Dalam kajian antropologi digital, kebiasaan scrolling media sosial pada pagi hari tidak bisa semata-mata dipahami sebagai perilaku buruk atau tanda ketergantungan terhadap gawai. Fenomena ini justru menunjukkan perubahan cara manusia membangun hubungan dengan dunia di sekitarnya pada era digital.
Bangun tidur, mata baru saja terbuka, kaki bahkan belum menyentuh lantai. Namun jempol sudah bergerak mencari ponsel. Aplikasi seperti TikTok, Instagram, X, atau bahkan semuanya sekaligus dibuka secara bergantian hanya dalam hitungan menit. Tidak selalu ada pesan penting yang ditunggu. Tidak pula ada informasi mendesak yang harus segera diketahui. Meski begitu, aktivitas tersebut terus dilakukan dan perlahan menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari rutinitas pagi banyak orang.
Jika kebiasaan itu terasa akrab, Anda tidak sendirian. Jutaan orang di berbagai belahan dunia memulai harinya dengan pola yang hampir sama. Fenomena ini sering kali disederhanakan sebagai bentuk kecanduan media sosial. Padahal, bila ditelaah lebih jauh melalui perspektif antropologi digital, terdapat proses sosial dan budaya yang jauh lebih kompleks di baliknya.
Ritual yang Tidak Lagi Berbentuk Upacara
Ketika mendengar kata ritual, sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan aktivitas keagamaan, upacara adat, atau praktik-praktik yang dianggap sakral. Padahal, dalam ilmu antropologi, makna ritual jauh lebih luas daripada itu.
Ritual pada dasarnya adalah tindakan yang dilakukan secara berulang, memiliki pola tertentu, dilakukan oleh banyak orang, dan mengandung makna bagi para pelakunya. Ritual membantu manusia menciptakan keteraturan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memberikan rasa keterhubungan dengan lingkungan sosialnya.
Jika menggunakan definisi tersebut, scrolling media sosial pada pagi hari memenuhi seluruh unsur ritual.
Pertama, aktivitas ini dilakukan hampir setiap hari pada waktu yang relatif sama, yakni sesaat setelah bangun tidur. Kedua, praktik ini bersifat kolektif. Jutaan orang melakukan hal serupa pada jam yang hampir bersamaan tanpa perlu saling berkoordinasi. Ketiga, terdapat urutan tindakan yang meskipun tidak tertulis, namun cukup konsisten. Banyak orang membuka notifikasi terlebih dahulu, kemudian beralih ke beranda, memeriksa unggahan terbaru, melihat isu yang sedang ramai diperbincangkan, hingga memantau aktivitas teman atau figur publik yang mereka ikuti.
Aspek yang paling menarik terletak pada fungsi sosial yang dihasilkannya. Setelah beberapa menit melakukan scrolling, seseorang merasa kembali mengetahui apa yang terjadi di dunia. Ia mengetahui kabar teman, melihat peristiwa yang sedang viral, mengikuti perkembangan isu publik, atau sekadar menikmati konten hiburan yang sedang populer. Aktivitas tersebut menciptakan sensasi bahwa dirinya kembali terhubung dengan kehidupan sosial setelah beberapa jam terputus selama tidur.
Dalam konteks ini, media sosial berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan individu dengan dunia luar setiap kali hari baru dimulai.
Fungsi Lama dalam Wujud yang Baru
Jika ditelusuri lebih jauh, fungsi sosial dari scrolling pagi sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru dalam sejarah manusia.
Sejak dahulu, manusia memiliki berbagai ritual untuk mengawali hari. Ada yang memulai pagi dengan berdoa, menyapa tetangga, menyiapkan sarapan bersama keluarga, atau berkumpul di ruang publik untuk bertukar kabar. Aktivitas tersebut memiliki tujuan yang serupa, yaitu menegaskan kembali hubungan seseorang dengan komunitasnya, dengan lingkungan sekitarnya, serta dengan nilai-nilai yang dianggap penting dalam kehidupan.
Teknologi digital tidak menghapus kebutuhan dasar tersebut. Yang berubah hanyalah medianya.
