Ekonomi Lagi Mencekik, Tetapi Kenapa Coffee Shop Selalu Penuh? Ini Faktanya

Di tengah berbagai kabar mengenai pelemahan ekonomi, satu pemandangan justru tampak kontras. Coffee shop dipenuhi pengunjung hampir setiap hari. Antrean pembelian mainan koleksi seperti Labubu dan Pop Mart mengular selama berjam-jam. Tiket konser musisi papan atas habis terjual dalam hitungan menit. Di sisi lain, masyarakat terus disuguhi berita tentang melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), serta tekanan terhadap daya beli.

Dua realitas tersebut hadir secara bersamaan dan memunculkan pertanyaan menarik. Jika kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, mengapa berbagai aktivitas konsumsi justru terlihat semakin marak?

Bacaan Lainnya

Fenomena ini tidak sesederhana persoalan masyarakat memiliki uang lebih atau tidak. Ada faktor psikologis, sosial, dan budaya yang bekerja di balik keputusan seseorang ketika mengeluarkan uang di tengah ketidakpastian ekonomi.

Coffee Shop Tetap Ramai Saat Ekonomi Melambat

Industri kopi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Berdasarkan data yang beredar pada November 2025, Indonesia memiliki sekitar 461.991 coffee shop dan menjadi negara dengan jumlah kedai kopi terbanyak di dunia, melampaui China, Amerika Serikat, maupun Vietnam. Di Yogyakarta saja, jumlah kedai kopi yang tercatat mencapai sekitar 3.500 unit.

Pada saat bersamaan, indikator ekonomi justru menunjukkan tekanan yang semakin nyata. Per 2 Juni 2026, nilai tukar rupiah tercatat menyentuh Rp17.864 per dolar Amerika Serikat. Bagi banyak ekonom, pelemahan kurs merupakan salah satu sinyal yang menggambarkan meningkatnya tekanan terhadap perekonomian nasional.

Secara logika sederhana, kondisi ekonomi yang memburuk seharusnya membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Meja-meja kafe tetap penuh, pusat perbelanjaan ramai, dan berbagai produk gaya hidup masih memiliki pasar yang kuat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi manusia tidak selalu bergerak mengikuti logika ekonomi semata.

Ketika Konsumsi Menjadi Bagian dari Identitas

Banyak orang beranggapan bahwa anak muda datang ke coffee shop hanya untuk menikmati secangkir kopi. Padahal, fungsi tempat tersebut telah berkembang jauh melampaui sekadar lokasi untuk membeli minuman.

Coffee shop kini menjadi ruang sosial tempat seseorang membangun citra diri, menjalin relasi, bekerja, hingga menunjukkan identitas sosialnya. Hal yang sama juga terjadi pada komunitas kolektor Labubu, penggemar parfum lokal, sneakerhead, pencinta skincare, maupun penggemar konser musik.

Produk yang mereka beli sering kali bukan sekadar barang. Di balik pembelian tersebut terdapat nilai simbolik yang memberi rasa memiliki terhadap suatu kelompok sosial tertentu.

Dalam perspektif antropologi, konsumsi tidak hanya berkaitan dengan fungsi sebuah barang. Barang juga berfungsi sebagai simbol yang membantu seseorang menunjukkan siapa dirinya, komunitas mana yang ia ikuti, dan posisi apa yang ingin ia tampilkan di hadapan lingkungan sosialnya.

Karena itu, menghentikan kebiasaan tertentu sering kali terasa lebih sulit daripada yang dibayangkan. Bukan semata karena seseorang menyukai produknya, melainkan karena produk tersebut telah menjadi bagian dari identitas sosialnya.

Ketika seseorang berhenti mengikuti tren yang berkembang di komunitasnya, muncul kekhawatiran akan kehilangan keterhubungan sosial atau dianggap tidak lagi relevan dalam lingkaran pergaulannya.

Lipstick Effect dan Kebutuhan Akan Kebahagiaan yang Terjangkau

Fenomena ini dikenal dalam ilmu ekonomi dan perilaku konsumen sebagai Lipstick Effect.

Istilah tersebut populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Saat kondisi ekonomi mengalami tekanan, pendiri perusahaan kosmetik Estee Lauder, Leonard Lauder, mengamati bahwa penjualan lipstik justru meningkat.

Temuan tersebut memunculkan sebuah pola yang kemudian berulang pada berbagai periode krisis ekonomi. Ketika masyarakat tidak mampu membeli barang-barang mewah bernilai besar, mereka cenderung mencari alternatif yang lebih murah tetapi tetap memberikan sensasi kebahagiaan.

Seseorang mungkin menunda membeli rumah, mobil, atau berlibur ke luar negeri. Namun, ia masih bersedia mengeluarkan uang untuk secangkir kopi premium, parfum baru, skincare, tiket konser, atau blind box koleksi favoritnya.

