Surabaya, Krajan.id – Ketahanan keluarga kerap menjadi fondasi yang menentukan kualitas kehidupan masyarakat. Namun, di balik berbagai indikator kesejahteraan, masih terdapat pertanyaan mendasar yang sering terabaikan: apakah keluarga-keluarga di sekitar kita benar-benar mendapatkan pendampingan, informasi, dan layanan yang mereka butuhkan untuk menjalani kehidupan yang sehat dan sejahtera?
Pertanyaan tersebut menjadi landasan lahirnya Satya Gatra, program layanan keluarga terpadu yang diinisiasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini hadir tidak hanya sebagai kegiatan penyuluhan, tetapi juga sebagai wadah yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan keluarga dalam satu sistem yang terintegrasi.
Satya Gatra menggabungkan layanan komunikasi, informasi, edukasi, konsultasi, hingga konseling keluarga dalam satu forum yang mudah diakses masyarakat. Nama Satya Gatra sendiri memiliki makna filosofis. Kata “satya” berarti setia atau sungguh-sungguh, sedangkan “gatra” berarti sendi atau pilar. Keduanya mencerminkan komitmen untuk memperkuat setiap sendi kehidupan keluarga Indonesia.

Melalui program ini, masyarakat dapat memperoleh berbagai layanan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, ketahanan keluarga, pembinaan remaja, hingga pemberdayaan lanjut usia. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga membuka ruang dialog agar masyarakat dapat menyampaikan kebutuhan serta persoalan yang dihadapi dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, Satya Gatra diselenggarakan di tingkat kecamatan dengan melibatkan berbagai unsur. Mulai dari Penyuluh Keluarga Berencana (PKB/PLKB), kader Tim Pendamping Keluarga (TPK), bidan desa, perangkat kelurahan, hingga berbagai pihak lintas sektor yang mendukung upaya peningkatan kesejahteraan keluarga.
Beragam layanan disediakan dalam kegiatan tersebut, antara lain konseling keluarga, edukasi Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi, pembinaan kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Lansia (BKL), serta sosialisasi berbagai program pemerintah yang berkaitan dengan pembangunan keluarga.
Di Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, kegiatan Satya Gatra dilaksanakan secara berkala dan mendapat respons positif dari masyarakat. Berbagai kelompok usia hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari pasangan usia subur yang ingin memperoleh informasi mengenai pilihan kontrasepsi, orang tua yang membutuhkan panduan pola pengasuhan anak, hingga lansia yang mengikuti sesi kesehatan dan kebugaran.
Salah satu hal yang membedakan Satya Gatra dari kegiatan penyuluhan pada umumnya adalah pendekatan yang lebih partisipatif. Petugas tidak hanya hadir sebagai pemberi materi, tetapi juga menjadi mitra dialog bagi masyarakat. Dengan cara tersebut, komunikasi yang terjalin menjadi lebih terbuka dan kebutuhan warga dapat diidentifikasi secara lebih tepat.
Menurut Ellyza Maharani, mahasiswi Program Studi Administrasi Publik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang mengikuti program magang di PLKB Kecamatan Tenggilis Mejoyo, keberadaan Satya Gatra menunjukkan bahwa pelayanan publik yang efektif tidak selalu bergantung pada fasilitas yang besar atau megah.
“Yang paling dibutuhkan masyarakat sesungguhnya sederhana, ada orang yang peduli, ada tempat untuk bertanya, dan ada jawaban yang bisa dipercaya. Satya Gatra menghadirkan itu semua,” ujar Ellyza.
Ia menilai terdapat tiga faktor utama yang membuat program ini efektif dalam mendekatkan layanan kepada masyarakat. Pertama, konsep layanan terpadu memungkinkan keluarga memperoleh berbagai jenis pelayanan dalam satu tempat dan waktu yang sama. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu mendatangi banyak instansi untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Kedua, keterlibatan kader lokal menjadi jembatan penting antara petugas dan masyarakat. Kehadiran kader yang berasal dari lingkungan setempat membuat informasi lebih mudah diterima karena disampaikan oleh orang-orang yang dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.
Ketiga, Satya Gatra menerapkan pendekatan dua arah. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga diajak berdiskusi, menyampaikan persoalan yang dihadapi, serta bersama-sama mencari solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga.

Meski demikian, pelaksanaan program ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah PKB/PLKB dibandingkan dengan luas wilayah layanan yang harus dijangkau. Di beberapa daerah, seorang penyuluh harus menangani lebih dari satu kelurahan sehingga intensitas pelaksanaan program belum dapat dilakukan secara merata.
Tantangan lainnya adalah tingkat partisipasi masyarakat yang masih perlu terus ditingkatkan. Kehadiran peserta laki-laki dalam kegiatan yang berkaitan dengan keluarga dan KB, misalnya, masih relatif terbatas karena sebagian masyarakat masih menganggap urusan tersebut sebagai tanggung jawab perempuan.
Karena itu, penguatan Satya Gatra ke depan tidak hanya perlu dilakukan dari sisi jumlah pelaksanaan kegiatan, tetapi juga kualitas pendampingan yang diberikan. Peningkatan kapasitas kader, pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan layanan, serta kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting agar program ini mampu menjangkau lebih banyak keluarga.
Keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi. Ketahanan bangsa juga ditentukan oleh kualitas keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat. Melalui Satya Gatra, upaya menghadirkan negara di tengah kehidupan keluarga diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang lebih dekat, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Ketika keluarga memperoleh ruang untuk bertanya, didengar, dan didampingi, maka fondasi masyarakat yang sehat dan tangguh dapat dibangun secara lebih kuat. Dalam konteks itulah Satya Gatra menjadi lebih dari sekadar program, melainkan bentuk nyata kehadiran pelayanan publik bagi keluarga Indonesia.





