Kecamatan Pitu, Krajan.id – Setelah menjalani pengabdian selama 28 hari, mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR) di Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, menutup rangkaian kegiatan melalui Expo KKN. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil program kerja sekaligus memperlihatkan proses kolaborasi yang telah dibangun bersama masyarakat.
Expo KKN BBK 8 UNAIR Kecamatan Pitu berlangsung pada Rabu (5/8/2026) pukul 08.00-11.00 WIB. Kegiatan tersebut dihadiri perangkat desa, kepala desa, siswa SMPN 1 Pitu dan SMKN 1 Pitu, serta masyarakat dari sejumlah desa di Kecamatan Pitu.
Sekitar 151 orang hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran masyarakat dan pelajar membuat setiap stan yang disiapkan mahasiswa menjadi ruang interaksi untuk memperkenalkan berbagai kegiatan yang telah dijalankan selama masa pengabdian.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Koordinator Mahasiswa BBK 8 Kecamatan Pitu, Zhahnas, kemudian dilanjutkan sambutan Ketua Koordinator Kecamatan Pitu, Oky. Rangkaian pembukaan diteruskan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Airlangga.
Bagi mahasiswa, expo tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan kembali berbagai kegiatan yang telah mereka lakukan selama berada di desa. Setiap kelompok BBK 8 UNAIR dari berbagai desa di Kecamatan Pitu menyiapkan stan yang memuat dokumentasi, informasi, serta hasil program kerja.
Materi yang ditampilkan tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi. Stan menjadi sarana bagi masyarakat untuk melihat kembali bentuk kegiatan yang telah dilakukan mahasiswa bersama warga di masing-masing desa.
Setiap kelompok juga mengemas stan dengan konsep yang kreatif. Pengunjung dapat melihat hasil kegiatan sekaligus berinteraksi langsung dengan mahasiswa yang berada di masing-masing stan.
Suasana expo semakin ramai karena panitia dan kelompok mahasiswa menyediakan sejumlah permainan sederhana. Siswa dan masyarakat yang datang dapat mengikuti permainan di setiap stan. Kegiatan tersebut membuat interaksi antara mahasiswa dan pengunjung berlangsung lebih cair.
Panitia juga menyediakan hadiah bagi peserta permainan serta doorprize berupa tanaman. Kehadiran permainan dan hadiah menjadi bagian dari cara mahasiswa menarik perhatian pengunjung sekaligus memperkenalkan hasil program kerja yang telah dilaksanakan selama pengabdian masyarakat.
Selain menjadi ruang presentasi program, expo tersebut juga mendapat tanggapan dari masyarakat. Salah satu perwakilan warga mengapresiasi kegiatan BBK 8 UNAIR dan berharap program yang telah dilaksanakan dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak.
“Semoga mas dan mbak mahasiswa KKN semakin sukses dan dapat mewujudkan cita-cita yang diimpikan. Kami berharap seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan dapat memberikan manfaat, baik bagi masyarakat maupun mahasiswa. Jika selama pelaksanaan kegiatan terdapat kesalahan atau kekurangan dari warga, kami selaku perwakilan masyarakat Desa Dumplengan memohon maaf sebesar-besarnya,” ujarnya.
Perwakilan warga tersebut juga menilai penyajian hasil program kerja dalam expo telah berjalan dengan baik. Menurut dia, kegiatan yang ditampilkan setiap kelompok menunjukkan hasil dari program yang telah dijalankan selama mahasiswa berada di Kecamatan Pitu.
“Dari pameran yang saya lihat, semuanya sudah bagus. Program-program kerja yang telah dijalankan juga terlihat berhasil dan memberikan hasil yang baik,” tambahnya.
Dukungan terhadap pelaksanaan BBK 8 UNAIR juga disampaikan Camat Pitu, Broto. Ia mengapresiasi keputusan UNAIR menempatkan mahasiswa untuk melaksanakan pengabdian selama 28 hari di Kecamatan Pitu.
Menurut Broto, pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi akan memiliki nilai lebih ketika diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat. Pengabdian menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk menguji sekaligus membagikan pengetahuan yang mereka miliki.
“Ilmu itu tidak selalu dapat dilihat wujudnya, tetapi tersimpan dalam diri dan akan lebih bermanfaat apabila disalurkan serta diaplikasikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Apa pun program studi dan jurusan yang ditempuh, semuanya pasti memiliki manfaat,” tuturnya.
Broto juga menyampaikan terima kasih kepada UNAIR karena telah memilih Kecamatan Pitu sebagai lokasi pelaksanaan BBK. Ia menilai kehadiran mahasiswa memberikan perhatian tersendiri bagi masyarakat, terlebih Kecamatan Pitu selama ini kerap dipandang sebagai wilayah yang berada di pinggiran.
“Terima kasih kepada UNAIR yang telah berkenan hadir dan menempatkan mahasiswa di Kecamatan Pitu. Dampak dari kegiatan pengabdian tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat. Namun, kami percaya bahwa program yang telah dilaksanakan akan memberikan manfaat dan dampak positif secara bertahap bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Broto, Expo KKN juga mampu menggambarkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan mahasiswa selama menjalankan pengabdian. Ia menilai kesederhanaan konsep bukan persoalan selama terdapat hasil konkret yang dapat diperlihatkan kepada masyarakat.
“Pameran ini meskipun sederhana sudah mampu merepresentasikan berbagai kegiatan yang telah dilakukan selama mahasiswa berada di sini. Sederhana tidak menjadi masalah, yang terpenting ada hasil dan wujud nyata yang dapat ditunjukkan,” ujarnya.
Expo KKN BBK 8 UNAIR dengan demikian tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian mahasiswa selama 28 hari. Kegiatan tersebut juga mempertemukan kembali mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam ruang yang memperlihatkan hasil kerja bersama.
Berbagai dokumentasi dan hasil program yang ditampilkan menjadi gambaran atas proses yang telah berlangsung selama mahasiswa berada di Kecamatan Pitu. Di sisi lain, apresiasi masyarakat dan pemerintah kecamatan menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa tidak hanya dinilai dari kegiatan yang berlangsung selama masa pengabdian, tetapi juga dari manfaat yang diharapkan dapat terus dirasakan setelah program berakhir.
Kegiatan Expo KKN berlangsung lancar hingga ditutup pada pukul 11.00 WIB. Bagi BBK 8 UNAIR, expo tersebut menjadi bagian akhir dari rangkaian pengabdian sekaligus ruang untuk menunjukkan bahwa pengetahuan dari kampus dapat dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat melalui kerja bersama.