Dari sisi psikologi, perilaku ini berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk memperoleh penghargaan terhadap diri sendiri. Aktivitas konsumsi tertentu memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu senyawa kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan.

Menariknya, otak tidak selalu membedakan antara sumber kebahagiaan yang mahal dan yang relatif murah. Sensasi membuka blind box seharga Rp200.000 dapat menghasilkan kegembiraan yang hampir setara dengan pembelian barang yang jauh lebih mahal.

Di tengah tekanan ekonomi, banyak orang memilih bentuk kebahagiaan yang masih berada dalam jangkauan finansial mereka.

Gejala tersebut juga terlihat dalam data ekonomi domestik. Data LPEM FEB UI menunjukkan bahwa pengeluaran untuk elektronik dan pakaian mengalami penurunan. Sebaliknya, inflasi jasa perawatan pribadi meningkat dari 3,56 persen menjadi 8,71 persen hanya dalam kurun satu tahun. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat masih bersedia mengalokasikan dana untuk kebutuhan yang berkaitan dengan kenyamanan dan kepuasan personal.

Saat Pengeluaran Kecil Menjadi Beban Besar

Fenomena ini sebenarnya tidak berbahaya selama masih berada dalam batas yang sehat.

Masalah mulai muncul ketika pengeluaran kecil dilakukan secara rutin tanpa perencanaan dan tanpa disadari akumulasinya.

Sebagai ilustrasi, secangkir kopi seharga Rp30.000 per hari mungkin terlihat sepele. Namun, dalam satu tahun jumlahnya mencapai sekitar Rp10,8 juta. Dalam kurun sepuluh tahun, nilainya menjadi Rp108 juta, bahkan belum memperhitungkan kenaikan harga.

Jika dana tersebut dialokasikan ke instrumen investasi seperti reksa dana dengan asumsi imbal hasil rata-rata 10 persen per tahun, nilainya berpotensi berkembang menjadi lebih dari Rp180 juta dalam jangka panjang.

Logika yang sama berlaku pada berbagai pengeluaran hiburan lainnya. Blind box seharga Rp150.000 mungkin terasa murah dibandingkan tas bermerek yang harganya jutaan rupiah. Akan tetapi, pembelian tiga blind box setiap bulan setara dengan pengeluaran sekitar Rp5,4 juta dalam setahun.

Jumlah tersebut belum termasuk biaya langganan digital, pembelian merchandise, tiket konser, atau berbagai bentuk konsumsi impulsif lain yang kini semakin mudah dilakukan melalui platform digital.

Menikmati Hidup Tanpa Terjebak Konsumsi Berlebihan

Menjadi bijak secara finansial bukan berarti harus berhenti menikmati hidup. Menikmati kopi, menghadiri konser, atau mengoleksi barang favorit bukanlah sesuatu yang keliru.

Yang perlu dibangun adalah kesadaran mengenai batas antara kebutuhan emosional dan kemampuan finansial.

Langkah pertama adalah menghitung secara jujur seluruh pengeluaran untuk hiburan, kopi, skincare, koleksi, dan aktivitas gaya hidup lainnya selama satu bulan. Banyak orang terkejut ketika mengetahui total nominal yang sebenarnya mereka keluarkan.

Langkah berikutnya adalah menetapkan anggaran khusus untuk kebutuhan rekreasi atau self-reward, misalnya sekitar 5 hingga 10 persen dari pendapatan bulanan. Cara ini memungkinkan seseorang tetap menikmati kesenangan tanpa mengganggu tujuan keuangan jangka panjang.

Sebagian dana juga dapat dialihkan secara rutin ke aset produktif seperti reksa dana, Surat Berharga Negara (SBN), atau emas. Menariknya, melihat nilai investasi yang terus bertumbuh juga dapat memberikan kepuasan psikologis yang tidak kalah besar dibandingkan konsumsi sesaat.

Ramainya coffee shop dan panjangnya antrean blind box bukanlah bukti bahwa ekonomi sedang baik-baik saja. Fenomena tersebut justru menunjukkan bagaimana masyarakat berusaha mencari ruang kenyamanan di tengah tekanan yang sulit mereka kendalikan. Di balik secangkir kopi atau sebuah kotak koleksi, terdapat kebutuhan manusia untuk merasa tenang, diterima, dan tetap bahagia saat situasi ekonomi tidak sepenuhnya berpihak.

Menikmati hidup adalah hal yang wajar. Namun, memahami alasan di balik setiap pengeluaran jauh lebih penting. Secangkir kopi mungkin hanya habis dalam beberapa menit, sementara keputusan finansial yang diambil hari ini dapat menentukan kualitas hidup bertahun-tahun ke depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *