Surabaya, Krajan.id – Upaya meningkatkan kualitas gizi balita tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, disertai edukasi kepada keluarga, dapat menjadi fondasi penting dalam mencegah berbagai persoalan gizi pada anak usia dini.
Berangkat dari semangat tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kampung Pancasila Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menghadirkan program unggulan bidang kesehatan melalui edukasi gizi dan pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal kepada balita di RW 5, Kelurahan Karah, Surabaya.
Program yang berlangsung pada Kamis (9/7) itu tidak hanya berfokus pada pembagian makanan tambahan, tetapi juga memberikan pendampingan kepada orang tua agar mampu memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai sumber gizi yang mudah diperoleh, bernilai gizi tinggi, dan terjangkau.
Program tersebut disusun berdasarkan hasil pendataan bersama Kader Surabaya Hebat (KSH). Dari total 87 balita yang berada di RW 5 Kelurahan Karah, sebanyak 25 balita tercatat mengalami growth faltering, yakni kondisi berat badan yang tidak mengalami kenaikan berdasarkan grafik Kartu Menuju Sehat (KMS). Kondisi itu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi proses tumbuh kembang anak apabila tidak segera mendapatkan pendampingan yang tepat.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN merancang intervensi yang tidak hanya berupa pemberian makanan tambahan, tetapi juga peningkatan pengetahuan keluarga mengenai pemenuhan kebutuhan gizi balita.
Pendekatan yang digunakan dilakukan secara door to door mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dengan menyasar rumah-rumah balita di RT 1 hingga RT 5. Melalui metode tersebut, mahasiswa dapat memberikan edukasi secara lebih personal sekaligus berdialog langsung dengan orang tua mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
Dalam setiap kunjungan, mahasiswa juga menggali kebiasaan makan balita, pola konsumsi keluarga, hingga kendala yang sering muncul selama proses pemberian makan. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan solusi yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah Pudding LAKAJO (Labu Kuning Kacang Ijo), produk PMT berbasis pangan lokal yang diformulasikan langsung oleh mahasiswa Program Studi Gizi UIN Sunan Ampel Surabaya.
Produk tersebut dirancang tidak hanya memiliki cita rasa yang disukai balita, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan energi dan zat gizi makro sebagai makanan tambahan.
LAKAJO terdiri atas tiga lapisan, yakni puding labu kuning, puding kacang hijau, dan lapisan santan. Dalam formulanya turut ditambahkan telur serta susu sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang berperan mendukung pembentukan jaringan tubuh, perkembangan massa otot, serta proses pertumbuhan anak pada masa emas kehidupan.
Pemilihan bahan baku juga didasarkan pada kandungan gizinya. Labu kuning merupakan sumber beta-karoten yang diubah tubuh menjadi vitamin A. Zat tersebut berperan dalam menjaga kesehatan mata, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung pertumbuhan balita.
Selain itu, labu kuning juga mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang membantu memenuhi kebutuhan energi sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.
Sementara itu, kacang hijau dipilih karena mengandung protein nabati, zat besi, folat, vitamin B kompleks, dan serat. Kandungan tersebut dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan zat gizi harian balita, terutama bagi anak yang mengalami pertumbuhan berat badan kurang optimal.
Perpaduan labu kuning, kacang hijau, telur, susu, dan santan menghasilkan makanan tambahan dengan tekstur lembut sehingga lebih mudah diterima balita. Mahasiswa juga ingin menunjukkan bahwa bahan pangan lokal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi makanan bergizi tanpa bergantung pada bahan yang mahal maupun sulit diperoleh.
Meski demikian, mahasiswa menilai bahwa PMT tidak akan memberikan dampak optimal apabila tidak diikuti dengan peningkatan pengetahuan orang tua mengenai pola pemberian makan anak.
Karena itu, setiap kunjungan turut diisi dengan edukasi mengenai pentingnya makanan tambahan sebagai pelengkap kebutuhan gizi balita, bukan pengganti makanan utama. Orang tua juga mendapatkan penjelasan mengenai prinsip gizi seimbang, pentingnya variasi menu harian, serta cara memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai sumber zat gizi keluarga.
