Tangerang, Krajan.id – Bagi Wawah Sri Sunenti, selempang Putri Budaya Banten Persahabatan 2026 bukan sekadar penghargaan yang dibawa pulang dari sebuah ajang. Gelar tersebut ia maknai sebagai ruang baru untuk belajar, membangun relasi, sekaligus semakin dekat dengan budaya daerah tempat dirinya lahir dan tumbuh.
Wawah mengikuti Putra Putri Budaya Banten 2026 karena merasa masih banyak hal tentang Banten yang perlu dipelajari langsung oleh generasi muda. Selama menjalani proses sebagai finalis, ia bertemu dengan peserta dari berbagai daerah, mengikuti pembekalan, dan mengenal beragam cara untuk memperkenalkan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.
“Bagi saya, gelar persahabatan justru punya makna yang dalam. Budaya tidak hanya hidup di panggung, tetapi juga dalam cara kita membangun hubungan, menghargai orang lain, dan mau belajar dari perbedaan. Saya ingin menjadikan pengalaman ini sebagai awal untuk lebih mengenal Banten dan ikut memperkenalkannya dengan cara yang relevan bagi generasi saya,” ujar Wawah.
Perjalanan Pendidikan Dimulai dari Kegagalan dan Keterbatasan
Jauh sebelum berdiri sebagai finalis Putra Putri Budaya Banten, perjalanan Wawah dimulai dari pengalaman yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Setelah lulus SMA, ia menjalani gap year selama satu tahun karena belum berhasil masuk Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi negeri.
Kondisi ekonomi keluarga saat itu juga membuat kuliah dengan biaya mandiri menjadi pilihan yang sulit. Karena itu, pada 2021 Wawah kembali mencoba berbagai jalur sekaligus: seleksi perguruan tinggi negeri, seleksi pendidikan perawat Kementerian Kesehatan, hingga lebih dari lima seleksi kampus swasta yang dapat ditempuh melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah).
Kesempatan akhirnya datang dari Politeknik LP3I Kampus Utama Bandung. Wawah diterima di Program Studi D3 Manajemen Informatika melalui KIP Kuliah, sehingga biaya pendidikan dan bantuan biaya hidup dapat mendukungnya sampai menyelesaikan studi pada 2024. Ia lulus dengan IPK 3,75.
Bagi Wawah, bantuan pendidikan tersebut bukan hanya jalan untuk masuk perguruan tinggi, tetapi juga kesempatan untuk membangun fondasi hidup. Di kampus ia aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa, himpunan mahasiswa, serta kegiatan kerohanian Islam. Aktivitas organisasi itu memperluas pengalaman yang tidak diperolehnya hanya dari ruang kelas.
Mengabdi Bersama PMI dan Mengambil Risiko untuk Terus Belajar
Pada akhir 2021, Wawah mengikuti seleksi Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Kabupaten Tangerang. Ia dinyatakan lolos, dilantik dalam rangkaian kegiatan yang dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang, dan tetap aktif sebagai relawan hingga kini.
Setahun kemudian, ketika masih menjalani pendidikan D3 di Bandung, Wawah kembali mengambil keputusan yang tidak ringan. Ia mendaftarkan diri pada program double degree Universitas STEKOM dan STIE STEKOM Kartasura di bidang Manajemen dan Bisnis. Sebagian bantuan biaya hidup yang ia terima digunakan untuk membiayai pendidikan tambahan tersebut.
Keputusan itu membuat ruang finansialnya semakin sempit. Di satu sisi ia harus memenuhi kebutuhan hidup di Bandung, sementara di sisi lain ia memilih mengalokasikan sebagian uang yang dimiliki untuk pendidikan. Situasi tersebut dijalani bersamaan dengan aktivitas kampus, organisasi, dan pengabdian sebagai relawan.
“Saya pernah berada di masa ketika hampir semua pilihan terasa berat. Tetapi saya selalu kembali pada satu pertanyaan: kalau kesempatan belajar ada sekarang, apakah saya berani mengambilnya? Dari sana saya belajar mengatur prioritas dan menerima konsekuensi dari keputusan yang saya pilih,” katanya.
Belajar Mandarin, Bekerja Sebelum Wisuda, dan Menemukan Dunia Digital
Memasuki 2024, ketika sebagian mahasiswa tingkat akhir sibuk menyelesaikan tugas akhir, Wawah memilih meluangkan sekitar dua bulan untuk belajar bahasa Mandarin di Papar, Jawa Timur. Tujuannya sederhana: menambah kemampuan agar lebih siap masuk dunia kerja bahkan sebelum resmi lulus.
Ia sempat berharap dapat menggunakan bahasa Mandarin dalam sidang tugas akhir. Rencana itu tidak dapat diterapkan, sehingga Wawah memilih menggunakan bahasa Inggris. Pada saat bersamaan, bantuan biaya hidup terakhir yang dimilikinya telah dialokasikan untuk pendidikan lain, sementara biaya sidang dan wisuda masih harus dipenuhi.
