Mendorong Keberhasilan Menyusui: Refleksi atas Sikap IDAI dan AIMI sehubungan Surat Terbuka untuk “Menjaga ASI Tetap Menjadi Prioritas dalam Kebijakan Gizi Anak”

Ilustrasi create by AI
Ilustrasi create by AI

Keputusan kebijakan publik yang menyangkut kesehatan anak selalu memerlukan kehati-hatian, terutama ketika menyentuh aspek paling mendasar dalam fase awal kehidupan manusia, yakni pemenuhan gizi bayi. Dalam konteks inilah surat terbuka yang dikeluarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) pada 21 Mei 2026 menjadi perhatian penting untuk dicermati secara serius.

Melalui unggahan di laman Instagram resminya, IDAI dan AIMI menyampaikan surat terbuka yang ditujukan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Ir. Dadan Hindayana beserta jajaran, terkait kebijakan distribusi susu formula secara massal yang dinilai berjalan tanpa pemeriksaan dokter serta tanpa indikasi medis yang jelas.

Bacaan Lainnya

Pada prinsipnya, sikap yang disampaikan kedua organisasi tersebut tidak semata-mata merupakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Surat terbuka itu justru dapat dipahami sebagai pengingat bahwa upaya memperbaiki gizi anak Indonesia seharusnya tidak mengorbankan sesuatu yang selama ini telah terbukti menjadi fondasi kesehatan anak, yaitu Air Susu Ibu (ASI).

Sumber surat terbuka tersebut dapat diakses melalui tautan berikut:
https://www.instagram.com/p/DYj3BzDAfj3/?igsh=eWoxNmVrcDFjYTV4

IDAI dan AIMI menilai bahwa pendistribusian susu formula secara massal tanpa koordinasi dengan tenaga kesehatan berpotensi menimbulkan konsekuensi serius, yakni berhentinya proses menyusui secara permanen pada sebagian ibu. Kekhawatiran ini tidak berlebihan. Dalam praktiknya, ketika seorang ibu berhenti menyusui dalam periode tertentu, produksi ASI dapat menurun drastis bahkan berhenti sama sekali, sehingga proses relaktasi atau mengembalikan kemampuan menyusui menjadi jauh lebih sulit.

Persoalan ini tidak bisa dipandang sederhana karena menyusui bukan sekadar aktivitas memberi makan bayi. Menyusui merupakan proses biologis yang memiliki dampak langsung terhadap kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang anak. Ketika proses tersebut terganggu akibat kebijakan yang kurang terintegrasi, risiko yang muncul tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas generasi masa depan.

Dalam surat terbuka tersebut, IDAI dan AIMI menyatakan keyakinannya bahwa Badan Gizi Nasional memiliki tujuan baik, yakni memastikan kebutuhan gizi bayi dan anak Indonesia dapat terpenuhi secara optimal. Kedua organisasi juga meyakini bahwa pemerintah memahami tidak ada satu pun produk yang mampu menggantikan manfaat biologis utama ASI.

Pernyataan ini penting digarisbawahi. Di tengah berkembangnya teknologi pangan modern, susu formula memang mengalami perkembangan yang signifikan. Berbagai inovasi dilakukan untuk mendekati kandungan nutrisi ASI. Akan tetapi, hingga saat ini, belum ada produk yang sepenuhnya mampu menggantikan kompleksitas biologis yang terdapat di dalam ASI.

ASI mengandung ratusan hingga ribuan komponen aktif yang bekerja secara simultan untuk mendukung tumbuh kembang anak. Komponen tersebut meliputi antibodi alami dari ibu, bakteri baik untuk menjaga kesehatan saluran cerna, hormon pertumbuhan, enzim, hingga zat bioaktif yang berperan dalam perkembangan otak bayi.

