Minggu pagi, pukul 05.30. Alarm berbunyi. Namun, sebelum kaki benar-benar turun dari tempat tidur, tangan lebih dulu bergerak membuka media sosial. Beranda dipenuhi foto teman yang sedang berlari di kawasan car free day, unggahan jarak tempuh lima kilometer, hingga sepatu lari baru dengan latar matahari terbit. Tak sedikit pula yang menyisipkan kalimat motivasional seperti, “5K done, what’s your excuse?”
Pemandangan seperti ini semakin akrab di kalangan generasi muda. Lari pagi kini tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga bagian dari gaya hidup urban yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Di berbagai kota, komunitas lari bermunculan hampir setiap pekan. Kawasan publik dipenuhi orang-orang dengan jersey olahraga, smartwatch, dan kebiasaan mengunggah hasil lari ke media sosial.
Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: apakah tren ini sepenuhnya lahir dari kesadaran hidup sehat, atau ada kebutuhan lain yang diam-diam ikut bergerak di baliknya?
Ketika Sepatu Lari Menjadi Simbol
Fenomena meningkatnya minat terhadap lari sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Aktivitas ini sudah lama dikenal sebagai olahraga murah, mudah dilakukan, dan minim risiko. Akan tetapi, intensitasnya mengalami peningkatan yang cukup drastis dalam lima tahun terakhir, terutama di kalangan mahasiswa dan anak muda perkotaan.
Aplikasi pencatat olahraga seperti Strava atau Nike Run Club semakin populer. Banyak orang tidak lagi sekadar berlari, tetapi juga mendokumentasikan pencapaiannya secara digital. Jarak tempuh, waktu tempuh, detak jantung, hingga elevasi lintasan menjadi data yang dibagikan dan dikonsumsi bersama.
Dalam situasi seperti ini, olahraga tidak hanya dipahami sebagai aktivitas fisik. Ia perlahan berubah menjadi simbol sosial.
Sepatu lari, misalnya, tidak lagi dipilih semata berdasarkan fungsi dan kenyamanan. Merek tertentu mulai memiliki nilai simbolik. Produk seperti Brooks atau Hoka sering kali diasosiasikan dengan keseriusan, prestise, bahkan status sosial tertentu di kalangan komunitas lari. Tidak sedikit orang yang merasa perlu memiliki perlengkapan tertentu agar dianggap “masuk” ke dalam ekosistem tersebut.
Dari sudut pandang antropologi, gejala ini dapat dibaca sebagai bagian dari konstruksi budaya. Perilaku manusia hampir tidak pernah berdiri sendiri. Pilihan-pilihan yang tampak personal sering kali dibentuk oleh lingkungan sosial, kebiasaan kolektif, dan nilai yang berkembang di sekitar seseorang.
Pemikiran sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, mengenai habitus menjadi relevan dalam konteks ini. Bourdieu menjelaskan bahwa kebiasaan hidup manusia terbentuk melalui proses internalisasi lingkungan sosial. Apa yang dianggap ideal, keren, sehat, atau sukses perlahan tertanam dalam cara seseorang berpikir dan bertindak.
Ketika lari pagi dilekatkan dengan citra disiplin, produktif, sehat, dan modern, muncul dorongan sosial untuk ikut terlibat. Orang tidak lagi berlari semata karena ingin sehat, tetapi juga karena ada kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu.
FOMO dan Panggung Media Sosial
Perkembangan tren lari tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial. Ruang digital kini bukan sekadar tempat berbagi aktivitas, melainkan arena pembentukan identitas.
Antropolog digital, Tom Boellstorff, pernah menyoroti bahwa dunia virtual telah menjadi ruang sosial yang sama nyatanya dengan kehidupan sehari-hari. Identitas manusia tidak hanya dibangun melalui interaksi fisik, tetapi juga melalui apa yang ditampilkan di layar.
Dalam konteks lari pagi, media sosial berfungsi layaknya panggung. Catatan kilometer, foto berkeringat setelah berlari, tangkapan layar aplikasi olahraga, hingga unggahan kopi pascalari menjadi bagian dari narasi personal yang ingin ditunjukkan kepada publik.
Tanpa disadari, aktivitas olahraga berubah menjadi representasi diri.
Pesan yang muncul pun cukup jelas: saya sehat, saya disiplin, saya produktif, dan saya bagian dari komunitas yang positif.
Di titik inilah fenomena FOMO (Fear of Missing Out) bekerja secara halus. Ketika seseorang terus-menerus melihat orang lain berlari, mengikuti komunitas sehat, atau membagikan pencapaian fisik mereka, muncul rasa tertinggal yang sulit dihindari.
Mereka yang tidak ikut berlari mulai merasa kurang produktif. Ada kecemasan sosial yang perlahan tumbuh: takut dianggap malas, tidak sehat, atau tidak mengikuti perkembangan gaya hidup masa kini.
Tekanan semacam ini sering kali hadir tanpa disadari. Tidak ada yang secara langsung memaksa seseorang untuk berlari. Namun, pengaruh lingkungan digital bekerja dengan cara yang jauh lebih subtil. Beranda media sosial perlahan membentuk standar baru tentang bagaimana seseorang “seharusnya” menjalani hidup sehat.