Kondisi tersebut mendorongnya untuk mencari pekerjaan sebelum sidang. Upaya itu membawanya diterima bekerja di DCLIQ, agensi digital yang beroperasi di kawasan BSD dan Gading Serpong. Ia kemudian menjalani sidang pada Oktober 2024 dan wisuda pada Desember 2024 sambil tetap bekerja.
Pengalaman profesionalnya kemudian terus berkembang di bidang digital marketing, pengelolaan website, dan search engine optimization (SEO). Rekam perjalanan profesional tersebut juga ia rangkum melalui profil LinkedIn Wawah Sri Sunenti, yang menjadi salah satu kanal untuk mendokumentasikan pengalaman kerja dan pengembangan kompetensinya.
Shoekoerin.id sebagai Ruang Belajar Bisnis dari Tangerang
Dari pengalaman di dunia digital, Wawah mulai mempelajari bagaimana keterampilan pemasaran, SEO, komunikasi pelanggan, dan pengelolaan website dapat diterapkan pada usaha sendiri. Proses tersebut kemudian berkembang menjadi Shoekoerin.id, brand jasa perawatan dan cuci sepatu yang berbasis di Tangerang dan melayani masyarakat Tangerang Raya.
Shoekoerin.id dikembangkan dengan pendekatan yang mengutamakan kemudahan pelanggan, termasuk layanan pickup dan delivery. Bagi Wawah, brand tersebut bukan semata-mata simbol keberhasilan bisnis, melainkan laboratorium kecil untuk belajar langsung mengenai operasional, pelayanan, pemasaran, dan kepercayaan pelanggan.
Pengalaman membangun usaha lokal juga memperkuat pandangannya bahwa anak muda dapat berkarya dari daerahnya sendiri. Teknologi tidak harus membuat generasi muda menjauh dari identitas lokal; justru keterampilan digital dapat dipakai untuk memperkuat usaha, komunitas, hingga promosi budaya di daerah.
Membawa Keterampilan Digital ke Ruang Budaya
Pandangan itulah yang ingin dibawa Wawah setelah meraih gelar Putri Budaya Banten Persahabatan 2026. Menurutnya, promosi budaya kepada generasi muda membutuhkan bahasa dan media yang dekat dengan keseharian mereka. Website, media sosial, video pendek, maupun cerita personal dapat menjadi pintu masuk agar budaya terasa relevan tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Wawah juga aktif membagikan bagian dari perjalanan dan kegiatannya melalui Instagram @hi.wawah. Ia melihat media sosial bukan hanya tempat menampilkan pencapaian, tetapi juga ruang untuk mempertemukan cerita pendidikan, aktivitas sosial, dunia profesional, kewirausahaan, dan budaya.
Di bidang akademik, tahun 2026 menjadi fase lain yang sedang ia selesaikan. Setelah meraih gelar D3
Manajemen Informatika, Wawah tengah mempersiapkan tahapan akhir program double degree di bidang Manajemen dan Bisnis dengan IPK 3,87. Ia juga telah menulis empat artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal terindeks Sinta 4 dan Sinta 5.
Meski demikian, ia tidak ingin perjalanan tersebut dibaca hanya sebagai deretan gelar atau pencapaian. Bagi Wawah, nilai terpenting justru terletak pada proses: pernah gagal, harus mencari jalur pendidikan alternatif, menjalani hidup dengan anggaran terbatas, bekerja sebelum wisuda, mengabdi sebagai relawan, membangun usaha, kemudian kembali belajar tentang budaya Banten.
Gelar Persahabatan sebagai Awal, Bukan Garis Akhir
Wawah berharap pengalaman mengikuti Putra Putri Budaya Banten tidak berhenti setelah malam penganugerahan. Gelar persahabatan yang diterimanya ingin ia jadikan pengingat bahwa karya dapat tumbuh dari kolaborasi dan hubungan yang sehat dengan banyak orang.
“Saya masih harus banyak belajar tentang Banten. Justru setelah mendapat gelar ini, saya merasa tanggung jawab untuk belajar menjadi lebih besar. Saya ingin anak muda melihat bahwa budaya tidak berdiri terpisah dari pendidikan, teknologi, bisnis, atau kehidupan sehari-hari. Semua bisa saling menguatkan kalau kita mau terlibat,” tutur Wawah.
Dari Tangerang, Wawah ingin terus membawa pengalaman yang ia miliki ke ruang yang lebih luas: tetap belajar, tetap mengabdi, membangun karya yang dekat dengan masyarakat, dan ikut menjaga agar cerita tentang Banten terus hidup di generasi berikutnya.





