Legokulon, Krajan.id – Pembangunan desa tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur. Kualitas manusia yang sehat, berpendidikan, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial menjadi bagian penting dari keberlanjutan pembangunan di tingkat desa.
Perspektif tersebut menjadi pijakan Mahasiswa KKN-BBK 8 Universitas Airlangga (Unair) dalam menjalankan berbagai program di Desa Legokulon. Alih-alih menyasar satu kelompok tertentu, program yang dijalankan mencakup sejumlah fase kehidupan, mulai dari anak usia sekolah, ibu balita, hingga kelompok lansia.
Rangkaian kegiatan itu bergerak pada dua bidang utama, yakni pendidikan dan kesehatan masyarakat. Program yang dilaksanakan juga berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Di bidang pendidikan, mahasiswa memulai intervensi melalui Program SAHABAT atau Sadari Anti Bullying, Hidup Aman Bersama Teman. Kegiatan tersebut berlangsung di SDN 1 Legokulon pada Jumat (17/7/2026) dan SDN 2 Legokulon pada Rabu (22/7/2026).
Program SAHABAT diarahkan untuk membantu siswa mengenali berbagai bentuk perundungan, memahami dampaknya terhadap korban, sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai.
Penyampaian materi tidak dilakukan secara satu arah. Mahasiswa menggunakan video, permainan edukatif, aktivitas menulis pengalaman terkait perundungan, serta deklarasi antiperundungan bersama siswa. Pendekatan tersebut dimaksudkan agar siswa tidak hanya mengetahui pengertian bullying, tetapi juga memiliki ruang untuk mengungkapkan pengalaman dan perasaannya.
PIC Program SAHABAT, Anandita Oktaviani Br. Sembiring Milala, mengatakan keterbukaan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun karakter saling menghargai di lingkungan sekolah.
“Melalui penyampaian dengan metode ini, kami ingin memberikan ruang bagi adik-adik untuk berani bercerita. Harapannya, mereka dapat lebih terbuka dalam menyampaikan pengalaman maupun perasaan mereka terkait bullying sehingga tidak memendam masalah sendirian,” ujarnya.
Kepala SDN 1 Legokulon, Retno Hastutik, juga mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurut dia, materi yang disampaikan memiliki kedekatan dengan kehidupan siswa dan relevan untuk terus diperkenalkan di lingkungan sekolah.
“Kegiatan ini sangat membantu pihak sekolah untuk memberikan pemahaman tambahan kepada anak-anak mengenai pentingnya menghargai teman dan menghindari perilaku perundungan. Kami berharap nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah,” ungkap Retno.
Penguatan pendidikan dasar kemudian dilanjutkan melalui Program LENSA CALISTUNG. Kegiatan tersebut berlangsung dalam tiga pertemuan di Kantor Desa Legokulon pada 15, 22, dan 29 Juli 2026.
Melalui program itu, mahasiswa memberikan pendampingan membaca, menulis, dan berhitung kepada anak-anak. Metode pembelajaran dibuat interaktif untuk mendorong kepercayaan diri anak dalam mengikuti kegiatan belajar.
Kegiatan pendidikan tidak berhenti pada kemampuan akademik. Mahasiswa juga mengembangkan SADA GENTA yang dilaksanakan di Masjid Miftahul Jannah pada 20, 28, dan 30 Juli 2026.
SADA GENTA mengajak anak-anak mengenal perjalanan dan kisah para nabi. Materi tersebut digunakan sebagai sarana untuk mengenalkan nilai kesabaran, tanggung jawab, serta akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
PIC Program LENSA CALISTUNG dan SADA GENTA, Fariz Armand Fadhilah, mengatakan kedua program tersebut dirancang untuk berjalan beriringan antara penguatan kemampuan dasar dan pembentukan karakter.
“Melalui LENSA CALISTUNG kami berupaya membantu anak-anak memperkuat kemampuan dasar melalui metode yang menyenangkan. Sementara melalui SADA GENTA, kami ingin menanamkan nilai-nilai karakter melalui kisah teladan para nabi sehingga anak-anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang positif,” ujarnya.
Setelah menyasar pendidikan anak, rangkaian kegiatan KKN-BBK 8 berlanjut pada aspek kesehatan masyarakat. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berupa penyampaian informasi, tetapi juga pembiasaan dan praktik.
Program GEMAS atau Gerakan Mencuci Tangan dengan Air dan Sabun dilaksanakan di SDN 1 Legokulon pada Kamis (23/7/2026) dan SDN 2 Legokulon pada Kamis (30/7/2026).