Akibatnya, keputusan untuk berlari tidak lagi sepenuhnya lahir dari kesadaran personal, tetapi juga sebagai respons atas ekspektasi sosial.
Dua Sisi yang Perlu Dilihat Secara Jernih
Meski demikian, tidak tepat jika fenomena ini hanya dipandang dari sisi negatifnya. Ada banyak dampak baik yang lahir dari meningkatnya tren olahraga di kalangan anak muda.
Dari perspektif kesehatan, meningkatnya minat terhadap lari jelas menjadi perkembangan yang menggembirakan. Semakin banyak generasi muda yang bergerak aktif, menjaga kebugaran, dan mulai sadar pentingnya kesehatan fisik maupun mental.
Lari pagi juga menawarkan ruang sosial yang inklusif. Banyak komunitas lari menjadi tempat bertemu lintas profesi, usia, dan latar belakang ekonomi. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat membangun relasi melalui aktivitas sederhana yang dilakukan bersama.
Tidak sedikit pula yang menemukan jaringan profesional, sahabat dekat, bahkan pasangan hidup dari komunitas olahraga.
Dalam perspektif antropologi, praktik kolektif seperti ini memiliki fungsi sosial yang kuat. Sejak lama manusia membentuk identitas dan solidaritas melalui aktivitas bersama. Dahulu mungkin berupa ritual budaya, kerja komunal, atau perayaan tradisional. Kini, bentuknya dapat berubah menjadi olahraga bersama pada pagi hari.
Akan tetapi, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan secara jujur.
Ketika motivasi utama berlari lebih banyak didorong oleh kebutuhan validasi sosial dibanding kesadaran menjaga kesehatan, muncul bentuk kelelahan yang berbeda. Bukan hanya kelelahan fisik setelah menempuh kilometer demi kilometer, melainkan kelelahan psikologis karena terus-menerus merasa harus tampil ideal.
Orang menjadi sibuk mengejar pengakuan. Olahraga berubah menjadi kompetisi citra. Bahkan, ada kecenderungan untuk merasa gagal hanya karena hasil lari tidak sebaik orang lain atau unggahannya tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.
Padahal, esensi olahraga sesungguhnya sangat sederhana: tubuh bergerak, pikiran lebih tenang, dan kesehatan terjaga.
Ketika terlalu sibuk mengejar pengakuan, orang bisa kehilangan pengalaman paling intim dari lari itu sendiri, seperti menikmati udara pagi, mendengar ritme napas, atau merasakan tubuh bekerja secara alami tanpa tekanan.
Di Antara Kebutuhan dan Eksistensi
Fenomena lari pagi hari ini berada di persimpangan antara dua kebutuhan yang sama-sama nyata: kebutuhan menjaga kesehatan fisik dan kebutuhan memperoleh pengakuan sosial.
Antropologi mengajarkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya digerakkan oleh satu faktor tunggal. Pilihan hidup hampir selalu merupakan hasil pertemuan antara kebutuhan biologis dan pengaruh sosial.
Makan bukan hanya soal rasa lapar, tetapi juga budaya. Pakaian bukan sekadar pelindung tubuh, melainkan simbol identitas. Begitu pula lari pagi. Aktivitas ini tidak semata olahraga, tetapi juga cara generasi muda membangun makna tentang dirinya di tengah masyarakat yang semakin visual dan kompetitif.
Karena itu, perdebatan mengenai apakah tren lari pagi baik atau buruk sesungguhnya tidak terlalu relevan. Jawabannya jelas: olahraga tetap membawa manfaat.
Yang lebih penting untuk ditanyakan adalah alasan di baliknya.
Apakah seseorang berlari demi tubuh yang lebih sehat, pikiran yang lebih tenang, dan rasa pencapaian personal? Ataukah semata agar terlihat produktif di media sosial dan tidak dianggap tertinggal dari lingkaran pergaulan?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya dapat menentukan bagaimana seseorang memaknai aktivitas yang dijalani setiap pagi.
Barangkali, lari yang paling penting bukan sekadar tentang siapa paling cepat mencapai garis akhir. Kadang, perjalanan yang lebih menantang justru terjadi ketika seseorang berusaha memahami dirinya sendiri: apa yang benar-benar dibutuhkan, dan siapa yang sebenarnya sedang ingin ia kejar.
Referensi
- Boellstorff, T. (2008). Coming of Age in Second Life: An Anthropologist Explores the Virtually Human. Princeton University Press.
- Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Harvard University Press.
- Bourdieu, P. (1990). The Logic of Practice. Stanford University Press.
- Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books.
- Jogiyanto, H. M. (2007). Sistem Informasi Keperilakuan. Andi Offset.
- Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
- Sugiyama, S. (2019). Smartphones as an Extension of the Self: The Role of Symbolic and Functional Affordances in the Smartphone–Self Relationship. Mobile Media & Communication, 7(2), 235–252.
- Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing.
- Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2019). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy—and Completely Unprepared for Adulthood. Atria Books.
- Warde, A. (2005). Consumption and theories of practice. Journal of Consumer Culture, 5(2), 131–153. https://doi.org/10.1177/1469540505053090





