Bukan hal yang aneh jika seseorang menghabiskan tiga hingga empat jam di sebuah kafe di Yogyakarta hanya dengan satu gelas es kopi di atas meja. Pemandangan semacam ini dapat ditemukan hampir setiap hari, dari kawasan Gejayan hingga Kaliurang, dari pusat kota hingga pinggiran yang mulai berkembang sebagai kantong-kantong mahasiswa.
Sebagian orang mungkin memandang kebiasaan tersebut sebagai bentuk kemalasan, pemborosan, atau sekadar mengikuti tren. Padahal, ada fenomena sosial yang lebih dalam di baliknya. Ketika anak-anak muda memilih berlama-lama di kafe, mereka sesungguhnya tidak hanya membeli minuman. Mereka sedang mencari tempat untuk berada, berinteraksi, dan merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Bukan di rumah. Bukan pula di kampus. Melainkan di ruang yang berada di antara keduanya.
Ada Nama untuk Ruang Itu
Pada 1989, sosiolog Amerika Ray Oldenburg memperkenalkan konsep third place atau tempat ketiga. Dalam gagasannya, kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di rumah sebagai first place dan tempat kerja atau sekolah sebagai second place. Ada ruang ketiga yang menjadi lokasi pertemuan informal, tempat orang berkumpul secara sukarela tanpa tekanan pekerjaan, target akademik, maupun tuntutan produktivitas.
Ruang tersebut bisa berupa warung kopi, taman kota, perpustakaan umum, balai desa, hingga barbershop. Tempat-tempat ini memungkinkan percakapan spontan terjadi, mempertemukan orang dari berbagai latar belakang, serta membangun rasa keterhubungan sosial yang sulit ditemukan di ruang formal.
Oldenburg bahkan menyebut third place sebagai salah satu fondasi penting kehidupan komunitas. Kehadirannya membantu menciptakan rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Dalam konteks Yogyakarta hari ini, banyak kafe yang tanpa disadari sedang menjalankan fungsi tersebut.
Jogja dan Kebutuhan Sosial yang Belum Terjawab
Sebagai kota pelajar, Yogyakarta setiap tahun menerima kedatangan ratusan ribu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu pengalaman yang sama: meninggalkan rumah dan memulai kehidupan sosial dari awal.
Situasi ini menciptakan kebutuhan besar akan ruang pertemuan yang nyaman dan mudah diakses.
Di sisi lain, pilihan ruang publik yang tersedia tidak selalu mampu menjawab kebutuhan tersebut. Banyak mahasiswa tinggal di kamar kos yang relatif sempit dan kurang ideal untuk menerima teman dalam waktu lama. Perpustakaan kampus memiliki jam operasional yang terbatas. Taman kota memang tersedia, tetapi tidak semua orang merasa aman atau nyaman berada di sana hingga malam hari.
Kondisi tersebut menciptakan celah yang kemudian diisi oleh kafe.
Kafe menawarkan kombinasi fasilitas yang sulit ditemukan di tempat lain: meja yang nyaman, kursi yang memadai, stopkontak, akses internet, pencahayaan yang baik, serta suasana yang memungkinkan seseorang berada di sana selama berjam-jam tanpa merasa terganggu.
Lebih dari itu, terdapat semacam izin sosial yang tidak tertulis. Selama membeli satu minuman, seseorang dapat bertahan berjam-jam untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, membaca buku, atau sekadar menikmati kehadiran orang lain di sekitarnya.
Bagi banyak anak muda di Jogja, hal tersebut bukanlah kemewahan. Itu merupakan kebutuhan sosial yang nyata.
Yang Dijual Bukan Sekadar Kopi
Menariknya, pertumbuhan pesat industri kafe di Yogyakarta tidak semata-mata didorong oleh meningkatnya jumlah penikmat kopi. Jika diamati lebih jauh, produk utama yang dipasarkan sebenarnya bukan hanya minuman, melainkan pengalaman.
Orang datang karena suasana yang diciptakan, rasa nyaman yang ditawarkan, serta identitas sosial yang melekat pada tempat tersebut.
Antropolog Richard Wilk menjelaskan bahwa aktivitas makan dan minum tidak pernah hanya berkaitan dengan kebutuhan biologis. Pilihan tempat makan dan minum sering kali merepresentasikan identitas sosial, gaya hidup, bahkan nilai-nilai yang ingin ditampilkan seseorang.
Karena itu, memilih sebuah kafe bukan sekadar persoalan menu.
