Mungkid, Krajan.id – Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Di SMP IT Ihsanul Fikri Mungkid, sejumlah sudut sekolah dimanfaatkan sebagai media pembelajaran melalui poster edukatif. Pada saat yang sama, siswa diajak mempraktikkan bahasa Inggris melalui pembuatan video bilingual bertema Daily Expression.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar 2026 yang dilaksanakan di SMP IT Ihsanul Fikri Mungkid. Program ini menjadi ruang bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar untuk menerapkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dalam lingkungan sekolah.
Sebanyak 14 mahasiswa terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berkolaborasi dengan siswa untuk mengembangkan luaran pembelajaran yang menggabungkan kreativitas, edukasi, serta pemanfaatan media.
Dua kegiatan yang menjadi bagian dari program itu adalah posterisasi edukatif dan pembuatan video konten bilingual bertema Daily Expression. Keduanya dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan aktivitas siswa.
Mengubah Sudut Sekolah Menjadi Media Pembelajaran
Melalui program posterisasi edukatif, mahasiswa merancang sejumlah poster berdasarkan bidang keilmuan masing-masing. Materi yang selama ini disampaikan melalui buku atau pembelajaran di kelas dikemas kembali dalam bentuk visual yang lebih ringkas.
Poster tersebut memadukan materi pembelajaran dengan ilustrasi dan desain yang komunikatif. Dengan pendekatan itu, informasi diharapkan lebih mudah dipahami sekaligus menarik perhatian siswa.
Kehadiran poster juga membuat lingkungan sekolah memiliki fungsi tambahan sebagai ruang belajar. Dinding dan sejumlah sudut sekolah yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari bangunan dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi edukatif.
Konsep tersebut memperluas ruang berlangsungnya pembelajaran. Siswa tidak hanya berhadapan dengan materi ketika mengikuti pelajaran di kelas, tetapi juga dapat menemukan informasi ketika berada di lingkungan sekolah.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini sekaligus menjadi pengalaman untuk mengemas materi sesuai karakteristik media visual. Materi pembelajaran dituntut tidak hanya benar secara substansi, tetapi juga dapat disampaikan secara sederhana agar mudah diterima oleh siswa.
Posterisasi dengan demikian tidak sekadar menghasilkan karya visual. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam lingkungan sekolah.
Mempraktikkan Bahasa Inggris melalui Video
Pendekatan berbeda diterapkan melalui pembuatan konten bilingual bertema Daily Expression. Kegiatan ini membawa pembelajaran bahasa Inggris ke dalam bentuk praktik yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Berbagai ungkapan sederhana diperkenalkan melalui aktivitas yang biasa ditemui dalam interaksi sehari-hari. Siswa diajak mempraktikkan ungkapan untuk menyapa teman, mengucapkan terima kasih, meminta bantuan, serta melakukan percakapan sederhana.
Materi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk video. Siswa tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi ikut terlibat dalam proses pembuatan konten.
Mereka mempraktikkan dialog dan menampilkan berbagai daily expressions di depan kamera. Aktivitas tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya dilakukan melalui latihan tertulis.
Proses pembuatan video juga mempertemukan pembelajaran bahasa dengan penggunaan media digital. Siswa dapat mempelajari bahasa Inggris sekaligus memperoleh pengalaman berkomunikasi, berinteraksi, dan tampil di depan kamera.
Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk melatih keberanian siswa. Penggunaan bahasa Inggris dalam dialog sederhana memberi kesempatan kepada mereka untuk membangun kepercayaan diri ketika menggunakan bahasa tersebut dalam situasi sehari-hari.
Kolaborasi Mahasiswa dan Siswa
Program posterisasi edukatif dan konten bilingual merupakan bagian dari luaran MKT 2026 FKIP Universitas Tidar di SMP IT Ihsanul Fikri Mungkid. Mahasiswa dari berbagai program studi berkontribusi sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program. Mahasiswa tidak hanya membawa materi dan gagasan dari perguruan tinggi, tetapi juga bekerja bersama siswa untuk menghasilkan media pembelajaran yang dapat digunakan di lingkungan sekolah.
Dalam posterisasi, mahasiswa mengolah materi pembelajaran menjadi media visual. Sementara itu, dalam pembuatan konten bilingual, mahasiswa bersama siswa mengembangkan materi bahasa Inggris menjadi video bertema Daily Expression.
Kedua kegiatan tersebut menghasilkan bentuk luaran yang berbeda. Poster menghadirkan materi pembelajaran dalam bentuk visual yang dapat dilihat siswa di lingkungan sekolah. Adapun video memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan bahasa melalui dialog dan interaksi.
Perbedaan bentuk media itu menunjukkan bahwa pembelajaran dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan. Buku dan kegiatan di dalam kelas tetap menjadi bagian penting dari pendidikan, tetapi pengalaman belajar juga dapat dibangun melalui lingkungan sekolah, karya visual, praktik komunikasi, dan media digital.
Bagi mahasiswa peserta MKT, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman menerapkan kompetensi kependidikan secara langsung. Mereka dituntut menyesuaikan materi dan cara penyampaian dengan kebutuhan serta karakteristik siswa.
Dari poster yang menghiasi sejumlah sudut sekolah hingga percakapan sederhana yang direkam melalui kamera, program MKT Universitas Tidar di SMP IT Ihsanul Fikri Mungkid memperlihatkan upaya memperluas ruang belajar.
Pesan yang dibawa kegiatan tersebut sederhana: belajar tidak harus selalu berlangsung di balik meja dan buku. Ruang sekolah, karya, percakapan, serta pengalaman bersama juga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan siswa berkolaborasi menghadirkan bentuk pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan kontekstual. Program MKT 2026 pun tidak hanya menghasilkan luaran kegiatan magang, tetapi juga meninggalkan media yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di sekolah.