Susu formula mungkin merupakan hasil terbaik yang dapat diciptakan manusia untuk membantu kondisi tertentu ketika ASI tidak dapat diberikan. Namun, hal itu tidak menjadikannya sebagai pengganti yang setara. Perbedaan mendasarnya terletak pada fakta bahwa ASI merupakan sistem biologis hidup yang terus menyesuaikan komposisinya dengan kebutuhan tubuh bayi.

Karena itu, perhatian IDAI dan AIMI terhadap kebijakan distribusi susu formula patut dibaca sebagai upaya menjaga keseimbangan antara intervensi negara dan perlindungan terhadap praktik menyusui.

Kebijakan Publik dan Kepatuhan terhadap Regulasi

Perspektif hukum juga menjadi aspek penting dalam polemik ini. Indonesia sesungguhnya telah memiliki aturan yang cukup jelas mengenai penggunaan susu formula.

Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 serta Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, ditegaskan bahwa pemberian susu formula dilakukan atas rekomendasi dokter dan berdasarkan indikasi medis tertentu. Ketentuan ini dibuat bukan tanpa alasan.

Pemberian susu formula yang tidak terkontrol dapat menggeser praktik menyusui eksklusif yang selama ini terus didorong pemerintah melalui berbagai program kesehatan ibu dan anak. Ketika formula diberikan secara luas tanpa dasar medis yang kuat, persepsi publik berpotensi berubah. Sebagian masyarakat dapat menganggap susu formula memiliki posisi yang setara atau bahkan lebih praktis dibanding ASI.

Padahal, tantangan keberhasilan menyusui di Indonesia sudah cukup kompleks. Banyak ibu masih menghadapi hambatan berupa minimnya dukungan lingkungan, keterbatasan fasilitas laktasi, hingga tekanan pekerjaan yang membuat proses menyusui tidak berjalan optimal.

Dalam surat terbuka tersebut, IDAI dan AIMI juga mengungkapkan bahwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah dua kali mengingatkan BGN secara resmi terkait kebijakan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa diskursus mengenai distribusi susu formula bukan persoalan administratif biasa, melainkan isu kesehatan publik yang memerlukan sinkronisasi lintas sektor.

Empat Rekomendasi IDAI dan AIMI

Sebagai bentuk solusi, IDAI dan AIMI menyampaikan empat rekomendasi utama yang dinilai penting untuk segera dipertimbangkan pemerintah.

1. Harmonisasi Kebijakan Publik antara Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan

Kebijakan kesehatan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Harmonisasi antarlembaga menjadi penting agar tujuan pemenuhan gizi nasional tetap sejalan dengan agenda peningkatan angka pemberian ASI eksklusif.

2. Mengembalikan Peruntukan Susu Formula Sesuai Rekomendasi Dokter dan Indikasi Medis

Susu formula sebaiknya ditempatkan sesuai fungsi awalnya, yakni sebagai intervensi medis pada kondisi tertentu, bukan sebagai substitusi umum yang dapat diberikan secara massal tanpa asesmen kesehatan.

3. Memprioritaskan Kemandirian Pangan Lokal

Upaya perbaikan gizi nasional juga perlu berbasis pada penguatan pangan lokal Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.

4. Telaah Ulang dan Sinkronisasi Petunjuk Teknis Intervensi Gizi Nasional

IDAI dan AIMI meminta agar petunjuk teknis intervensi gizi nasional BGN diselaraskan dengan:

  • Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023
  • Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan
  • Pedoman Standar Gizi Kementerian Kesehatan RI
  • Kode Internasional WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI

Keempat rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa yang diperjuangkan bukanlah penolakan terhadap susu formula, melainkan penempatan kebijakan secara proporsional agar tidak bertabrakan dengan prinsip perlindungan anak.

Mengapa ASI Tetap Tidak Tergantikan?

Surat terbuka yang disampaikan IDAI dan AIMI sesungguhnya mengajak publik untuk kembali memahami posisi ASI sebagai fondasi awal kehidupan anak. Pembahasan mengenai ASI tidak semata soal pilihan antara menyusui atau tidak, melainkan menyangkut investasi kesehatan jangka panjang bagi generasi mendatang.

