Menjaga Hati Nurani di Era Disrupsi, Membumikan Humanisme dalam Society 5.0

Ilustrasi
Ilustrasi

Perkembangan teknologi berlangsung begitu cepat. Setelah melewati era Industri 4.0, masyarakat mulai memasuki Society 5.0, sebuah fase ketika kecerdasan buatan (AI), Big Data, dan Internet of Things (IoT) dikembangkan untuk membantu manusia menjalankan aktivitas secara lebih praktis dan efisien. Idealnya, Society 5.0 menghadirkan kehidupan yang nyaman sekaligus seimbang antara ruang fisik dan digital.

Namun, realitas tidak selalu seindah konsepnya. Media sosial dan kebebasan di internet juga melahirkan persoalan baru dalam interaksi sosial. Ujaran kebencian, berita bohong atau hoaks, perundungan, hingga cancel culture mudah ditemukan di ruang digital. Kita semakin terampil menggunakan teknologi, tetapi dalam situasi tertentu justru kehilangan empati dan kepedulian terhadap sesama.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengoperasikan teknologi saja tidak cukup. Kita membutuhkan literasi manusia (human literacy) dan pemahaman tentang estetika humanisme. Keindahan tidak semata-mata berkaitan dengan tampilan, tetapi juga tercermin melalui sikap, etika berkomunikasi, dan kemampuan menghargai manusia lain di tengah kemajuan teknologi.

Tantangan Kemanusiaan di Dunia Digital

Media sosial sering membuat seseorang merasa bebas mengatakan apa pun karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara. Jarak di balik layar dapat mengikis empati dan rasa tanggung jawab. Orang yang sopan dalam kehidupan nyata bisa berubah menjadi kasar ketika menulis komentar di internet.

Dalam perspektif estetika humanisme, merendahkan atau menghujat orang lain merupakan bentuk kemunduran etika. Keindahan yang sesungguhnya justru hadir melalui tutur kata yang santun, sikap kritis, dan penghormatan terhadap sesama.

Human Literacy di Era Society 5.0

Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusat pemanfaatan teknologi. Di sinilah human literacy menjadi penting. Komputer dan AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi, tetapi teknologi tidak memiliki hati nurani, empati, dan kasih sayang seperti manusia.

Karena itu, kemampuan yang perlu diasah, khususnya oleh mahasiswa, bukan hanya keterampilan teknis, melainkan juga berpikir kritis, memahami perasaan orang lain, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Membumikan Estetika Humanisme

Penerapan estetika humanisme dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: berpikir sebelum mengetik, menggunakan bahasa yang menyejukkan, serta mendukung hal-hal positif. Ketika menemukan unggahan yang memancing emosi, kita perlu berhenti sejenak dan memeriksa kebenarannya sebelum memberikan komentar.

Teknologi akan terus berkembang dan tidak mungkin dihindari. Namun, secanggih apa pun teknologi, hati nurani dan karakter manusia tetap menjadi penentu. Estetika humanisme mengingatkan kita agar tidak menjadi manusia yang dingin dan egois di ruang digital. Teknologi semestinya digunakan untuk menyebarkan kebaikan, mempererat hubungan sosial, serta membangun masyarakat digital yang santun dan beradab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *