Setiap pagi, banyak dari kita memulai hari dengan kebiasaan yang sama: membuka media sosial. Linimasa dipenuhi berbagai pencapaian, kabar bahagia, hingga potret kesuksesan orang lain yang seolah bergerak begitu cepat. Rasanya seperti menonton film dengan kecepatan dua kali lipat, sementara diri sendiri masih berjalan dalam tempo biasa. Perasaan tertinggal itu muncul diam-diam, lalu berkembang menjadi kegelisahan yang sulit diabaikan.
Fenomena ini bukan pengalaman personal semata, melainkan cerminan kegelisahan kolektif di era digital. Kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak nyaman: menyalahkan dunia yang terasa bergerak tanpa jeda, atau menyalahkan diri sendiri karena dianggap terlalu lambat untuk mengejar ketertinggalan.
Memasuki usia dewasa awal, pertanyaan tentang arah hidup sering kali datang bertubi-tubi. Apa yang sebenarnya sedang dicari? Mengapa hidup terasa berjalan di tempat? Rutinitas harian yang monoton, seperti berangkat kuliah, kembali ke kos, hingga bergulat dengan tugas yang menumpuk, kerap memperkuat perasaan stagnan. Di saat yang sama, bayangan tentang orang-orang seusia yang tampak sudah “lebih dulu berhasil” menambah tekanan batin.
Namun, perasaan tertinggal tidak lahir dari ruang kosong. Ia terbentuk dari kombinasi faktor internal dan eksternal yang saling memengaruhi. Memahami akar persoalan ini menjadi langkah awal untuk melihat diri dengan lebih jernih.
Dari sisi internal, salah satu faktor utama adalah harga diri yang rendah. Banyak orang tanpa sadar menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur nilai diri. Dalam perspektif psikologi, Coopersmith menjelaskan bahwa harga diri terbentuk dari bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, yang dipengaruhi oleh pengalaman interaksi sosial dan perlakuan lingkungan. Ketika seseorang terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain, muncul keyakinan bahwa dirinya kurang berhasil, kurang bahagia, atau bahkan kurang berharga. Perbandingan yang berulang ini perlahan mengikis kepercayaan diri dan memperkuat perasaan tertinggal.
Selain itu, pengalaman masa lalu juga memiliki pengaruh besar. Trauma masa kecil, baik dalam bentuk kekerasan, kehilangan, pengabaian, maupun tekanan emosional, dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya di masa depan. Masa kanak-kanak merupakan fase krusial dalam perkembangan psikologis.
Apa yang dialami pada periode tersebut, baik positif maupun negatif, akan meninggalkan jejak yang panjang. Individu yang tumbuh dengan pengalaman traumatis cenderung membawa beban emosional yang memengaruhi kepercayaan diri, keberanian mengambil risiko, hingga cara memaknai keberhasilan. Dalam banyak kasus, luka lama ini membuat seseorang lebih mudah merasa tidak cukup dibandingkan orang lain.
Di luar faktor internal, ada pula pengaruh eksternal yang tidak kalah kuat. Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor utama yang mengubah ritme kehidupan manusia secara drastis. Dulu, komunikasi jarak jauh membutuhkan waktu berhari-hari melalui surat. Kini, percakapan dapat terjadi dalam hitungan detik melalui ponsel.
Kemudahan ini membawa banyak manfaat, tetapi juga menciptakan standar baru yang menuntut kecepatan dan adaptasi tanpa henti. Ketika seseorang merasa tidak mampu mengikuti laju perubahan teknologi, muncul perasaan tertinggal yang semakin memperkuat tekanan psikologis.
Media sosial, sebagai produk utama perkembangan teknologi, memperbesar efek tersebut. Di sinilah fenomena FOMO (Fear of Missing Out) mengambil peran. FOMO adalah rasa cemas yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman orang lain. Contoh sederhana dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari: saat teman-teman membicarakan kafe viral, tren terbaru, atau konten populer di platform seperti TikTok, sementara kita merasa asing dengan topik tersebut. Ketidaktahuan ini sering kali memicu rasa tidak nyaman, seolah-olah ada sesuatu yang penting yang terlewatkan.
Lebih jauh, FOMO tidak hanya berkaitan dengan tren, tetapi juga dengan gaya hidup dan pencapaian. Melihat orang lain berlibur, mendapatkan pekerjaan impian, atau mencapai target tertentu dapat memunculkan tekanan untuk melakukan hal serupa dalam waktu yang sama. Akibatnya, seseorang terus-menerus mengejar standar eksternal yang sebenarnya tidak selalu relevan dengan kondisi dan tujuan pribadinya.
Dalam situasi seperti ini, penting untuk menyadari bahwa kecepatan hidup setiap orang tidak bisa disamaratakan. Tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan ritme yang sama. Ada orang yang menemukan jalannya lebih awal, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami arah hidupnya. Perbedaan ini bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari dinamika kehidupan yang wajar.
Berjalan lebih lambat bukan berarti tidak bergerak. Justru, dalam banyak kasus, langkah yang lebih tenang memungkinkan seseorang memahami proses dengan lebih mendalam. Kecepatan bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Tanpa arah yang jelas, bergerak cepat justru berisiko membawa seseorang ke tujuan yang tidak diinginkan.
Karena itu, alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain, penting untuk kembali pada pertanyaan mendasar: apa yang benar-benar ingin dicapai? Ketika tujuan sudah jelas, ritme perjalanan akan menemukan bentuknya sendiri. Fokus tidak lagi pada seberapa cepat seseorang sampai, melainkan pada seberapa tepat arah yang diambil.
Dunia mungkin akan terus bergerak semakin cepat, didorong oleh teknologi dan tuntutan zaman. Namun, manusia tetap memiliki kendali untuk menentukan cara meresponsnya. Tidak semua hal harus diikuti, tidak semua tren harus dikejar. Ada ruang untuk berhenti sejenak, mengevaluasi, dan melanjutkan perjalanan dengan kesadaran yang lebih utuh.
Perasaan tertinggal memang tidak bisa dihapus sepenuhnya. Akan selalu ada momen ketika kita merasa berada di belakang orang lain. Akan tetapi, perasaan itu tidak harus menjadi beban yang melumpuhkan. Ia bisa menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, dengan waktu dan proses yang berbeda.
Yang lebih penting bukanlah siapa yang sampai lebih dulu, melainkan bagaimana seseorang menjalani prosesnya dengan jujur dan konsisten. Selama masih ada kemauan untuk belajar, berusaha, dan bertumbuh, tidak ada kata benar-benar terlambat dalam perjalanan hidup.