Air Susu Ibu merupakan cairan biologis alami yang diproduksi oleh kelenjar payudara ibu. Di dalamnya terkandung zat gizi, antibodi, hormon, enzim, serta berbagai komponen bioaktif yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Berbeda dengan makanan atau minuman lain, komposisi ASI bersifat dinamis. Kandungannya dapat menyesuaikan kebutuhan bayi sesuai usia, kondisi kesehatan, bahkan fase pertumbuhan tertentu.

Karena sifatnya yang adaptif itulah ASI sulit dibandingkan secara langsung dengan produk pengganti apa pun. Ketika bayi lahir prematur, misalnya, tubuh ibu dapat memproduksi ASI dengan komposisi berbeda untuk memenuhi kebutuhan khusus bayi tersebut. Pada kondisi bayi sedang sakit, kandungan antibodi dalam ASI juga dapat meningkat sebagai bentuk perlindungan alami.

Tidak berlebihan jika banyak ahli kesehatan menyebut ASI sebagai “cairan hidup” yang bekerja lebih kompleks dibanding sekadar sumber nutrisi.

Selama ini, sebagian masyarakat masih memandang menyusui hanya sebagai aktivitas memberi makan anak. Padahal, menyusui merupakan proses biologis yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan sistem kekebalan tubuh, kesehatan metabolisme, pertumbuhan saraf, hingga perkembangan kognitif anak.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bahkan terus menekankan pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, kemudian dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan makanan pendamping ASI yang sesuai.

Komponen Utama ASI dan Perannya bagi Bayi

Salah satu alasan mengapa ASI begitu penting terletak pada kompleksitas kandungannya. ASI tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga sistem perlindungan biologis alami yang mendukung tumbuh kembang bayi.

1. Karbohidrat: Sumber Energi dan Penopang Perkembangan Otak

Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. Kandungan ini berperan sebagai sumber energi utama bayi sekaligus membantu penyerapan kalsium yang diperlukan untuk pertumbuhan tulang.

Di dalam usus halus, laktosa akan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa melalui bantuan enzim laktase. Menariknya, pada beberapa bayi, produksi enzim laktase belum optimal. Dalam kondisi seperti ini, ASI justru menyediakan bantuan alami karena mengandung laktase yang membantu proses pencernaan.

Sebagian laktosa juga difermentasi di usus besar oleh bakteri baik, terutama laktobasili. Proses tersebut menciptakan lingkungan usus yang lebih asam sehingga mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit serta meningkatkan penyerapan mineral penting seperti kalsium dan fosfor.

Di sisi lain, galaktosa hasil pemecahan laktosa memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan otak bayi. Tidak heran jika masa awal kehidupan disebut sebagai periode emas pertumbuhan neurologis.

2. Protein: Mudah Dicerna dan Mendukung Imunitas

Protein dalam ASI memiliki karakteristik yang lebih mudah dicerna dibanding sumber protein lain.

Secara umum, protein ASI terdiri atas dua komponen utama:

Whey, yaitu protein yang lebih mudah diserap tubuh bayi dan berperan besar dalam memperkuat sistem imun.

Kasein, protein yang mendukung pertumbuhan jaringan tubuh dan perkembangan fisik anak.

Keseimbangan kedua protein tersebut menjadikan ASI lebih ramah bagi sistem pencernaan bayi yang masih berkembang.

3. Lemak: Energi Besar untuk Pertumbuhan Otak

Lemak menjadi penyumbang energi terbesar dalam ASI. Kandungan ini memiliki peran vital dalam pembentukan jaringan saraf dan perkembangan otak.

ASI mengandung asam lemak penting seperti:

DHA (Docosahexaenoic Acid) yang berperan dalam perkembangan fungsi otak dan penglihatan.

ARA (Arachidonic Acid) yang membantu pertumbuhan sel dan perkembangan sistem saraf.

