Angkat Kuliner Lokal, Mahasiswa AMIKOM Abadikan Produksi Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah Melalui Photo Story dengan Penerapan Teknik EDFAT

Bangunan Pabrik Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah di Bandungan, Kabupaten Semarang, yang menjadi lokasi produksi salah satu kuliner khas daerah. Tempat ini menjadi objek dokumentasi karya photo story mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang mengangkat proses pembuatan tahu secara tradisional menggunakan pendekatan teknik EDFAT. (Dok. Himawan Wisnu Laksana)
Bangunan Pabrik Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah di Bandungan, Kabupaten Semarang, yang menjadi lokasi produksi salah satu kuliner khas daerah. Tempat ini menjadi objek dokumentasi karya photo story mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang mengangkat proses pembuatan tahu secara tradisional menggunakan pendekatan teknik EDFAT. (Dok. Himawan Wisnu Laksana)

Semarang, Krajan.idTahu Serasi Bandungan merupakan salah satu kuliner khas Kabupaten Semarang yang telah lama dikenal masyarakat. Cita rasanya yang khas serta proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional menjadikan makanan ini sebagai salah satu ikon kuliner daerah yang diminati wisatawan maupun warga lokal.

Keunikan tersebut mendorong Himawan Wisnu Laksana, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta, untuk mendokumentasikan proses produksi Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah melalui karya foto jurnalistik berbentuk photo story. Karya tersebut disusun di bawah bimbingan Sheila Lestari Giza Pudrianisa, M.I.Kom, dengan menerapkan teori EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, Time).

Bacaan Lainnya

Melalui karya visual tersebut, Himawan berupaya memperkenalkan sekaligus mendokumentasikan proses pembuatan Tahu Serasi sebagai bagian dari warisan kuliner tradisional yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.

“Melalui karya ini, Himawan Wisnu Laksana bertujuan untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, serta melestarikan proses pembuatan Tahu Serasi Bu Kotijah sebagai bagian dari kuliner tradisional khas Bandungan,” demikian keterangan dalam rilis yang diterima.

Selain menjadi dokumentasi visual, karya photo story tersebut juga diharapkan dapat berfungsi sebagai media informasi, edukasi, dan promosi budaya lokal kepada masyarakat luas melalui pendekatan fotografi jurnalistik.

Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah merupakan usaha kuliner tradisional yang berlokasi di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang. Di tengah modernisasi industri pangan, usaha ini masih mempertahankan sebagian besar proses produksi secara tradisional. Karakteristik tahu yang lembut, gurih, dan diproses tanpa bahan pengawet menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Proses pengolahan kedelai menjadi Tahu Serasi di Pabrik Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah, Bandungan, Kabupaten Semarang. Metode produksi tradisional yang masih dipertahankan menjadi bagian dari dokumentasi visual karya photo story mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta. (Dok. Himawan Wisnu Laksana)
Proses pengolahan kedelai menjadi Tahu Serasi di Pabrik Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah, Bandungan, Kabupaten Semarang. Metode produksi tradisional yang masih dipertahankan menjadi bagian dari dokumentasi visual karya photo story mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta. (Dok. Himawan Wisnu Laksana)

Dalam proses penciptaan karya, Himawan menggunakan teori EDFAT sebagai pendekatan visual untuk membangun alur cerita foto yang sistematis dan komunikatif. Metode ini membantu fotografer dalam menentukan sudut pandang, detail, serta momen yang dianggap penting untuk memperkuat narasi visual.

Proses pengerjaan karya diawali dengan tahap pra-produksi yang meliputi observasi lokasi, penyusunan konsep, serta persiapan peralatan fotografi. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan proses dokumentasi dapat berjalan sesuai dengan alur produksi tahu yang berlangsung di lokasi.

Selanjutnya, pada tahap produksi, pengambilan gambar dilakukan secara langsung di area pembuatan tahu. Setiap tahapan produksi didokumentasikan secara berurutan guna menghasilkan cerita visual yang utuh. Setelah seluruh foto terkumpul, proses berlanjut ke tahap pasca-produksi berupa seleksi dan penyuntingan gambar menggunakan Adobe Lightroom sebelum disusun menjadi rangkaian photo story.

Pekerja menyelesaikan tahapan akhir produksi Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah di Bandungan, Kabupaten Semarang. Setelah melalui proses pemasakan dan koagulasi, tahu dicetak, dipotong, hingga disajikan sebagai produk siap konsumsi yang menjadi salah satu kuliner khas daerah tersebut. (Dok. Himawan Wisnu Laksana)
Pekerja menyelesaikan tahapan akhir produksi Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah di Bandungan, Kabupaten Semarang. Setelah melalui proses pemasakan dan koagulasi, tahu dicetak, dipotong, hingga disajikan sebagai produk siap konsumsi yang menjadi salah satu kuliner khas daerah tersebut. (Dok. Himawan Wisnu Laksana)

Karya tersebut terdiri atas 10 foto yang menggambarkan perjalanan pembuatan tahu dari awal hingga siap dipasarkan. Cerita visual diawali dengan foto bangunan utama Pabrik Tahu Serasi Bu Hj. Kotijah di kawasan Bandungan sebagai pembuka rangkaian foto.

Tahapan berikutnya memperlihatkan proses perendaman kedelai selama kurang lebih delapan jam sebelum memasuki tahap penggilingan. Kedelai yang telah digiling kemudian menghasilkan sari kedelai yang selanjutnya disaring untuk memisahkan cairan dan ampas tahu.

Rangkaian proses berlanjut pada tahap pemasakan sari kedelai menggunakan tungku kayu bakar. Metode tradisional ini masih dipertahankan sebagai bagian dari karakter produksi Tahu Serasi. Setelah dimasak, sari kedelai memasuki tahap koagulasi dan pencetakan hingga akhirnya terbentuk menjadi tahu yang siap dipasarkan kepada konsumen.

“Dengan 10 foto yang diambil, karya ini memperlihatkan tahapan proses pembuatan tahu serasi mulai dari bangunan utama Pabrik Tahu Serasi Bu Kotijah di kawasan Bandungan sebagai pembuka cerita visual hingga proses pencetakan sebelum akhirnya menjadi Tahu Serasi yang siap dipasarkan kepada konsumen,” sebagaimana dijelaskan dalam rilis.

Melalui dokumentasi visual tersebut, proses produksi Tahu Serasi Bandungan tidak hanya terekam sebagai aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya kuliner lokal yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *