Serang, Banten, Krajan.id — Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 27 Universitas Bina Bangsa (Uniba) menyerahkan alat pencacah pakan ternak kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kebon Ratu, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Banten, Senin (3/8/2026).
Penyerahan tersebut merupakan bagian dari program kerja Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dirancang mahasiswa KKM 27 untuk mendukung pemanfaatan teknologi sederhana sesuai kebutuhan masyarakat desa.
Program ini tidak semata-mata diarahkan pada pemberian bantuan berupa peralatan. Alat pencacah pakan ternak tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu aset yang dikelola BUMDes dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas masyarakat, terutama yang berkaitan dengan peternakan.
Pemilihan alat pencacah pakan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi dan kebutuhan yang terdapat di Desa Kebon Ratu. Peralatan tersebut diharapkan membantu mempercepat proses pencacahan bahan pakan sehingga pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat berlangsung lebih efisien.
Ketua Kelompok KKM 27 Universitas Bina Bangsa, Tb Muh Rafi Adz Dzikra, mengatakan program TTG merupakan bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan manfaat yang tetap dapat dirasakan masyarakat setelah kegiatan KKM berakhir.
“Kami berharap alat pencacah pakan ternak ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh BUMDes Kebon Ratu dan masyarakat. Program ini bukan hanya tentang penyerahan alat, tetapi bagaimana teknologi yang kami berikan dapat benar-benar digunakan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang. Kami juga berharap program ini dapat menjadi awal dari pengembangan inovasi teknologi tepat guna lainnya di Desa Kebon Ratu,” ujar Tb Muh Rafi Adz Dzikra.
Menurut dia, keberlanjutan pemanfaatan alat menjadi salah satu hal penting setelah program KKM selesai. Karena itu, keberadaan peralatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan serah terima, tetapi dapat digunakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Wildan Rahmadana, anggota KKM 27 sekaligus penanggung jawab Program Bidang 5 (Teknologi), menjelaskan bahwa alat pencacah pakan dipilih berdasarkan kebutuhan masyarakat serta potensi pemanfaatannya dalam menunjang kegiatan peternakan.
“Program alat pencacah pakan ternak ini kami pilih karena melihat adanya potensi dan kebutuhan yang dapat dibantu melalui teknologi. Dengan adanya alat ini, proses pencacahan pakan diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien dibandingkan dilakukan secara manual. Kami juga berharap BUMDes dapat mengelola dan memanfaatkan alat ini secara optimal sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat secara luas,” ungkap Wildan Rahmadana.
Keberadaan alat pencacah pakan ternak menjadi salah satu bentuk penerapan pengetahuan mahasiswa di tengah kebutuhan masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan akademik di lapangan, tetapi juga mencoba menghadirkan teknologi yang penggunaannya disesuaikan dengan kondisi dan potensi desa.
Dalam konteks pengembangan ekonomi desa, pengelolaan alat oleh BUMDes juga membuka peluang agar sarana tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih terorganisasi. BUMDes memiliki peran penting dalam mengelola aset dan kegiatan usaha desa sehingga peralatan yang diserahkan dapat diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
KKM 27 berharap alat tersebut dapat membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitas yang berkaitan dengan penyediaan pakan ternak. Efisiensi dalam proses pencacahan diharapkan dapat menjadi salah satu manfaat yang dirasakan pengguna, sekaligus mendukung pemanfaatan potensi peternakan di Desa Kebon Ratu.
Program Teknologi Tepat Guna itu juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan antara mahasiswa, BUMDes, pemerintah desa, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan dapat terus dimanfaatkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKM.
Selain alat pencacah pakan ternak, KKM 27 berharap pengembangan teknologi serupa dapat dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, teknologi yang diterapkan di desa tidak harus kompleks, tetapi dapat berupa peralatan sederhana yang mampu menjawab persoalan konkret.
Penyerahan alat kepada BUMDes Kebon Ratu pada akhirnya menjadi bagian dari upaya mahasiswa meninggalkan sarana yang dapat digunakan masyarakat secara berkelanjutan. Efektivitas program tersebut selanjutnya bergantung pada pengelolaan dan pemanfaatan alat oleh BUMDes serta masyarakat penerima manfaat.
Melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, KKM 27 Universitas Bina Bangsa berharap kegiatan yang dilakukan selama berada di Desa Kebon Ratu dapat memberikan manfaat yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mendukung pengembangan potensi masyarakat dan kegiatan ekonomi desa dalam jangka panjang.





