Wonogiri, Krajan.id – Tim Magang Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar sosialisasi dan praktik pembuatan Jadam Microbial Solution (JMS) bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di Aula KWT Melati, Desa Semin, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Senin (11/5/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 11.00–13.00 WIB tersebut diikuti sekitar 50 peserta dan mendapat dukungan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serta pengurus KWT Melati.
Program tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan pupuk hayati berbasis mikroorganisme lokal kepada masyarakat, sekaligus mendorong penerapan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Berdasarkan keterangan Tim Magang UNS, pemilihan JMS sebagai materi utama bukan tanpa alasan. Teknologi tersebut dinilai mudah diterapkan karena memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar masyarakat dengan biaya pembuatan yang relatif murah.
“Tim memilih program ini karena JMS merupakan pupuk hayati yang mudah dibuat menggunakan bahan-bahan lokal, biaya pembuatannya relatif murah, serta mampu meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah sehingga mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelas Tim Magang UNS.
Tim menjelaskan, pelaksanaan program didasarkan pada hasil observasi lapangan yang menunjukkan masih tingginya ketergantungan masyarakat terhadap pupuk kimia. Selain itu, pengetahuan petani mengenai pupuk hayati dan pemanfaatan mikroorganisme lokal masih terbatas.
“Berdasarkan hasil observasi, masyarakat masih bergantung pada pupuk kimia dan belum banyak mengetahui alternatif pupuk hayati yang dapat dibuat secara mandiri dengan biaya yang lebih murah. Selain itu, pengetahuan mengenai pemanfaatan mikroorganisme lokal dalam budidaya pertanian masih terbatas,” terang Tim Magang UNS.
Kondisi tersebut juga tercermin dari profil peserta yang mengikuti kegiatan. Sebagian besar anggota KWT Melati mengaku belum pernah mengenal maupun memanfaatkan JMS dalam kegiatan budidaya tanaman.
Menurut Tim Magang UNS, minimnya informasi menjadi faktor utama belum dikenalnya teknologi tersebut oleh masyarakat.
“Sebagian besar peserta belum mengenal JMS. Kendala utamanya adalah kurangnya informasi mengenai manfaat, proses pembuatan, serta cara penerapannya pada tanaman,” ungkap tim.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Tim Magang UNS menghadirkan Penyuluh Pertanian Lapangan, Wahyu Tulus Nugroho, S.P., sebagai narasumber utama. Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai konsep JMS, manfaatnya bagi kesuburan tanah, hingga teknik pembuatannya.
Selain penyampaian materi, peserta juga diajak menyaksikan video proses pembuatan JMS sebelum mengikuti praktik secara langsung. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan yang diajukan peserta mengenai penggunaan JMS pada tanaman yang mereka budidayakan.
Tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori, peserta juga diperkenalkan dengan alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat JMS. Alat yang digunakan relatif sederhana, yakni ember plastik berkapasitas sekitar 10 liter, kain bekas, pisau, kompor, dan panci. Sementara itu, bahan yang diperlukan meliputi tanah subur atau humus sebanyak 300–500 gram, kentang 50–100 gram atau sekitar satu buah, garam grosok sebanyak 5 gram, serta 10 liter air bersih.
Dalam praktik tersebut, peserta diajarkan cara membuat JMS secara bertahap. Proses diawali dengan mencuci dan merebus kentang hingga lunak. Selanjutnya, garam grosok dilarutkan ke dalam ember berisi 10 liter air. Tanah humus kemudian diletakkan di atas kain bekas dan dicampurkan dengan kentang yang telah direbus sebelum dibungkus menggunakan kain.
Bungkusan berisi tanah dan kentang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam larutan garam sambil diremas-remas agar sari kentang serta mikroorganisme dari tanah larut ke dalam air. Setelah itu, kain diikat dan tetap dibiarkan berada di dalam ember untuk selanjutnya disimpan di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Larutan tersebut kemudian difermentasi selama 24 hingga 72 jam. Tim Magang UNS menjelaskan bahwa JMS yang telah siap digunakan memiliki ciri-ciri munculnya busa pada permukaan larutan, warna berubah menjadi kecokelatan, serta mengeluarkan aroma khas fermentasi.