Mahasiswa menjelaskan bahwa bahan pangan sederhana seperti labu kuning, kacang hijau, telur, ikan, tempe, dan berbagai jenis sayuran dapat diolah menjadi menu bergizi apabila dipadukan dengan komposisi yang tepat.
Selain membahas pemenuhan gizi, kegiatan edukasi juga menyoroti persoalan Gerakan Tutup Mulut (GTM) yang cukup sering dialami balita. Dalam sesi konseling, mahasiswa memberikan berbagai strategi kepada orang tua, mulai dari menyajikan makanan dengan tampilan yang menarik, mengenalkan menu baru secara bertahap, menghindari pemaksaan saat makan, menciptakan suasana makan yang menyenangkan, hingga memberikan teladan kebiasaan makan yang baik di lingkungan keluarga.
Melalui pendekatan tersebut, orang tua tidak hanya memperoleh informasi mengenai kandungan gizi makanan, tetapi juga mendapatkan solusi praktis dalam menghadapi anak yang sulit makan.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, setiap keluarga menerima Buku Resep PMT Balita Berbasis Pangan Lokal yang disusun oleh mahasiswa.
Buku tersebut berisi 10 variasi resep makanan tambahan yang praktis, bergizi, mudah dibuat, menggunakan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, serta memiliki biaya yang relatif terjangkau.
Keberadaan buku resep tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi keluarga sehingga edukasi yang diberikan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, melainkan terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini mendapat apresiasi dari kader setempat. Salah seorang Kader Surabaya Hebat menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat lebih karena tidak hanya membagikan makanan tambahan, tetapi juga meningkatkan pemahaman orang tua.
“Yang ngebuat program ini beda itu mahasiswa ngga hanya datang memberi makanan saja, tetapi juga memberikan edukasi. sehingga orang tua dari balita bisa memilih bahan pangan yang bergizi dan cara mengolahannya juga gimana ngatasi anak yang susah makan. menurut saya hal seperti ini sangat dibutuhkan oleh para orang tua,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan salah seorang ibu balita penerima manfaat. Menurutnya, produk PMT yang diberikan mudah diterima anak sekaligus membuka wawasan mengenai pemanfaatan bahan pangan lokal.
“Anak saya langsung menyukai LAKAJO karena rasanya enak dan teksturnya lembut. Saya juga jadi tahu kalau ternyata bahan-bahan yang selama ini ada di dapur bisa dibuat menjadi PMT yang bergizi. Buku resepnya juga sangat membantu karena isinya mudah dipraktikkan di rumah,” ungkapnya.
Ketua TP PKK RW 5 Kelurahan Karah juga berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut karena memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Saya berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut. karena program ini bagus dan mempunyai manfaat yang besar ngga hanya membantu balita berat badan kurang, tetapi juga meningkatlan kesadaran orangtua mengenai pentingnya gizi pada masa pertumbuhan anak. ketika orang tua sudah mendapatkan edukasi,” tuturnya.
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme masyarakat terlihat cukup tinggi. Orang tua aktif berdiskusi mengenai pola makan anak, berbagi pengalaman menghadapi balita yang mengalami GTM, hingga berkonsultasi mengenai menu yang sesuai dengan kebutuhan anak. Sementara itu, sebagian besar balita tampak menikmati Pudding LAKAJO yang dibagikan.
Melalui program unggulan bidang kesehatan tersebut, Tim KKN Kampung Pancasila UIN Sunan Ampel Surabaya berharap inovasi PMT berbasis pangan lokal dapat menjadi langkah nyata dalam mendukung peningkatan status gizi balita di RW 5 Kelurahan Karah.
Program ini juga menunjukkan bahwa upaya pencegahan masalah gizi tidak hanya bergantung pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga memerlukan edukasi yang berkelanjutan kepada keluarga. Dengan pengetahuan yang memadai, pemanfaatan bahan pangan lokal, serta keterlibatan masyarakat, diharapkan semakin banyak keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak secara mandiri dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang generasi Indonesia.