Program tersebut diarahkan untuk memperkenalkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada siswa. Selain memperoleh edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan, siswa mempraktikkan enam langkah mencuci tangan yang benar melalui demonstrasi dan permainan interaktif.
PIC Program GEMAS, Mufarrija Aisya Zahra, mengatakan kebiasaan sederhana dapat menjadi bagian awal dari pembentukan pola hidup bersih.
“Kami berharap kebiasaan kecil seperti mencuci tangan menggunakan sabun dapat menjadi awal bagi para murid untuk menerapkan kebersihan pada diri sendiri serta, di lingkungan sekitar mereka,” jelasnya.
Sementara itu, kelompok ibu balita menjadi sasaran Program SUAP CERIA. Program yang dilaksanakan di Balai Desa Legokulon pada Jumat (24/7/2026) tersebut memberikan edukasi mengenai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia dan kebutuhan gizi anak.
Mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi. Kegiatan juga dilengkapi demonstrasi pengolahan MPASI menggunakan bahan pangan lokal. Para ibu memperoleh leaflet berisi resep yang dapat digunakan sebagai panduan untuk menyiapkan makanan bergizi bagi balita.
PIC Program SUAP CERIA, Euodia Feberibka, mengatakan pemahaman mengenai MPASI perlu disampaikan dengan cara yang praktis agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui SUAP CERIA, kami ingin membantu para ibu memahami bahwa pemberian MPASI tidak harus mahal ataupun rumit. Dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah dijumpai di sekitar, kebutuhan gizi anak tetap dapat terpenuhi apabila diolah sesuai dengan usia dan kebutuhannya,” ujarnya.
Bidan Desa Legokulon, Endah Tri Wimbo, mengapresiasi program tersebut. Menurut dia, kegiatan SUAP CERIA tidak hanya memperkuat pemahaman ibu mengenai pemberian MPASI berdasarkan usia anak, tetapi juga memperkenalkan variasi bahan pangan yang dapat digunakan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pentingnya pemberian MPASI yang sesuai dengan usia anak, tetapi juga mengajarkan cara mengolah MPASI menggunakan bahan pangan yang lebih variatif. Harapannya, melalui edukasi pada proker ini para ibu dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak yang berdampak pada penurunan angka stunting,” tuturnya.
Perhatian terhadap kesehatan masyarakat kemudian diperluas kepada kelompok lansia melalui Program WARAS. Kegiatan yang digelar di Balai Desa Legokulon pada Senin (27/7/2026) tersebut memadukan pemeriksaan kesehatan dasar dan senam bersama.
Program WARAS bertujuan meningkatkan kesadaran lansia terhadap pentingnya pemantauan kondisi kesehatan secara berkala. Aktivitas fisik juga diperkenalkan sebagai bagian dari upaya mempertahankan kebugaran dan pola hidup aktif pada usia lanjut.
PIC Program WARAS, Ekky Regita Adelia, mengatakan kesehatan lansia perlu dijaga melalui kebiasaan hidup sehat dan aktivitas fisik, bukan hanya mengandalkan pengobatan.
“Melalui WARAS, kami berharap para lansia semakin peduli terhadap kondisi kesehatannya dan termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat agar tetap aktif serta produktif dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Rangkaian program tersebut memperlihatkan pendekatan KKN-BBK 8 Unair yang menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai proses yang menyentuh berbagai kelompok usia. Anak-anak memperoleh penguatan dalam aspek akademik, karakter, dan kebiasaan hidup bersih. Ibu balita mendapat dukungan pengetahuan mengenai pemenuhan gizi anak. Sementara lansia didorong untuk lebih aktif memantau kesehatan dan menjaga kebugaran.
Pendekatan lintas usia tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dan kesehatan tidak berdiri sendiri. Kemampuan membaca dan berhitung perlu berjalan bersama pembentukan karakter. Edukasi kesehatan membutuhkan pembiasaan. Pemenuhan gizi anak juga membutuhkan pengetahuan keluarga, sedangkan kesehatan lansia berkaitan dengan kesadaran menjaga pola hidup.
Bagi Desa Legokulon, rangkaian kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga komunitas. Mahasiswa tidak hanya membawa materi, tetapi juga mengupayakan agar pengetahuan yang diberikan dapat dipraktikkan dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, KKN-BBK 8 Universitas Airlangga menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari pembangunan desa. Pendidikan, kesehatan, gizi, karakter, serta kepedulian sosial menjadi unsur yang saling berkaitan dalam membentuk masyarakat yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya.