Kafe bergaya industrial dengan musik jazz, misalnya, menghadirkan pengalaman sosial yang berbeda dibandingkan angkringan tradisional di tepi jalan. Masing-masing memiliki karakter komunitas, norma interaksi, dan simbol identitas yang berbeda.
Seseorang yang memilih menghabiskan waktu di salah satu tempat tersebut tidak hanya sedang membeli kopi. Ia juga sedang memilih lingkungan sosial tempat dirinya merasa cocok dan diterima.
Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa media sosial dipenuhi unggahan dari berbagai kafe baru. Yang dipamerkan sering kali bukan minumannya, melainkan pengalaman berada di sana.
Ketika Ruang Sosial Memiliki Harga Masuk
Meski demikian, perkembangan ini juga memunculkan pertanyaan penting.
Dalam konsep Oldenburg, third place idealnya bersifat inklusif, terbuka, dan mudah diakses oleh siapa pun. Ruang tersebut seharusnya tidak membatasi partisipasi berdasarkan kemampuan ekonomi.
Di banyak komunitas tradisional, fungsi ini dijalankan oleh ruang-ruang sederhana seperti warung kopi, balai warga, lapangan kampung, atau teras rumah yang terbuka bagi tetangga.
Ketika fungsi third place semakin bergeser ke kafe komersial, muncul konsekuensi yang perlu dicermati. Harga minuman yang terus meningkat secara perlahan menciptakan batas ekonomi bagi sebagian kelompok masyarakat.
Mahasiswa dengan uang saku terbatas, pekerja informal, atau anak muda dari keluarga berpenghasilan rendah mungkin tidak memiliki akses yang sama terhadap ruang-ruang tersebut. Mereka jarang muncul dalam unggahan media sosial yang menampilkan sisi estetis budaya nongkrong, tetapi memiliki kebutuhan sosial yang tidak kalah penting.
Situasi ini bukanlah kesalahan para pelaku usaha kafe. Kafe tetap merupakan bisnis yang harus bertahan dan memperoleh keuntungan.
Namun, fenomena tersebut dapat dibaca sebagai gejala berkurangnya ruang publik yang benar-benar publik. Ketika semakin banyak aktivitas sosial bergantung pada ruang berbayar, kota perlu mulai bertanya apakah seluruh warganya masih memiliki kesempatan yang sama untuk berkumpul, berinteraksi, dan membangun komunitas.
Jogja Sebenarnya Memiliki Warisan Third Place Sendiri
Di tengah maraknya pertumbuhan kafe modern, ada satu hal yang kerap terlupakan. Yogyakarta sesungguhnya telah lama memiliki tradisi third place yang tumbuh dari budaya lokal.
Angkringan merupakan salah satu contohnya.
Selama puluhan tahun, angkringan menjadi ruang pertemuan yang sangat demokratis. Mahasiswa, pekerja, seniman, pedagang, hingga wisatawan dapat duduk berdampingan tanpa sekat yang berarti. Percakapan berlangsung secara alami dan siapa pun dapat bergabung tanpa harus memenuhi standar sosial tertentu.
Selain angkringan, terdapat pula budaya rembug di pendopo, kumpul warga di pos ronda, hingga obrolan santai di warung pinggir jalan. Semua itu merupakan bentuk ruang sosial yang berkembang secara organik dari kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Karena itu, perdebatan antara kafe dan angkringan sesungguhnya bukan persoalan mana yang lebih baik. Keduanya memiliki fungsi dan segmen yang berbeda. Keduanya bahkan dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan sosial masyarakat kota.
Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana menjaga keberadaan ruang-ruang yang tetap terbuka bagi siapa saja, tanpa hambatan ekonomi yang berlebihan.
Sebab sebuah kota yang sehat tidak hanya diukur dari jumlah kafe yang berdiri atau ramai dikunjungi. Kota yang sehat juga ditandai oleh tersedianya ruang perjumpaan yang memungkinkan setiap orang merasa diterima, terlepas dari latar belakang sosial maupun kemampuan ekonominya.
Lain kali ketika Anda menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah kafe di Jogja hanya dengan satu gelas es kopi, tidak perlu merasa bersalah. Anda sedang memanfaatkan ruang sosial sebagaimana mestinya.
Namun sesekali, cobalah mampir ke angkringan di sudut jalan. Duduklah lebih lama dari biasanya. Mulailah percakapan dengan orang yang belum Anda kenal. Di sana, mungkin Anda akan menemukan bahwa makna sebuah third place tidak selalu hadir melalui desain interior yang estetik atau secangkir kopi yang diracik dengan teknik modern.
Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: kursi plastik, segelas teh hangat, dan percakapan yang membuat seseorang merasa tidak sendirian.





