Tawun, Krajan.id – Usaha tempe rumahan milik Keluarga Kamto di Dusun Bugel, Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, telah bertahan sejak 1977. Setelah hampir lima dekade berjalan sebagai usaha keluarga, produk tempe tersebut kini mulai memiliki identitas yang lebih jelas melalui pendampingan branding mahasiswa Bina Desa dan Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR).
Pendampingan tersebut dilakukan melalui program TEMAN (Tempe Makin Dikenal) pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026. Program ini diarahkan untuk membantu Keluarga Kamto membangun identitas produk melalui pemberian merek dan label pada kemasan tempe yang selama ini dipasarkan tanpa identitas visual.
Selama menjalankan usaha, Keluarga Kamto memproduksi tempe secara rutin sebagai bagian dari kegiatan ekonomi rumah tangga. Namun, produk yang dihasilkan belum memiliki merek maupun label yang dapat menjadi penanda bagi konsumen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa BBK 8 UNAIR Desa Tawun. Bagi usaha rumahan, identitas pada kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pembeda dari produk sejenis, tetapi juga dapat memberikan informasi mengenai nama produk, asal produksi, serta kontak produsen.
Pendampingan kemudian dimulai dengan diskusi bersama Keluarga Kamto. Mahasiswa menggali karakter produk, sejarah usaha, asal produksi, serta informasi yang dianggap penting untuk ditampilkan pada kemasan.
Dari proses tersebut, mahasiswa dan Keluarga Kamto memilih nama “Tempe Bugel” sebagai merek produk. Nama tersebut merujuk pada Dusun Bugel sebagai lokasi produksi tempe sekaligus menjadi bagian dari identitas lokal produk.
Penggunaan nama wilayah dinilai dapat membuat produk lebih mudah dikenali. Selain menunjukkan asal produksi, nama tersebut memberikan ciri yang dekat dengan lingkungan tempat usaha Keluarga Kamto berkembang selama bertahun-tahun.
Setelah merek ditentukan, mahasiswa melanjutkan pendampingan dengan merancang stiker sebagai identitas visual produk. Stiker tersebut memuat nama Tempe Bugel, logo, pilihan warna, informasi produk, serta nomor kontak produsen.
Penyusunan elemen visual dilakukan dengan mempertimbangkan keterbacaan informasi dan kesesuaian dengan kemasan. Setelah desain selesai, stiker dicetak dan diterapkan langsung pada produk.
Mahasiswa juga mendampingi Keluarga Kamto dalam menyesuaikan ukuran serta posisi stiker agar dapat ditempel dengan baik tanpa mengganggu kemasan produk. Tahapan tersebut sekaligus menjadi perubahan sederhana dari pola pemasaran sebelumnya yang hanya menggunakan bungkus plastik tanpa label.
Bagi usaha yang telah berjalan sejak 1977, pemberian merek menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pengenalan produk. Keberadaan nama Tempe Bugel membuat konsumen memiliki penanda ketika hendak membeli kembali produk tersebut.
Selain nama merek, pencantuman nomor kontak produsen juga membuka peluang terjadinya pemesanan ulang secara lebih mudah. Informasi yang terdapat pada label sekaligus membantu konsumen mengetahui identitas produk dan pihak yang memproduksinya.
Produsen tempe, Bapak Kamto, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan mahasiswa BBK 8 UNAIR. Ia mengatakan produk tempenya sebelumnya belum memiliki identitas pada kemasan.
“Terima kasih sudah membuatkan stiker merek bagi tempe kami, sebelumnya hanya bungkus plastik saja,” ujar Bapak Kamto.
Pendampingan melalui program TEMAN tidak mengubah proses produksi yang selama ini dijalankan Keluarga Kamto. Fokus kegiatan berada pada penguatan identitas produk agar tempe yang telah diproduksi secara turun-temurun tersebut memiliki penanda yang dapat dikenali konsumen.
Bagi mahasiswa, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pelaku usaha lokal melalui pendampingan yang dapat diterapkan secara langsung. Merek dan stiker yang telah dibuat diharapkan dapat digunakan secara berkelanjutan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan usaha.
Program TEMAN dikoordinasikan oleh Rama Yurandika Pratama dari Program Studi Manajemen, Fathi Ahmad Nazal dari Program Studi Kedokteran, Ahmad Faiz Abimanyu dari Program Studi Hukum, dan Calista Alifiyah dari Program Studi Farmasi.
Kegiatan tersebut juga mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth, khususnya melalui penguatan identitas usaha rumah tangga dan peningkatan kapasitas pelaku ekonomi lokal.
Pendampingan branding ini menjadi langkah awal bagi Keluarga Kamto untuk memperkenalkan Tempe Bugel dengan identitas yang lebih jelas. Usaha yang telah bertahan sejak 1977 tersebut kini memiliki nama dan penanda produk yang dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan pemasaran pada masa mendatang.





