui teman satu kelas, organisasi mahasiswa, dosen, alumni, komunitas, seminar, hingga interaksi dengan kalangan profesional.
Secara sederhana, building networking berarti proses membangun hubungan dengan orang lain secara sadar dan berkelanjutan. Namun, ukuran keberhasilannya bukan terletak pada seberapa banyak orang yang dikenal, melainkan seberapa baik hubungan tersebut dibangun dan dipelihara.
Seorang mahasiswa, misalnya, bertemu dengan seorang profesional dalam seminar kampus dan kemudian bertukar kontak. Hubungan itu pada awalnya baru sebatas koneksi. Jika komunikasi terus dijaga, diskusi dilakukan secara berkala, perkembangan profesional tersebut diikuti, dan informasi relevan saling dibagikan, hubungan itu berpeluang berkembang menjadi networking yang lebih kuat.
Karena itu, networking membutuhkan komunikasi, kepercayaan, konsistensi, dan hubungan yang memberikan manfaat secara timbal balik.
Komunikasi Menjadi Dasar Networking
Networking tidak dapat dipisahkan dari komunikasi interpersonal. Hubungan dengan orang lain tidak mungkin dibangun tanpa komunikasi yang baik.
Penelitian Syattar dan Destiani terhadap mahasiswa IUQI Bogor menemukan bahwa komunikasi interpersonal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap relasi sosial mahasiswa. Artinya, semakin baik kemampuan komunikasi interpersonal seseorang, semakin besar peluang terbentuknya relasi sosial yang positif.
Temuan tersebut sejalan dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang yang mampu mendengarkan, memberikan respons yang tepat, menghargai pendapat, dan menunjukkan sikap terbuka cenderung lebih mudah membuat orang lain nyaman berinteraksi.
Membangun networking, karena itu, tidak selalu membutuhkan kemampuan berbicara yang luar biasa. Kesediaan untuk mendengarkan, bertanya dengan sopan, menghargai lawan bicara, dan memberikan respons yang baik sudah menjadi modal awal.
Kampus sebagai Ruang Membangun Relasi
Kampus merupakan salah satu ruang strategis untuk mulai membangun networking. Mahasiswa dapat bertemu dengan banyak orang melalui kegiatan akademik maupun nonakademik, seperti organisasi, seminar, lomba, kepanitiaan, komunitas, kegiatan sosial, dan proyek bersama.
Penelitian terhadap mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University menemukan bahwa mahasiswa cenderung memulai komunikasi melalui topik akademik, identitas diri, dan aktivitas bersama. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa gaya komunikasi yang santai, terbuka, dan adaptif dapat membantu mahasiswa membangun relasi sosial.
Networking tidak harus diawali percakapan yang serius. Obrolan mengenai kuliah, kegiatan kampus, hobi, atau pengalaman sehari-hari dapat menjadi pintu masuk menuju hubungan yang lebih luas.
Dalam sebuah seminar, misalnya, percakapan dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana, “Menurut kamu, materi tadi bagaimana?” Dari obrolan tersebut mungkin muncul kesamaan minat yang kemudian berkembang menjadi diskusi, kolaborasi, atau hubungan yang lebih berkelanjutan.
Keterbukaan dalam Membangun Relasi
Selain komunikasi, keterbukaan diri juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan. Penelitian terhadap mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Telkom mengenai keterbukaan diri dan hubungan relasional menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan orang lain. Tingkat keterbukaan diri juga berkaitan dengan hubungan relasional yang dibangun.
Dalam networking, keterbukaan tidak berarti seseorang harus menceritakan seluruh persoalan pribadinya. Keterbukaan lebih tepat dimaknai sebagai kesediaan berbagi informasi yang relevan agar orang lain dapat mengenal diri dan minat kita dengan lebih baik.
Ketika berkenalan dengan seseorang dari bidang yang sama, misalnya, kita dapat memperkenalkan jurusan, pengalaman organisasi, bidang yang diminati, atau proyek yang sedang dikerjakan. Informasi tersebut dapat membantu orang lain memahami kompetensi dan minat kita. Dari sana, peluang kolaborasi pun dapat terbuka.
Kemampuan Beradaptasi Juga Penting
Setiap orang memiliki karakter dan gaya komunikasi yang berbeda. Networking karena itu membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan lawan bicara dan situasi.
Hal tersebut dapat dikaitkan dengan Teori Akomodasi Komunikasi, yang menjelaskan bagaimana seseorang menyesuaikan cara berkomunikasi ketika berinteraksi dengan orang lain.
Penelitian Deswita dan Loisa terhadap mahasiswa menunjukkan bahwa strategi akomodasi komunikasi dapat digunakan dalam membangun relasi, terutama ketika mahasiswa berhadapan dengan perbedaan budaya dan latar belakang. Proses komunikasi dapat melibatkan penyesuaian terhadap cara berinteraksi agar hubungan berjalan lebih efektif.
Dalam kehidupan sehari-hari, cara berbicara dengan dosen tentu berbeda dengan cara berbicara dengan teman sebaya. Begitu pula ketika berkomunikasi dengan seorang profesional dalam acara formal. Bahasa, sikap, dan cara menyampaikan gagasan perlu disesuaikan.
Beradaptasi bukan berarti mengubah kepribadian. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca situasi dan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan orang yang dihadapi.
Networking di Era Digital
Perkembangan teknologi membuat networking semakin mudah dilakukan. Melalui berbagai platform digital, seseorang dapat mengenal dan berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus selalu bertemu secara langsung.