Gagasan ini dapat dipahami melalui pemikiran sosiolog Prancis, Émile Durkheim, tentang collective effervescence, yaitu perasaan kebersamaan yang muncul ketika banyak orang terlibat dalam aktivitas yang sama. Perasaan itu dahulu muncul dalam perayaan adat, kegiatan keagamaan, atau pertemuan sosial.
Di era digital, pengalaman serupa dapat hadir melalui media sosial. Ketika jutaan orang membicarakan isu yang sama, menonton video yang sama, menertawakan meme yang sama, atau mengikuti tren yang sama, mereka sedang terhubung dalam ruang sosial baru yang tidak terlihat secara fisik, tetapi nyata pengaruhnya.
Ruang digital telah menjadi arena tempat manusia membangun rasa kebersamaan, membentuk identitas, sekaligus mencari pengakuan sosial.
Mengapa Harus Pagi Hari?
Pertanyaan menarik berikutnya adalah mengapa aktivitas ini begitu kuat melekat pada pagi hari.
Salah satu jawabannya dapat ditemukan melalui pendekatan psikologis. Pagi merupakan fase transisi penting dalam kehidupan manusia. Pada saat itulah seseorang berpindah dari kondisi tidur menuju keadaan sadar sepenuhnya. Dalam momen transisi semacam ini, manusia cenderung mencari pegangan untuk membantu dirinya beradaptasi dengan lingkungan sosial yang akan dihadapi sepanjang hari.
Media sosial menawarkan pegangan tersebut dengan cara yang cepat dan mudah diakses. Hanya dalam beberapa menit, seseorang dapat memperoleh gambaran mengenai apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Dari perspektif budaya, kebiasaan ini juga lahir karena adanya norma sosial baru yang terbentuk secara kolektif. Pada masa lalu, banyak orang memulai pagi dengan membaca koran atau mendengarkan berita radio. Aktivitas itu berfungsi sebagai sarana untuk memahami kondisi dunia sebelum memulai aktivitas harian.
Kini fungsi tersebut sebagian besar telah berpindah ke media sosial. Perbedaannya, informasi yang diterima tidak lagi datang dari satu arah, melainkan mengalir tanpa henti melalui linimasa yang terus diperbarui setiap detik. Pengguna tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat langsung memberikan respons, komentar, atau membagikannya kembali kepada orang lain.
Memahami Sebelum Menghakimi
Apakah kondisi ini berarti scrolling pagi merupakan kebiasaan yang baik?
Antropologi digital tidak berusaha memberikan jawaban hitam-putih atas pertanyaan tersebut. Tujuan utamanya bukan untuk menghakimi atau membenarkan suatu perilaku, melainkan memahami mengapa perilaku itu muncul dan bagaimana ia memperoleh makna dalam kehidupan manusia.
Pemahaman semacam ini penting karena membantu kita melihat kebiasaan sehari-hari secara lebih reflektif. Ketika menyadari bahwa scrolling pagi berfungsi sebagai ritual orientasi sosial, kita dapat menilai kembali dampaknya terhadap diri sendiri.
Apakah ritual digital itu membantu kita memulai hari dengan lebih siap? Ataukah justru menguras energi sejak pagi? Apakah komunitas yang kita ikuti melalui layar memberi dukungan dan inspirasi? Atau malah memicu kecemasan, perbandingan sosial, dan kelelahan mental?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak ditentukan oleh algoritma media sosial. Jawaban itu hanya bisa ditemukan melalui kesadaran masing-masing individu.
Di situlah letak ironi dari ritual digital yang kita jalani setiap hari. Untuk memahami mengapa kita begitu terdorong membuka media sosial setiap pagi, kita mungkin perlu berhenti melakukannya sejenak. Dari jarak yang lebih tenang, kita dapat melihat bahwa di balik gerakan sederhana menggeser layar, terdapat cerita yang lebih besar tentang bagaimana manusia modern mencari keterhubungan, makna, dan rasa memiliki di tengah kehidupan yang semakin terdigitalisasi.