“JMS sebaiknya segera digunakan setelah busa mencapai kondisi maksimal karena tidak dapat disimpan dalam waktu lama,” jelas Tim Magang UNS.
Tim menambahkan, pengetahuan mengenai tahapan pembuatan tersebut diharapkan dapat memudahkan peserta memproduksi JMS secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah maupun lahan pertanian.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Ibu-ibu anggota KWT Melati aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi dengan narasumber, hingga mengikuti setiap tahapan praktik pembuatan JMS secara berkelompok.
“Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif mengikuti penyampaian materi, menyaksikan video pembuatan JMS, berdiskusi melalui sesi tanya jawab, dan berpartisipasi langsung dalam praktik pembuatan JMS,” ujar Tim Magang UNS.
Selama praktik berlangsung, peserta dibagi dalam beberapa kelompok dan didampingi langsung oleh narasumber. Pendampingan tersebut bertujuan agar seluruh peserta memahami setiap tahapan pembuatan JMS secara benar, mulai dari persiapan bahan hingga proses penggunaannya pada tanaman.
Hasil kegiatan menunjukkan seluruh peserta mampu mengikuti praktik pembuatan JMS dengan baik. Tidak hanya memahami proses pembuatannya, peserta juga memperoleh pengetahuan mengenai teknik aplikasi JMS sebagai pupuk hayati.
“Peserta memperoleh pemahaman mengenai manfaat dan tahapan pembuatan JMS serta berhasil mengikuti praktik pembuatan JMS secara berkelompok dengan pendampingan narasumber. Mereka juga memahami cara mengaplikasikan JMS pada tanaman,” jelas Tim Magang UNS.
Respons positif juga ditunjukkan melalui komitmen anggota KWT Melati untuk mulai menerapkan JMS pada lahan pertanian mereka sebagai alternatif pupuk hayati.
“Anggota KWT Melati Desa Semin menyatakan komitmennya untuk mencoba menerapkan JMS pada tanaman yang mereka budidayakan sebagai alternatif pupuk hayati. Kegiatan ini mendapat respons positif dari sebagian besar peserta,” kata tim.
Guna memastikan ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di lapangan, Tim Magang UNS tidak menghentikan program setelah pelatihan selesai. Pendampingan akan terus dilakukan bersama penyuluh pertanian dan pengurus KWT Melati.
“Pendampingan dilakukan melalui komunikasi dengan KWT Melati dan penyuluh pertanian untuk memantau penerapan JMS setelah kegiatan serta memberikan konsultasi apabila terdapat kendala,” ujar Tim Magang UNS.
Selain pendampingan, monitoring dan evaluasi juga akan dilakukan untuk melihat perkembangan penerapan JMS oleh peserta setelah kembali ke lahan masing-masing.
“Monitoring dan evaluasi akan dilakukan melalui koordinasi dengan penyuluh pertanian serta pengurus KWT Melati untuk mengetahui perkembangan penerapan JMS di lapangan dan memberikan pendampingan apabila diperlukan,” imbuh tim.

Melalui program ini, Tim Magang UNS berharap masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkan teknologi sederhana yang dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Diharapkan ibu-ibu KWT Melati mampu membuat dan memanfaatkan JMS secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menekan biaya produksi pertanian, serta menerapkan sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan sehingga produktivitas dan keberlanjutan usaha tani dapat terus meningkat,” tutup Tim Magang UNS.
Melalui pelatihan tersebut, Tim Magang UNS berharap pengetahuan mengenai Jadam Microbial Solution tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi dapat diterapkan secara nyata oleh anggota KWT Melati di lahan pertanian mereka. Dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh dan teknik pembuatan yang sederhana, JMS diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menekan biaya produksi, serta mendukung terciptanya sistem pertanian yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Wonogiri.





