Aroma khas kedelai rebus yang berpadu dengan ragi selalu menjadi penanda tersendiri bagi siapa pun yang melintasi Kampung Sanan di Kota Malang. Kawasan ini bukan sekadar permukiman padat penduduk, melainkan ruang hidup yang selama puluhan tahun dibangun oleh tradisi produksi tempe secara turun-temurun.
Di balik aktivitas yang tampak sederhana, tersimpan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Mulai dari teknik fermentasi alami, pengolahan bahan baku, hingga pemanfaatan limbah produksi yang nyaris tanpa sisa, seluruh proses tersebut merupakan bentuk kearifan yang telah teruji oleh waktu.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, praktik yang dijalankan masyarakat Sanan dapat dipandang sebagai bagian dari Teknologi Tradisional yang termasuk dalam Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Nilainya tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi juga pada pengetahuan, keterampilan, dan sistem ekonomi berbasis komunitas yang menopangnya.
Namun, di balik reputasinya sebagai sentra tempe yang dikenal luas, Kampung Sanan sedang menghadapi persoalan yang tidak kalah serius dibanding tantangan pasar atau persaingan usaha. Ancaman terbesar justru datang dari semakin minimnya generasi penerus yang bersedia melanjutkan profesi sebagai perajin tempe.

Ketika Generasi Muda Memilih Jalan Berbeda
Fenomena tersebut tergambar jelas dalam wawancara dengan salah satu perajin tempe generasi kedua di Kampung Sanan, Ibu Erna Sari. Saat ditanya mengenai kemungkinan anaknya melanjutkan usaha keluarga, ia menjawab dengan jujur:
“Kalau saya generasi kedua. Dari mertua terus ke suami. Tapi kayaknya kalau anakku nggak deh. Kayaknya nggak ikut gitu. Soalnya kan memang kuliahnya juga jurusannya beda. Orang tua ya nggak bisa maksa.”
Pernyataan sederhana itu merepresentasikan realitas yang sedang dihadapi banyak industri tradisional di Indonesia. Regenerasi yang selama ini berlangsung secara alami mulai mengalami hambatan karena perubahan orientasi hidup generasi muda.
Bagi sebagian anak muda, pendidikan tinggi dipandang sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan formal di perusahaan, instansi pemerintah, atau sektor industri kreatif yang dianggap lebih modern. Sementara itu, profesi sebagai perajin tempe sering kali dipersepsikan sebagai pekerjaan yang berat secara fisik, kurang menjanjikan, dan tidak memiliki prestise sosial yang tinggi.
Pandangan tersebut membentuk jarak psikologis antara generasi muda dengan usaha keluarga yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka. Tidak sedikit anak-anak yang dibesarkan dari hasil produksi tempe, memperoleh pendidikan hingga perguruan tinggi berkat usaha tersebut, tetapi pada akhirnya memilih meninggalkan dunia yang telah membesarkan mereka.
Di sinilah persoalan regenerasi menjadi semakin kompleks. Bukan karena usaha tempe tidak mampu menghasilkan keuntungan, melainkan karena profesi tersebut kalah bersaing secara citra di tengah perubahan budaya kerja masyarakat modern.
Rantai Pengetahuan yang Perlahan Terputus
Sesungguhnya, proses pewarisan keterampilan membuat tempe di Kampung Sanan telah berlangsung sejak anak-anak masih berusia dini. Mereka tumbuh di lingkungan produksi, menyaksikan langsung tahapan demi tahapan pengolahan kedelai hingga menjadi tempe siap konsumsi.
Anak-anak biasanya mulai dilibatkan dalam pekerjaan ringan, seperti membantu membersihkan kedelai, mengangkat bahan baku, atau memasukkan tempe ke dalam kemasan. Melalui kebiasaan tersebut, mereka secara tidak langsung mempelajari berbagai keterampilan yang sulit diperoleh melalui pendidikan formal.
Pengetahuan mengenai tingkat kematangan fermentasi, pengaturan suhu ruang produksi, pemilihan bahan baku yang baik, hingga cara menjaga kualitas produk merupakan hasil pengalaman bertahun-tahun. Keterampilan semacam ini lebih banyak dibentuk melalui praktik dan pengamatan dibandingkan pembelajaran teoritis.
Sayangnya, ketika generasi muda memilih meninggalkan usaha keluarga, rantai transfer pengetahuan tersebut ikut terputus. Pengetahuan yang selama puluhan tahun diwariskan secara lisan dan praktik berisiko hilang bersama bertambahnya usia para perajin senior.
Jika kondisi ini terus berlangsung, yang hilang bukan hanya jumlah pelaku usaha tempe, melainkan juga akumulasi pengetahuan tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Peran Strategis Generasi Z dalam Transformasi Tempe Sanan
Krisis regenerasi tidak dapat diselesaikan dengan memaksa anak muda kembali ke rumah produksi. Pendekatan semacam itu justru berpotensi menciptakan penolakan yang lebih besar.
Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang terhadap profesi perajin tempe itu sendiri. Profesi ini harus mampu tampil sebagai sektor usaha yang relevan dengan perkembangan zaman dan menawarkan ruang inovasi bagi generasi muda.
Di sinilah Generasi Z memiliki peran yang sangat penting. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan.
Alih-alih meninggalkan warisan keluarga, generasi muda dapat menghadirkan pembaruan yang membuat industri tempe lebih kompetitif. Mereka dapat memperkenalkan sistem pemasaran digital, mengembangkan identitas merek yang kuat, memperluas jangkauan pasar melalui platform daring, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Saat ini modernisasi di Kampung Sanan masih banyak berfokus pada tahap akhir produksi, seperti penggunaan alat penyegel kemasan. Padahal peluang inovasi jauh lebih luas. Teknologi dapat digunakan untuk memantau suhu fermentasi, mengelola stok bahan baku, meningkatkan standar higienitas, hingga memperkuat sistem distribusi produk.
Perubahan tersebut akan menggeser persepsi lama bahwa perajin tempe identik dengan pekerjaan yang semata-mata mengandalkan tenaga fisik. Sebaliknya, profesi ini dapat berkembang menjadi sektor usaha berbasis inovasi yang memadukan tradisi dengan teknologi.
Anak muda tidak harus memilih antara mempertahankan budaya atau mengikuti perkembangan zaman. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika teknologi digunakan untuk memperkuat nilai-nilai tradisional, bukan menggantikannya.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Upaya menjaga keberlanjutan Kampung Sanan tidak dapat dibebankan hanya kepada para perajin. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat luas perlu mengambil peran yang lebih aktif.
Pemerintah daerah dapat menghadirkan program pendampingan yang berfokus pada regenerasi usaha tradisional. Sementara itu, perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis melalui penelitian, pengembangan teknologi tepat guna, hingga program inkubasi bisnis berbasis budaya lokal.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap profesi tradisional. Selama ini, ukuran kesuksesan sering kali dikaitkan dengan pekerjaan kantoran atau profesi yang dianggap modern. Padahal banyak usaha berbasis budaya lokal yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian sekaligus pelestarian identitas daerah.
Menjaga keberlanjutan tempe Sanan bukan hanya soal mempertahankan sebuah produk pangan. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan bagian dari menjaga kedaulatan pangan, memperkuat ekonomi rakyat, serta merawat pengetahuan tradisional yang telah diwariskan lintas generasi.
Kampung Sanan mengajarkan bahwa sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena dihormati, tetapi karena terus dirawat dan diberi ruang untuk berkembang. Ketika generasi muda mampu memadukan warisan leluhur dengan inovasi masa kini, maka ragi yang selama ini menghidupi tempe Sanan tidak hanya akan menghasilkan pangan, tetapi juga melahirkan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi budaya lokal Indonesia.





