Gunungkidul, Krajan.id – Jagung yang selama ini menjadi salah satu hasil pertanian di Dusun Putat, Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, diperkenalkan dalam bentuk olahan pangan baru. Mahasiswa KKN Reguler Kelompok 67 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan pembuatan Cheese Corn Stick bersama ibu-ibu PKK Dusun Putat, Senin (10/8/2026).
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari program kerja KKN bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Pembuatan Cheese Corn Stick sebagai Inovasi Produk Lokal”. Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil pertanian menjadi produk pangan dengan nilai tambah.
Pengolahan tersebut sekaligus menjadi alternatif pemanfaatan jagung yang tidak hanya dijual sebagai hasil pertanian. Melalui diversifikasi produk, komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi pangan olahan yang memiliki peluang untuk dipasarkan.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai potensi jagung sebagai komoditas lokal dan peluang pengembangannya melalui diversifikasi pangan. Mahasiswa KKN kemudian memperkenalkan produk Cheese Corn Stick yang sebelumnya telah mereka produksi kepada peserta.
Selain memberikan contoh produk, mahasiswa juga membagikan leaflet berisi panduan dan tahapan pembuatan Cheese Corn Stick. Materi tersebut diharapkan dapat digunakan peserta sebagai panduan untuk mempraktikkan kembali proses pembuatan secara mandiri.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan. Tim KKN memperagakan proses pengolahan mulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan, pembentukan adonan menjadi stik, penggorengan, hingga pemberian bumbu.
Setelah demonstrasi, ibu-ibu PKK diberi kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung tahapan yang telah diperagakan. Peserta didampingi mahasiswa KKN selama proses pengolahan dan pembentukan adonan.
Praktik langsung tersebut membuat peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai cara membuat Cheese Corn Stick, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengolah bahan hingga menjadi produk siap konsumsi.
Amanda Rahma Yuliana, mahasiswa KKN UNS sekaligus penggagas program, mengatakan pelatihan tersebut diharapkan dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat. Menurut dia, pengembangan produksi juga dapat didukung dengan penggunaan sejumlah peralatan sederhana.
“Ke depannya, kami berharap ibu-ibu PKK dapat mengembangkan produk ini secara mandiri. Untuk mendukung produksi, nantinya bisa menggunakan alat penggiling atau pembuat mie agar adonan lebih mudah dibentuk menjadi stick, serta timbangan digital untuk membantu menjaga konsistensi produk,” ujar Amanda.
Peralatan tersebut dinilai dapat membantu masyarakat apabila produksi Cheese Corn Stick dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Konsistensi bentuk dan ukuran produk juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika produk mulai dipasarkan.
Selain peluang usaha, Amanda melihat potensi pengembangan Cheese Corn Stick sebagai produk yang dapat memperkenalkan potensi lokal Dusun Putat kepada wisatawan.
“Kalau nantinya dikembangkan dengan baik, produk ini berpotensi menjadi salah satu oleh-oleh khas yang dapat ditawarkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Pantai Krokoh,” lanjutnya.
Gagasan tersebut menghubungkan pengembangan produk pangan dengan potensi wisata yang ada di sekitar Dusun Putat. Produk olahan berbahan jagung lokal dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkenalkan hasil pertanian masyarakat kepada pengunjung.
Peserta pelatihan juga memberikan respons positif setelah mencoba Cheese Corn Stick yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN.
“Rasanya enak, gurih, dan cocok untuk dijadikan camilan,” ujar salah satu peserta.
Respons tersebut menunjukkan produk yang diperkenalkan dapat diterima oleh peserta pelatihan. Namun, pengembangan menjadi produk usaha tetap membutuhkan sejumlah tahapan lanjutan, mulai dari produksi, pengemasan hingga pemasaran.
Program KKN UNS 67 ini juga mendukung SDGs 8, yakni Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui peningkatan keterampilan serta pengenalan peluang usaha berbasis potensi masyarakat.
Pelatihan Cheese Corn Stick menjadi salah satu upaya mengenalkan cara mengolah produk pertanian lokal agar memiliki nilai tambah. Bagi masyarakat Dusun Putat, kegiatan tersebut sekaligus membuka wawasan mengenai kemungkinan pengembangan pangan olahan dari komoditas yang tersedia di lingkungan sekitar.
Keberlanjutan produksi, ketersediaan peralatan, pengemasan, dan pemasaran menjadi sejumlah aspek yang masih dapat dikembangkan setelah pelatihan. Jika dikelola secara berkelanjutan, Cheese Corn Stick berpotensi dikembangkan sebagai produk pangan lokal sekaligus alternatif oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Pantai Krokoh.





