Menghadirkan Ayah dalam Pengasuhan Anak, Memutus Rantai Fatherless di Indonesia

Foto Pribadi : Nabila Intan
Foto Pribadi : Nabila Intan

Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mengenal kasih sayang, rasa aman, dan perhatian. Di dalam rumah, anak belajar berbicara, memahami emosi, membangun kepercayaan diri, menghargai orang lain, hingga membentuk karakter yang akan melekat sepanjang hidupnya. Seluruh proses tersebut tidak hanya memerlukan kehadiran seorang ibu, tetapi juga keterlibatan aktif seorang ayah.

Namun, realitas yang terjadi masih menunjukkan adanya kesenjangan antara kehadiran fisik dan kehadiran emosional seorang ayah. Tidak sedikit anak yang tinggal serumah dengan ayahnya, tetapi hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk berbincang, bermain, berdiskusi, ataupun sekadar didengarkan. Ayah memang ada, tetapi belum benar-benar hadir dalam kehidupan anak.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini sering kali dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Dalam banyak keluarga, ayah diposisikan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan urusan pengasuhan, mendampingi belajar, mendengarkan keluh kesah, hingga memberikan dukungan emosional lebih banyak menjadi tanggung jawab ibu. Selama kebutuhan ekonomi keluarga terpenuhi, banyak orang menilai kewajiban ayah telah selesai.

Padahal, anggapan tersebut menyisakan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pembagian peran di dalam rumah.

Fenomena Fatherless Masih Menjadi Tantangan

Data Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menunjukkan sekitar 25,8 persen keluarga yang memiliki anak di Indonesia masih mengalami fenomena fatherless. Menariknya, sebagian besar anak dalam kelompok tersebut tetap tinggal bersama ayah mereka. Fakta ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukanlah ketiadaan sosok ayah secara fisik, melainkan minimnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan.

Kehadiran fisik ternyata belum tentu menghadirkan kedekatan emosional. Banyak ayah berangkat bekerja ketika anak belum bangun dan kembali ke rumah saat anak telah tertidur. Ada pula ayah yang sebenarnya memiliki waktu luang, tetapi tetap menyerahkan seluruh proses pengasuhan kepada pasangan. Akibatnya, hubungan antara ayah dan anak lebih banyak dibangun melalui pemenuhan kebutuhan materi dibandingkan dengan interaksi yang hangat dan penuh perhatian.

Tentu saja tidak bijaksana apabila seluruh kesalahan diarahkan kepada para ayah. Tuntutan ekonomi, beban pekerjaan, serta jam kerja yang panjang menjadi tantangan nyata yang dihadapi banyak kepala keluarga. Meski demikian, mencari nafkah tidak berarti melepaskan tanggung jawab untuk hadir dalam kehidupan anak.

Anak membutuhkan lebih dari sekadar biaya pendidikan, makanan, pakaian, atau fasilitas hidup yang memadai. Mereka juga memerlukan sosok yang bersedia mendengarkan cerita, memberikan pelukan ketika kecewa, menenangkan saat takut, serta membimbing ketika menghadapi kebingungan. Hal-hal sederhana seperti berbincang sebelum tidur, menemani belajar, atau bermain bersama sering kali meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam dibandingkan hadiah yang mahal.

Budaya yang Membentuk Jarak Emosional

Fenomena ini tidak terlepas dari budaya yang masih berkembang di masyarakat. Keberhasilan seorang ayah kerap diukur dari besarnya penghasilan yang dibawa pulang, sedangkan keberhasilan seorang ibu dinilai dari kemampuannya mengurus rumah tangga dan membesarkan anak. Pembagian peran tersebut membuat pengasuhan seolah menjadi wilayah eksklusif ibu.

Akibatnya, ketika seorang ayah aktif mengganti popok, mengantar anak ke sekolah, menemani belajar, atau memasak untuk keluarga, sebagian masyarakat justru menganggapnya sebagai tindakan yang luar biasa. Padahal, aktivitas tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua yang semestinya dijalankan bersama.

Cara pandang seperti ini perlahan diwariskan kepada generasi berikutnya. Anak laki-laki yang tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah berpotensi memahami bahwa menjadi ayah cukup dengan bekerja keras dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Saat mereka membangun keluarga sendiri, pola yang sama dapat kembali diulang. Siklus fatherless pun terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dampak terhadap Tumbuh Kembang Anak

Dampak dari minimnya keterlibatan ayah memang tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, prestasi belajar, hingga kesehatan mental anak.

Anak yang memperoleh perhatian dan dukungan emosional dari ayah cenderung lebih berani mengambil keputusan, memiliki kemampuan mengelola emosi yang lebih baik, serta lebih mudah membangun hubungan sosial yang sehat. Sebaliknya, anak yang jarang memperoleh perhatian dari ayah berisiko merasa kesepian, sulit mengekspresikan perasaan, mengalami krisis kepercayaan diri, bahkan terus mencari pengakuan dari lingkungan ketika memasuki usia dewasa.

Pengaruh tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun dan membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun orang lain. Karena itu, keterlibatan ayah bukan sekadar pelengkap dalam keluarga, melainkan kebutuhan mendasar bagi tumbuh kembang anak.

Membangun Budaya Pengasuhan Bersama

Persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengajak ayah meluangkan waktu lebih banyak bersama anak. Perubahan juga harus dimulai dari cara masyarakat memandang peran seorang ayah. Mengasuh anak bukan pekerjaan tambahan setelah pulang bekerja, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab sebagai orang tua.

Berbagai program yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan layak mendapat apresiasi. Edukasi mengenai pentingnya peran ayah perlu terus diperluas, baik melalui lingkungan pendidikan, komunitas, tempat kerja, maupun kebijakan pemerintah yang lebih ramah terhadap keluarga. Dukungan tersebut dapat membantu menciptakan ruang yang memungkinkan ayah lebih aktif terlibat dalam kehidupan anak tanpa merasa bertentangan dengan perannya sebagai pencari nafkah.

Perubahan budaya memang membutuhkan waktu. Namun, selama masyarakat masih menganggap ayah yang aktif mengasuh anak sebagai pengecualian, keterlibatan ayah tidak akan pernah menjadi kebiasaan yang mengakar.

Anak mungkin tidak akan mengingat berapa besar gaji ayahnya atau seberapa panjang jam kerja yang dijalani setiap hari. Yang akan mereka kenang adalah waktu yang disediakan untuk mendengarkan cerita, menemani belajar, menghibur ketika sedih, dan merayakan keberhasilan sekecil apa pun bersama. Kenangan-kenangan sederhana itulah yang membentuk rasa aman, percaya diri, dan keyakinan bahwa mereka dicintai tanpa syarat.

Seorang ayah bukan hanya hadir untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kehadirannya dalam setiap tahap pertumbuhan anak merupakan investasi emosional yang nilainya tidak dapat diukur dengan materi. Ketika ayah benar-benar hadir dalam pengasuhan, keluarga tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang pertama yang menumbuhkan generasi yang sehat, tangguh, dan penuh kasih.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *