Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara umat Islam mempelajari ajaran agama. Berbagai kajian hadis, tafsir, hingga ceramah keislaman kini dapat diakses dengan mudah melalui media sosial, video pendek, podcast, maupun platform digital lainnya. Kemudahan ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan literasi keislaman. Namun, di sisi lain, muncul tantangan baru berupa kecenderungan memahami hadis hanya berdasarkan makna lahiriahnya tanpa merujuk pada penjelasan para ulama dan kitab-kitab otoritatif.
Fenomena tersebut semakin terasa di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan. Anak muda kerap menghabiskan waktu dengan gawai dan hiburan digital, sedangkan orang dewasa disibukkan oleh pekerjaan serta tanggung jawab keluarga. Akibatnya, tidak sedikit umat Islam yang mengetahui keutamaan suatu amalan, tetapi kesulitan mengamalkannya secara konsisten. Salah satu contoh yang menarik untuk dikaji adalah hadis tentang turunnya Allah pada sepertiga malam terakhir.
Dalam Shahih Bukhari nomor 6940 dan nomor 7494 versi Fathul Bari disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Rabb kita Yang Mahaberkah dan Mahatinggi turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.’” (HR. Bukhari No. 6940).
Hadis ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam kajian akidah karena memuat lafaz يَنْزِلُ رَبُّنَا (yanzilu rabbunā), yang secara tekstual berarti “Rabb kita turun”. Di sinilah muncul perbedaan metode pemahaman di kalangan ulama.
Dalam perspektif Mu’tazilah, yang dikenal memberikan ruang besar bagi penggunaan akal, lafaz tersebut tidak dipahami secara harfiah. Menurut mereka, pemaknaan literal berpotensi menyerupakan Allah dengan makhluk, padahal Allah Mahasuci dari segala bentuk keserupaan. Oleh karena itu, lafaz tersebut ditakwil sebagai turunnya rahmat Allah, perintah-Nya, atau bentuk kedekatan Allah kepada hamba-hamba-Nya pada waktu sepertiga malam terakhir.
Sementara itu, ulama Ahl al-Sunnah wal Jama’ah juga menolak pemahaman yang mengarah pada penyerupaan Allah dengan makhluk. Mereka menetapkan sifat yang disebutkan dalam nash tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat caranya (bilā kayf), seraya menyerahkan hakikatnya kepada Allah. Terlepas dari perbedaan pendekatan tersebut, kedua pandangan sama-sama menegaskan keutamaan sepertiga malam sebagai waktu yang sangat dianjurkan untuk berdoa, memohon ampun, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di era media sosial, penyebaran hadis berlangsung sangat cepat. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi keagamaan. Tidak semua hadis yang beredar memiliki kualitas yang sama. Karena itu, penting untuk memastikan sumber hadis berasal dari kitab-kitab yang diakui serta memahami penjelasan para ulama agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Anjuran menghidupkan sepertiga malam juga ditegaskan dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 1063 dan nomor 1131 versi Fathul Bari.
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Artinya: Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda, “Salat yang paling dicintai Allah adalah salat Nabi Daud ‘alaihissalam, dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud. Beliau tidur pada separuh malam, bangun untuk salat pada sepertiganya, kemudian tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Beliau juga berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Bukhari No. 1063 dan No. 1131).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat tahajud merupakan salah satu ibadah yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam konteks pemikiran Mu’tazilah, hadis ini semakin menguatkan bahwa makna “turunnya Allah” dipahami sebagai momentum hadirnya rahmat dan kasih sayang Allah yang mendorong manusia untuk memperbanyak ibadah pada waktu tersebut.
Al-Qur’an pun memberikan penegasan mengenai keutamaan qiyam al-lail. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا ٧٩
Artinya: “Dan pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79).
Keutamaan memohon ampun pada penghujung malam juga ditegaskan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 17-18:
كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ١٧ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ١٨
Artinya: “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18).
Hadis-hadis sahih dan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai lafaz yanzilu rabbunā tidak berhenti pada perdebatan teologis semata. Yang lebih penting ialah pesan spiritual yang dikandungnya, yakni dorongan agar seorang muslim memanfaatkan sepertiga malam untuk memperbanyak shalat tahajud, berdoa, beristigfar, serta mempererat hubungan dengan Allah SWT.
Bagi umat Islam, baik kalangan muda maupun orang tua, waktu sepertiga malam merupakan kesempatan berharga untuk bermunajat, memohon rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi diri sendiri serta keluarga. Perbedaan pendekatan dalam memahami hadis semestinya menjadi ruang memperkaya khazanah keilmuan Islam, bukan alasan untuk saling mempertentangkan. Yang terpenting adalah bagaimana kandungan hadis tersebut mampu mendorong lahirnya kesadaran beribadah dan memperkuat kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.





