Kedawung, Krajan.id – Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar lahan pertanian menjadi salah satu cara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) mendorong penguatan kapasitas petani di Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Melalui Kelompok 107, mahasiswa KKN mengenalkan pembuatan biopestisida berbahan bawang putih dan Biosaka kepada anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Minggu (9/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di rumah salah satu anggota Gapoktan tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi. Mahasiswa mengajak peserta terlibat langsung dalam proses pengolahan bahan hingga simulasi penggunaannya. Pendekatan praktik ini ditujukan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat dicoba kembali secara mandiri oleh masyarakat.
Dua program kerja tersebut diarahkan pada pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Bawang putih diperkenalkan sebagai salah satu bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan biopestisida alami. Sementara itu, tanaman liar yang tumbuh di sekitar lahan pertanian dikenalkan sebagai bahan elisitor dalam pembuatan Biosaka.
Dalam sesi awal, mahasiswa menjelaskan penggunaan pestisida kimia secara berlebihan serta alternatif pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan biopestisida.
Bawang putih yang telah disiapkan diolah menggunakan mesin pencacah yang tersedia di lokasi sebagai bentuk pemanfaatan teknologi sederhana. Peserta mengikuti tahapan pengolahan bahan hingga simulasi penggunaannya pada tanaman.

Mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai pembuatan Biosaka. Anggota kelompok tani dikenalkan dengan kriteria tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan elisitor serta tahapan pengolahannya. Tanaman yang selama ini tumbuh liar di sekitar lahan pertanian diperkenalkan sebagai salah satu potensi lokal yang dapat dipelajari pemanfaatannya.
Kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi petani untuk bertukar pengalaman. Peserta aktif mengikuti proses pemilihan bahan, pengolahan, pembuatan, hingga simulasi. Diskusi berlangsung selama praktik, terutama ketika peserta menyampaikan pertanyaan dan pengalaman mereka dalam mengelola tanaman.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik sehingga diharapkan dapat mencoba kembali secara mandiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar,” ujar Yana, mahasiswa pelaksana kegiatan.
Dari sisi pemberdayaan, kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas petani dapat dimulai dari sumber daya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hilirisasi potensi desa dalam konteks ini tidak semata-mata berarti menghasilkan produk dalam skala industri, tetapi juga mengubah pengetahuan dan bahan lokal menjadi keterampilan yang dapat diterapkan masyarakat.
Meski demikian, kegiatan tersebut belum dapat dilanjutkan dengan pendampingan dan pengamatan jangka panjang secara optimal. Keterbatasan waktu pelaksanaan KKN membuat mahasiswa belum dapat memantau secara menyeluruh penerapan biopestisida maupun Biosaka pada tanaman budidaya.
Karena itu, anggota kelompok tani diharapkan dapat melanjutkan praktik yang telah dipelajari sekaligus melakukan pengamatan terhadap penerapannya. Hasil pengamatan masyarakat dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui penerapan pengetahuan tersebut di lapangan.
Pemanfaatan bahan lokal juga berpotensi dikembangkan lebih lanjut apabila didukung proses pengujian, pendampingan, dan pengelolaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan mahasiswa tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan keterampilan dan pengetahuan di tingkat desa.
Bagi Desa Kedawung, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang sudah tersedia di lingkungan sekitar. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan KKN menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan sekaligus berinteraksi langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui pengenalan biopestisida bawang putih dan Biosaka, mahasiswa KKN UNS Kelompok 107 berupaya mempertemukan pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi dengan praktik pertanian di tingkat masyarakat. Keberlanjutan kegiatan tetap bergantung pada penerapan, pengamatan, serta pengembangan pengetahuan oleh kelompok tani setelah program KKN berakhir.