Keberadaan kedua komponen ini sering kali menjadi alasan mengapa produk susu formula berupaya menambahkan DHA dan ARA ke dalam komposisinya. Namun, keberadaan zat tersebut dalam ASI hadir secara alami bersama berbagai komponen pendukung lain yang bekerja secara sinergis.

4. Vitamin dan Mineral: Menopang Pertumbuhan Menyeluruh

ASI juga kaya vitamin dan mineral yang diperlukan bayi.

Vitamin A berperan dalam menjaga kesehatan mata dan memperkuat sistem imun. Vitamin D membantu pertumbuhan tulang, sedangkan vitamin E bertindak sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh.

Vitamin K membantu proses pembekuan darah, sementara vitamin B kompleks mendukung metabolisme tubuh serta pertumbuhan jaringan.

Dari sisi mineral, ASI mengandung kalsium, fosfor, zat besi, serta seng (zinc) yang penting untuk pembentukan tulang, gigi, sistem darah, serta daya tahan tubuh.

5. Antibodi dan Faktor Imun

Bagian paling unik dari ASI terletak pada kemampuan perlindungan biologisnya.

ASI mengandung Imunoglobulin A (IgA) yang membantu melindungi saluran cerna dan saluran pernapasan bayi dari berbagai infeksi.

Selain itu, terdapat laktoferin yang membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu, serta berbagai sel imun aktif yang memperkuat pertahanan tubuh bayi.

Komponen seperti ini tidak dapat ditiru sepenuhnya karena terbentuk dari hubungan biologis antara ibu dan anak.

6. Human Milk Oligosaccharides (HMO)

Komponen ini sering kali jarang dibahas publik, padahal memiliki fungsi penting.

Human Milk Oligosaccharides (HMO) merupakan makanan bagi bakteri baik di saluran cerna bayi. Kehadirannya membantu membangun mikrobiota usus yang sehat, meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sekaligus melindungi bayi dari infeksi.

7. Enzim dan Hormon

ASI juga mengandung enzim dan hormon yang membantu proses pencernaan serta pengaturan metabolisme tubuh bayi.

Kandungan ini memperlihatkan bahwa ASI bukan hanya makanan, melainkan sistem biologis kompleks yang dirancang tubuh ibu secara alami.

Komposisi ASI yang Berubah Mengikuti Kebutuhan Bayi

Hal menarik lain dari ASI adalah sifatnya yang tidak statis. Komposisinya berubah sesuai waktu dan kebutuhan tubuh bayi.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, ASI terbagi menjadi tiga stadium.

1. Kolostrum: Perlindungan Awal Kehidupan

Pada hari pertama hingga sekitar hari ketujuh setelah kelahiran, ibu menghasilkan kolostrum.

Kolostrum merupakan cairan berwarna kekuningan yang sering disebut sebagai “imunisasi pertama” bagi bayi karena mengandung kadar Imunoglobulin A (IgA) sangat tinggi.

Meski volumenya tidak banyak, kolostrum kaya protein, mineral, dan zat kekebalan tubuh yang penting untuk melindungi bayi dari infeksi pada masa awal kehidupan.

Sayangnya, masih terdapat anggapan keliru di sebagian masyarakat bahwa cairan kekuningan ini tidak baik bagi bayi. Padahal, justru pada fase inilah bayi memperoleh perlindungan biologis awal yang sangat penting.

2. ASI Masa Transisi

Memasuki hari ketujuh hingga keempat belas, tubuh ibu mulai menghasilkan ASI transisi.

Pada fase ini, volume ASI meningkat secara signifikan. Kandungan lemak, laktosa, serta vitamin larut air juga meningkat untuk mendukung kebutuhan energi bayi yang terus berkembang.

Protein mulai menurun dibanding fase kolostrum, namun tetap berada pada tingkat yang diperlukan tubuh bayi.

