Wijirejo, Krajan.id – Kesadaran mengenai kesehatan mental di kalangan remaja menjadi perhatian dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) 06 Universitas Sebelas Maret (UNS) di Dusun Pandak, Kalurahan Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul. Mahasiswa KKN mengenalkan konsep peer counselor kepada anggota Karang Taruna melalui pelatihan “Sahabat Sebaya Desa”.
Pelatihan pertama berlangsung di Aula SD Negeri 1 Wijirejo pada Jumat (31/7/2026) pukul 20.00 WIB. Kegiatan tersebut diikuti 20 anggota Karang Taruna dari RT 5, 6, dan 7 Dusun Pandak.
Pelatihan serupa kemudian digelar untuk 23 anggota Karang Taruna RT 4 di Lapangan RT 4 pada Sabtu (15/8/2026) pukul 20.00 WIB. Program ini dijalankan oleh Imam Gavin Shaquille, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling UNS.
Program “Sahabat Sebaya Desa” tidak menempatkan anggota Karang Taruna sebagai pengganti psikolog atau tenaga profesional. Fokus kegiatan adalah membekali peserta dengan kemampuan dasar untuk menjadi teman yang mampu mendengarkan cerita, memberikan respons secara tepat, dan tidak menghakimi.
Gavin mengatakan, pemilihan isu kesehatan mental dilatarbelakangi oleh meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap persoalan tersebut. Namun, menurut dia, pemahaman mengenai kesehatan mental di lingkungan desa masih menghadapi stigma tertentu.
“Sekarang ini pemuda sudah cukup aware soal mental health, tapi di lingkungan desa, kalau ada yang pergi ke psikolog itu masih sering dianggap gila. Makanya lewat pelatihan ini, saya ingin memberi pemahaman ke mereka supaya bisa mengantisipasi respons negatif ke orang lain,” ujar Gavin.

Melalui pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan peran peer counselor dalam hubungan antarteman sebaya. Mereka diajak memahami bahwa seseorang yang sedang menghadapi persoalan terkadang membutuhkan ruang aman untuk bercerita sebelum menentukan langkah berikutnya.
Konsep tersebut menekankan kemampuan mendengarkan dan memberikan respons tanpa menghakimi. Dalam praktiknya, peer counselor dapat menjadi teman berbagi cerita dan memberikan dukungan berdasarkan situasi yang disampaikan.
Namun, peran tersebut memiliki batas. Peserta diberikan pemahaman bahwa peer counselor tidak bertugas memberikan diagnosis ataupun mengambil keputusan atas persoalan yang dihadapi teman. Masalah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut tetap perlu diarahkan kepada pihak yang memiliki kompetensi profesional.
Materi pelatihan mencakup teknik mendengarkan, cara merespons cerita tanpa menghakimi, serta batasan dan etika ketika menjalankan peran sebagai peer counselor. Pemahaman mengenai batasan tersebut menjadi bagian penting agar dukungan sebaya tidak justru menimbulkan persoalan baru.
Setelah pemaparan materi oleh Gavin, peserta mengisi modul pelatihan secara individu. Modul tersebut memuat materi mengenai teknik mendengarkan, respons tanpa menghakimi, serta batasan dan etika dalam menjalankan peran sebagai peer counselor.
Hasil pengisian modul kemudian didiskusikan bersama. Diskusi tersebut digunakan untuk memperdalam pemahaman peserta mengenai berbagai kemungkinan situasi ketika berinteraksi dengan teman sebaya.
Pendekatan ini membuat program tidak hanya berfokus pada penyampaian materi. Peserta juga diajak memahami bagaimana menghadapi cerita atau persoalan teman dengan sikap yang lebih terbuka dan suportif.
Kebutuhan terhadap ruang bercerita menjadi salah satu latar belakang program “Sahabat Sebaya Desa”. Dalam lingkungan pertemanan, teman sebaya dapat menjadi orang pertama yang mengetahui ketika seseorang menghadapi persoalan. Karena itu, kemampuan merespons secara tepat menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Dukungan sebaya juga diarahkan agar tidak berhenti pada sekadar mendengarkan. Peserta perlu mengetahui kapan harus memberikan dukungan sebagai teman dan kapan persoalan tersebut membutuhkan bantuan dari tenaga profesional.
Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari sejumlah pihak di lingkungan Dusun Pandak. Kepala SD Negeri 1 Wijirejo, Beni Mulyono, S.Pd., memberikan izin sekaligus menyediakan aula sekolah sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan pertama.
Pada pelaksanaan kedua, dukungan diberikan Karang Taruna RT 4 melalui penyediaan berbagai fasilitas penunjang kegiatan.
Melalui program tersebut, KKN 06 UNS berupaya mengenalkan pendekatan dukungan sebaya yang dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari. Bagi anggota Karang Taruna, pemahaman mengenai cara mendengarkan dan merespons tanpa menghakimi menjadi bekal dalam membangun komunikasi yang lebih terbuka di antara teman sebaya.