Media sosial dapat membantu memperluas jaringan sosial. Penelitian mengenai mahasiswa FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya menunjukkan bahwa media sosial berperan dalam mempercepat komunikasi, meningkatkan hubungan antarmahasiswa, dan memperluas jaringan sosial. Namun, penelitian tersebut juga menemukan sejumlah kekurangan komunikasi digital, antara lain potensi kesalahpahaman dan berkurangnya kualitas interaksi tatap muka.
Media sosial, dengan begitu, dapat menjadi jembatan, tetapi bukan satu-satunya tempat untuk membangun hubungan. Koneksi digital akan lebih bermakna jika dilanjutkan melalui komunikasi personal, diskusi, pertemuan langsung, atau kegiatan bersama.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa untuk membangun networking.
Pertama, berani memulai percakapan. Jangan selalu menunggu orang lain menyapa. Percakapan tidak harus langsung membahas pekerjaan atau bisnis. Obrolan sederhana sudah cukup menjadi pintu masuk.
Kedua, menjadi pendengar yang baik. Networking bukan sekadar kemampuan memperkenalkan diri. Ketika seseorang menceritakan pengalaman atau pekerjaannya, berikan perhatian dan respons yang sesuai.
Ketiga, mencari kesamaan. Hobi, daerah asal, bidang studi, pengalaman, atau ketertarikan pada industri tertentu dapat menjadi jembatan yang membuat percakapan lebih natural.
Keempat, jangan menjadikan networking sebagai aktivitas untuk mencari keuntungan semata. Hubungan yang sehat bersifat dua arah. Memberikan informasi, membantu pekerjaan, memperkenalkan koneksi lain, atau sekadar memberikan dukungan juga merupakan bentuk kontribusi.
Kelima, menjaga hubungan secara konsisten. Setelah memperoleh koneksi, jangan langsung menghilang. Menyapa kembali, mengucapkan selamat atas pencapaian seseorang, berbagi informasi yang relevan, atau berinteraksi melalui media sosial merupakan langkah sederhana untuk menjaga hubungan.
Keenam, memanfaatkan organisasi dan komunitas. Penelitian dari Universitas Islam Indonesia mengenai organisasi mahasiswa menunjukkan bahwa organisasi dapat berperan dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal. Kegiatan organisasi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi, bekerja sama, dan mengembangkan kemampuan komunikasi.
Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik. Organisasi dan komunitas juga dapat menjadi ruang belajar sekaligus investasi bagi pengembangan diri.
Networking dan Dunia Profesional
Networking memiliki hubungan erat dengan persiapan memasuki dunia kerja. Mahasiswa dengan jaringan yang luas dan berkualitas berpeluang memperoleh informasi mengenai perkembangan industri, seminar profesional, magang, proyek, hingga lowongan pekerjaan.
Namun, networking tidak boleh dipandang sebagai jalan pintas memperoleh pekerjaan. Kompetensi tetap menjadi modal utama. Networking berfungsi memperkenalkan diri, menunjukkan kemampuan, mendapatkan informasi, dan membuka kesempatan.
Seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan desain, misalnya, tidak cukup hanya menyimpan kemampuan itu untuk dirinya sendiri. Ketika aktif dalam organisasi, mengikuti proyek, membangun portofolio, dan berinteraksi dengan orang-orang dari industri kreatif, peluang orang lain mengetahui kemampuannya menjadi lebih besar.
Kompetensi membuat seseorang memiliki nilai, sedangkan networking membantu mempertemukan nilai tersebut dengan kesempatan yang tepat.
Tantangan Membangun Networking
Membangun networking tidak selalu mudah. Salah satu hambatan yang sering muncul adalah rasa tidak percaya diri ketika harus berbicara dengan orang baru. Ada mahasiswa yang takut salah bicara, merasa malu, atau menganggap dirinya tidak cukup menarik untuk diajak berkomunikasi.
Padahal, networking tidak membutuhkan percakapan yang sempurna. Yang lebih penting adalah keberanian memulai dan kemampuan menjaga komunikasi.
Tantangan lain muncul dari komunikasi digital. Media sosial memang memungkinkan seseorang memperoleh banyak koneksi dalam waktu singkat, tetapi jumlah koneksi tidak selalu menunjukkan kualitas hubungan.
Perlu dibedakan antara memiliki banyak koneksi dan memiliki networking yang kuat. Networking yang berkualitas membutuhkan interaksi, kepercayaan, dan konsistensi.
Networking sebagai Investasi Jangka Panjang
Networking sebaiknya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan aktivitas untuk memperoleh keuntungan secara instan.
Orang yang dikenal hari ini mungkin belum memberikan manfaat langsung. Namun, beberapa tahun kemudian, hubungan tersebut dapat berkembang menjadi kerja sama, peluang pekerjaan, mitra bisnis, mentor, atau bahkan teman yang hadir ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, membangun networking bukan semata-mata tentang siapa yang dapat memberikan keuntungan kepada kita. Lebih jauh, networking adalah proses membangun hubungan yang sehat, saling menghargai, dan memberikan ruang bagi kedua pihak untuk berkembang.
Relasi yang dirawat dengan baik dapat membuka kesempatan yang tidak selalu dapat direncanakan sejak awal. Di tengah dunia pendidikan dan pekerjaan yang semakin terhubung, kemampuan membangun serta mempertahankan hubungan menjadi bagian penting dari pengembangan diri.
Networking yang baik bukan tentang seberapa panjang daftar kontak yang dimiliki, melainkan seberapa bermakna hubungan yang mampu dipertahankan.