3. ASI Matur

Setelah dua minggu pascakelahiran, ibu menghasilkan ASI matur.

ASI jenis ini biasanya berwarna lebih putih dengan kandungan sekitar 87 hingga 88 persen air dan sisanya berupa zat gizi.

Dalam satu sesi menyusui, ASI matur terbagi menjadi dua jenis.

Foremilk atau ASI awal memiliki tekstur lebih encer, kaya air, protein, dan laktosa untuk membantu menghilangkan rasa haus bayi.

Sementara hindmilk atau ASI akhir memiliki tekstur lebih kental dengan kandungan lemak lebih tinggi. Bagian ini membantu bayi merasa kenyang lebih lama sekaligus mendukung peningkatan berat badan.

Pemahaman mengenai fase ini penting karena tidak sedikit ibu yang menganggap ASI encer sebagai tanda kualitas ASI buruk, padahal hal tersebut merupakan bagian alami dari mekanisme menyusui.

Menyusui Bukan Hanya untuk Bayi

Manfaat menyusui ternyata tidak berhenti pada bayi. Ibu juga memperoleh dampak positif yang signifikan.

Proses menyusui membantu mempercepat pemulihan setelah persalinan karena merangsang kontraksi rahim dan mengurangi risiko perdarahan pascamelahirkan.

Dari sisi ekonomi, menyusui juga membantu keluarga mengurangi pengeluaran untuk pembelian susu tambahan pada masa awal kehidupan anak.

Lebih dari itu, aktivitas menyusui membangun hubungan emosional yang kuat antara ibu dan anak. Sentuhan, kontak mata, serta interaksi selama menyusui menjadi bagian penting dari perkembangan psikologis bayi.

Bagi ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, anak yang lebih sehat tentu berdampak pada stabilitas aktivitas sehari-hari. Risiko sakit yang lebih rendah berarti waktu pengasuhan dapat berjalan lebih optimal.

Tantangan Menyusui yang Masih Dihadapi Ibu Indonesia

Meski manfaat ASI telah banyak diketahui, praktik menyusui masih menghadapi berbagai tantangan.

Sebagian ibu harus kembali bekerja setelah masa cuti melahirkan selesai. Tidak semua tempat kerja menyediakan ruang laktasi yang memadai atau waktu khusus untuk memerah ASI.

Masih ada pula lingkungan sosial yang kurang mendukung, termasuk anggapan bahwa susu formula lebih praktis dibanding menyusui.

Di sisi lain, minimnya edukasi mengenai teknik menyusui dan penyimpanan ASI perah membuat sebagian ibu kehilangan kepercayaan diri saat menghadapi kendala laktasi.

Karena itu, keberhasilan menyusui tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada ibu.

Ada peran besar keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah, hingga tempat kerja dalam menciptakan lingkungan yang mendukung ibu menyusui.

Beberapa langkah yang dapat diperkuat antara lain meningkatkan edukasi tentang manfaat dan teknik menyusui, memperluas fasilitas ruang laktasi di tempat kerja, memberikan dukungan emosional kepada ibu, menyediakan waktu yang cukup untuk memerah ASI, serta memperkuat keterlibatan keluarga dalam pengasuhan bayi.

Membaca surat terbuka IDAI dan AIMI, publik sesungguhnya sedang diingatkan bahwa kebijakan gizi nasional perlu dibangun dengan kehati-hatian. Pemenuhan nutrisi anak memang penting, tetapi langkah tersebut semestinya tidak menggeser posisi ASI sebagai prioritas utama.

Generasi sehat tidak dibentuk hanya melalui intervensi jangka pendek, melainkan melalui keberanian menjaga praktik-praktik biologis terbaik yang telah terbukti selama puluhan tahun. Dukungan terhadap keberhasilan menyusui menjadi bagian penting dari investasi kesehatan bangsa, sebab kualitas sumber daya manusia masa depan sangat ditentukan sejak awal kehidupan.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *