Surakarta, Krajan.id – Aliansi BEM Solo menggelar forum diskusi kebangsaan di Aula Gedung Perpustakaan Universitas Bangun Nusantara (UNIVET), Surakarta, Senin (22/6/2026) malam. Kegiatan yang diikuti 107 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Solo Raya itu menjadi ruang konsolidasi gagasan mengenai peran pemuda dan mahasiswa dalam menjaga kualitas demokrasi agar tetap sehat, partisipatif, dan terhindar dari polarisasi.
Forum tersebut menghadirkan pengamat kebijakan Erwina Tri, S.I.Kom., serta lima pimpinan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Solo. Mereka yakni Presiden Mahasiswa UNISRI Dimas, Presiden Mahasiswa POLINUS Silvi, Presiden Mahasiswa UDB Ahnaf, Presiden Mahasiswa UNIVET Banu, serta Ketua BEM POLINSADA Bunga.
Dalam pemaparannya, Erwina Tri menekankan pentingnya keterlibatan aktif mahasiswa dalam mengawal berbagai kebijakan publik secara objektif dan berbasis kepentingan masyarakat.
“Pemerintah saat ini diuji melalui berbagai kebijakan besar, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tata kelola Koperasi Desa Merah Putih, hingga urusan BBM. Ini semua tidak akan selesai jika hanya diselesaikan lewat pendekatan teknis. Dibutuhkan political will yang kuat dari pemerintah untuk mewujudkan tata kelola yang transparan dan akuntabel, dan mahasiswa harus konsisten menjadi mitra kritis yang mengawal proses tersebut,” ujar Erwina.
Menurutnya, keberadaan mahasiswa tidak hanya sebagai kelompok yang menyampaikan kritik, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memastikan kebijakan berjalan secara transparan dan akuntabel.
Sebagai tuan rumah kegiatan, Presiden Mahasiswa UNIVET Banu menilai peran pemuda dalam merawat ruang demokrasi harus dimulai dari kemampuan berpikir secara independen dan menjunjung partisipasi publik yang sehat.
“Demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi publik yang cerdas. Di sinilah peran kita sebagai pemuda. Kita tidak boleh membiarkan ruang demokrasi kita menyempit atau sekadar diisi oleh kepentingan politik praktis. Mahasiswa harus berada di garda terdepan untuk memastikan suara rakyat tetap terdengar,” tegas Banu.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa UNISRI Dimas yang mewakili pimpinan Aliansi BEM Solo mengingatkan pentingnya menjaga marwah gerakan mahasiswa agar tidak terjebak pada respons sesaat terhadap suatu peristiwa.
Menurutnya, gerakan mahasiswa harus dibangun melalui proses kajian yang matang serta didasarkan pada data dan kemampuan membaca realitas sosial secara objektif.
“Gerakan mahasiswa yang sejati bukan lahir dari emosi sesaat atau sekadar respons spontan terhadap suatu peristiwa. Gerakan kita harus dibangun di atas kesadaran intelektual yang bertumpu pada nalar kritis, kajian berbasis data, serta kemampuan membaca realitas sosial secara objektif. Kita harus punya kedalaman gagasan,” kata Dimas.
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat, Ketua BEM POLINSADA Bunga mengingatkan mahasiswa untuk tidak terjebak dalam polarisasi maupun disinformasi yang berkembang di ruang digital.
Ia menilai tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya bagaimana menyampaikan aspirasi, melainkan juga memastikan gerakan yang dibangun memiliki arah yang jelas dan mampu menawarkan solusi bagi persoalan bangsa.
“Di tengah derasnya arus informasi saat ini, tantangan terbesar mahasiswa adalah tidak terjebak pada polarisasi, disinformasi, maupun aktivisme yang kehilangan arah. Gerakan yang besar bukan gerakan yang hanya lantang bersuara di media sosial tanpa isi, melainkan gerakan yang memiliki ketajaman analisis dan mampu menghadirkan solusi konkret untuk masa depan Indonesia,” ujar Bunga.
Melalui forum tersebut, Aliansi BEM Solo menegaskan komitmennya untuk terus menjaga iklim demokrasi di Solo Raya agar tetap sehat, rasional, dan berorientasi pada kepentingan bangsa. Konsolidasi yang dilakukan tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan antarmahasiswa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa peran pemuda dan gerakan mahasiswa masih memiliki posisi penting dalam mengawal arah kebijakan publik serta memperkuat kehidupan demokrasi di Indonesia.





