Jauh sebelum generasi muda Indonesia berbondong-bondong memburu beasiswa LPDP dan berbagai program studi ke luar negeri, khususnya ke negara-negara Eropa, Marco Kartodikromo telah lebih dahulu menangkap gejala sosial tersebut melalui novel Student Hidjo yang terbit pada 1918. Karya sastra ini tidak hanya menghadirkan kisah seorang pelajar bumiputra yang menempuh pendidikan di Belanda, tetapi juga memuat kritik sosial yang tajam terhadap cara pandang masyarakat jajahan yang menganggap Eropa sebagai pusat segala keunggulan.
Novel ini berpusat pada tokoh Hidjo, seorang pemuda dari keluarga priyayi Jawa yang dikirim untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pada lapisan cerita yang paling terlihat, pembaca disuguhi pengalaman Hidjo selama berada di negeri penjajah. Ia berinteraksi dengan masyarakat Eropa, menghadapi berbagai dinamika sosial, serta mengalami pergulatan perasaan yang mewarnai masa mudanya.
Namun, di balik alur yang tampak sederhana itu, Marco Kartodikromo sedang menjalankan misi yang jauh lebih besar. Ia menggunakan sosok Hidjo sebagai medium untuk menggugat cara berpikir masyarakat kolonial yang memandang bangsa Eropa sebagai simbol kesempurnaan. Melalui berbagai peristiwa dalam cerita, Marco berusaha menunjukkan bahwa bangsa penjajah tidak selalu lebih unggul secara moral maupun budaya dibandingkan bangsa yang dijajah.
Bagi pembaca masa kini, Student Hidjo terasa seperti sebuah cermin yang memantulkan kembali sebagian mentalitas yang masih bertahan hingga sekarang. Perubahan zaman memang telah berlangsung selama lebih dari satu abad, tetapi kecenderungan untuk mencari legitimasi dari Barat masih sering ditemukan dalam berbagai bentuk. Jika dahulu ukuran keberhasilan seseorang adalah mampu bersekolah ke Belanda, saat ini kebanggaan serupa kerap dilekatkan pada gelar dari universitas-universitas ternama di Eropa, Amerika Serikat, atau negara maju lainnya.
Tentu tidak ada yang keliru dengan keinginan untuk menuntut ilmu di luar negeri. Dunia akademik modern justru mendorong keterbukaan, pertukaran gagasan, dan pengalaman lintas budaya. Persoalannya muncul ketika pendidikan internasional tidak lagi dipandang sebagai sarana pengembangan kapasitas diri, melainkan berubah menjadi instrumen pencarian status sosial dan pengakuan simbolik.
Dalam konteks inilah kritik Marco Kartodikromo terasa tetap relevan. Ia tidak menolak pendidikan Barat, tetapi mempertanyakan sikap sebagian kalangan bumiputra yang begitu terpesona hingga kehilangan kemampuan untuk menilai secara kritis. Keberangkatan ke Eropa sering kali dianggap sebagai tiket menuju kelas sosial yang lebih tinggi, sementara identitas lokal ditempatkan pada posisi yang lebih rendah.
Melalui penggambaran kehidupan di Belanda, Marco menunjukkan bahwa Eropa bukanlah ruang ideal yang bebas dari persoalan. Masyarakat di sana juga menghadapi konflik, kepentingan ekonomi, kemunafikan, dan berbagai kelemahan manusiawi lainnya. Gambaran semacam ini menjadi bentuk perlawanan intelektual yang sangat berani pada masanya. Ketika kolonialisme berupaya membangun citra superioritas bangsa penjajah, Marco justru menghadirkan narasi tandingan yang meruntuhkan mitos tersebut.
Kekuatan Student Hidjo terletak pada kemampuannya mengajak pembaca mempertanyakan asumsi yang selama ini diterima begitu saja. Novel ini seolah mengingatkan bahwa kemajuan tidak identik dengan meniru Barat secara membabi buta. Pengetahuan memang dapat diperoleh dari mana saja, tetapi nilai dan identitas tidak seharusnya ditinggalkan dalam proses tersebut.
Fenomena yang dahulu disindir sebagai sikap “ke-Belanda-belandaan” kini mungkin hadir dalam bentuk yang berbeda. Obsesi terhadap kampus bergengsi, pencarian validasi akademik internasional, hingga kecenderungan menganggap segala sesuatu yang berasal dari luar negeri lebih baik daripada produk pemikiran lokal merupakan contoh yang masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, membaca Student Hidjo pada masa sekarang bukan sekadar menikmati karya sastra klasik atau menelusuri sejarah pergerakan nasional. Novel ini menawarkan refleksi penting mengenai hubungan antara pendidikan, identitas, dan harga diri bangsa. Marco Kartodikromo mengajarkan bahwa merantau sejauh mungkin untuk mencari ilmu adalah langkah yang patut diapresiasi. Akan tetapi, ilmu pengetahuan semestinya memperkuat kemampuan seseorang untuk memahami akar budayanya sendiri, bukan justru menjauhkannya dari jati diri.
Pesan tersebut tetap relevan bagi generasi muda Indonesia yang hari ini memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar di berbagai belahan dunia. Pendidikan yang berkualitas bukanlah pendidikan yang membuat seseorang merasa lebih tinggi dari lingkungan asalnya, melainkan pendidikan yang membuatnya mampu kembali dengan wawasan yang lebih luas dan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat. Di titik itulah makna belajar menemukan bentuknya yang paling utuh: membuka cakrawala tanpa kehilangan pijakan.





