Muntuilan, Krajan.id – Persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2027 tidak cukup dilakukan menjelang ujian. Pembiasaan belajar, pemetaan kemampuan, dan latihan soal perlu dibangun sejak dini. Gagasan itu diterapkan SMP Negeri 1 Muntilan melalui kolaborasi dengan Universitas Tidar (UNTIDAR) dalam program Magang Kependidikan Terintegrasi.
Pada Agustus 2026, mahasiswa UNTIDAR menyelenggarakan Les TKA Intensif bagi seluruh siswa kelas 9. Program tersebut berlangsung dalam dua gelombang, yakni 19-20 Agustus dan 26-27 Agustus 2026. Siswa mengikuti pembelajaran secara bergiliran dalam empat bidang studi, yaitu Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Program ini tidak sekadar menambah jam belajar. Mahasiswa merancang pembelajaran dengan menyesuaikan materi dan kebutuhan siswa. Pendekatan tersebut penting karena kesiapan menghadapi TKA bukan hanya ditentukan materi, tetapi juga kemampuan memahami pola soal, mengelola waktu, dan memilih strategi penyelesaian.
Dalam pembelajaran Matematika, materi difokuskan pada Aljabar yang mencakup Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, Bentuk Aljabar, Relasi dan Fungsi, serta Barisan dan Deret. Adapun pembelajaran IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris diarahkan pada pengerjaan serta pembahasan latihan soal TKA. Pola tersebut memberi kesempatan kepada siswa mengenali karakter soal sekaligus mengevaluasi cara berpikir ketika mengerjakannya.
Efektivitas program diukur melalui pre-test dan post-test. Pre-test diberikan pada awal pertemuan untuk memetakan kemampuan awal siswa, sedangkan post-test dilakukan pada akhir sesi untuk melihat perkembangan pemahaman. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai pada seluruh mata pelajaran.
Bagi sekolah, kegiatan ini memiliki dimensi lebih luas. Kepala SMP Negeri 1 Muntilan, Sobirin, menilai program tersebut tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bagi mahasiswa yang terlibat sebagai calon pendidik.
“Mereka belajar mentransformasikan teori perkuliahan menjadi praktik mengajar yang nyata di lapangan. Ini adalah ekosistem pendidikan yang ideal,” ujar Sobirin.
Pengalaman berada langsung di ruang kelas memberi mahasiswa kesempatan memahami karakter siswa yang beragam. Mereka dituntut menyusun strategi pembelajaran adaptif, berkomunikasi efektif, serta menyesuaikan penyampaian materi dengan kemampuan peserta didik. Pengalaman semacam ini menjadi bekal penting sebelum memasuki dunia pendidikan profesional.
Antusiasme siswa selama kegiatan menjadi catatan. Program tersebut diharapkan dapat berlanjut sebagai agenda tahunan sehingga pembinaan akademik tidak berhenti pada persiapan menghadapi TKA 2027. Bagi siswa kelas 9, proses belajar konsisten dapat menjadi modal menghadapi evaluasi akademik dengan lebih percaya diri.

Kolaborasi SMP Negeri 1 Muntilan dan UNTIDAR menunjukkan bahwa hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah dapat menghasilkan manfaat timbal balik. Siswa memperoleh pendampingan akademik, sementara mahasiswa mendapatkan ruang menguji pengetahuan pedagogis dalam situasi nyata.
Persiapan menghadapi TKA bukan semata tentang mengejar nilai. Proses tersebut merupakan latihan membangun kebiasaan belajar, ketekunan, dan kemampuan memecahkan persoalan. Dari ruang kelas di Muntilan, ikhtiar itu mulai dibangun untuk menyongsong TKA 2027.





