Malang, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 120 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengembangkan pendekatan berbasis keagamaan untuk mendorong kepedulian lingkungan dan ketahanan keluarga di Dusun Pancuran, Desa Karanganyar, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Melalui program Masjid Berdaya yang berlangsung pada 22 dan 24 Juli 2026, mahasiswa tidak sekadar menyampaikan sosialisasi mengenai lingkungan. Mereka memilih masjid dan forum pengajian sebagai ruang untuk memperkenalkan gagasan ekoteologi dan Keluarga Maslahat kepada masyarakat.
Pendekatan tersebut mempertemukan pesan keagamaan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Kesadaran menjaga lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap alam, sedangkan penguatan keluarga diperkenalkan melalui pendampingan yang melibatkan penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Poncokusumo.
Program itu juga diarahkan untuk menerjemahkan agenda yang lebih luas ke tingkat masyarakat. Di antaranya Asta Protas Kementerian Agama RI serta sejumlah target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Salah satu kegiatan utama berupa penyusunan delapan draf materi khutbah Jumat bertema ekoteologi. Materi tersebut membahas hubungan ajaran Islam dengan kewajiban menjaga alam, termasuk kedudukan manusia sebagai khalifah serta gagasan tentang “tobat ekologis”.
Delapan draf khutbah tersebut kemudian dicetak dan diserahkan kepada takmir Masjid Al Amin, Dusun Pancuran. Materi itu diharapkan dapat digunakan secara bergantian dan, jika memungkinkan, disebarluaskan ke masjid-masjid lain di Desa Karanganyar.
Salah satu materi berjudul “Tobat Ekologis: Menjaga Bumi sebagai Amanah Ilahi” kemudian disampaikan dalam khutbah Jumat pada 24 Juli 2026. Khutbah tersebut dibawakan oleh Mansur, pengurus takmir Masjid Al Amin, dan diikuti sekitar 60 jemaah.
Penyampaian materi tersebut menjadi bagian penting dari program karena gagasan yang sebelumnya disusun mahasiswa tidak berhenti sebagai dokumen. Pesan tentang tanggung jawab menjaga lingkungan dapat langsung disampaikan melalui ruang keagamaan yang telah akrab dengan kehidupan warga.
Kegiatan kedua berlangsung pada Rabu, 22 Juli 2026, melalui pengajian rutin ibu-ibu Dusun Pancuran. Sekitar 60 peserta mengikuti dua materi yang disampaikan penyuluh KUA Kecamatan Poncokusumo.
Materi Keluarga Maslahat disampaikan Ahmad Saful, sedangkan materi ekoteologi dilanjutkan Mujib. Keduanya merupakan penyuluh dari KUA Kecamatan Poncokusumo.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Khoiriyah, Ketua Pimpinan Ranting Muslimat Dusun Pancuran. Kehadirannya memperkuat keterhubungan antara masyarakat, organisasi keagamaan, mahasiswa KKN, dan penyuluh pemerintah dalam satu forum.
Bagi mahasiswa KKN 120, nilai penting program tersebut bukan hanya terletak pada materi yang diberikan. Program Masjid Berdaya juga menjadi upaya membangun jembatan kolaborasi antara aktor yang telah memiliki ruang kerja masing-masing di masyarakat.
Pengajian rutin, misalnya, menjadi ruang yang mempertemukan penyuluh KUA dan warga secara langsung. Pola tersebut diharapkan dapat terus berjalan meskipun masa pengabdian mahasiswa KKN telah berakhir.

Menghubungkan Ekoteologi dengan Agenda Kementerian Agama
Program Masjid Berdaya juga ditempatkan dalam konteks Asta Protas Kementerian Agama RI. Dua materi yang diangkat, yakni ekoteologi dan Keluarga Maslahat, berkaitan dengan dua pilar Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama RI periode 2025-2029 yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 244 Tahun 2025.
Pilar Penguatan Ekoteologi Umat mendorong tokoh agama menjadikan ruang keagamaan sebagai sarana penyadaran mengenai krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Sementara itu, pilar Layanan Keagamaan Berdampak berkaitan dengan peran penyuluh KUA dalam mendampingi masyarakat, termasuk dalam penguatan ketahanan keluarga.
Dalam konteks Dusun Pancuran, kedua gagasan tersebut diterjemahkan dalam skala lokal. Materi khutbah ekoteologi dibawa ke mimbar Masjid Al Amin, sementara materi Keluarga Maslahat dibahas dalam pengajian ibu-ibu.
Pendekatan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah target SDGs. Materi ekoteologi yang menyinggung kebiasaan membuang dan membakar sampah berkaitan dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, serta SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak.
Keterkaitan itu berangkat dari persoalan selokan dan sampah yang menjadi salah satu latar belakang pelaksanaan program.
Sementara itu, pembahasan mengenai Keluarga Maslahat bersinggungan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 5 tentang Kesetaraan Gender melalui penguatan ketahanan keluarga.
Kolaborasi mahasiswa KKN, takmir masjid, penyuluh KUA, dan warga juga mencerminkan semangat SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Program tersebut menunjukkan bahwa perubahan di tingkat masyarakat dapat dibangun melalui kerja sama lintas pihak.
Pendekatan kultural itu mendapat respons positif dari penyuluh KUA dan pengurus Muslimat. Dalam perbincangan informal di sela kegiatan, Mujib mengaitkan pola tersebut dengan sejarah dakwah Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa melalui pendekatan kultural.
Menurut dia, wacana keagamaan yang dibawa lembaga pemerintah seperti KUA perlu didekatkan dengan masyarakat melalui momentum yang berlangsung di tingkat akar rumput agar tidak berhenti sebagai slogan.
Khoiriyah juga menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut.
“Bagus sekali, terobosan seperti ini, mas. Kami merasakan keasyikan dalam membahas agama lewat apa yang disampaikan oleh Bapak-Bapak Penyuluh. Kami juga lebih memahami ternyata apa yang dicita-citakan oleh lembaga KUA juga dekat dengan kami.”
Kedua penyuluh KUA yang hadir juga menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam kegiatan serupa. Mereka berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti setelah program KKN selesai.
“Kami sangat senang, Bu, di sini diberikan akses dan dijembatani oleh mahasiswa KKN pada kegiatan seperti ini, dan ini memang tanggung jawab kami. Ibu-ibu ataupun mahasiswa KKN juga tidak perlu sungkan untuk melibatkan kami. Kami harap acara ini dapat berkelanjutan seterusnya, setiap bulan bahkan setiap tahun.”
Keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam program Masjid Berdaya. Mahasiswa KKN 120 tidak menempatkan program tersebut sebagai kegiatan yang bergantung pada keberadaan mereka di Dusun Pancuran.
Setelah program berakhir, takmir masjid diharapkan dapat melanjutkan penyampaian materi khutbah mengenai ekoteologi. Di sisi lain, penyuluh KUA diharapkan tetap mendampingi masyarakat dalam penguatan Keluarga Maslahat.
Dengan pola tersebut, program yang dimulai dari kegiatan mahasiswa diarahkan menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Pesan tentang menjaga lingkungan dan membangun keluarga maslahat diharapkan tidak berhenti ketika masa KKN selesai, tetapi terus disampaikan dari mimbar Jumat hingga ruang pengajian warga.





