Dukung SDGs 8, 11, dan 12, Program BANKSI Ubah Sampah Menjadi Sumber Penghasilan Warga Desa Gunungsari

Mahasiswa Universitas Airlangga saat mengenalkan program Bank Sampah Inovatif (BANKSI) di Desa Gunungsari, Ngawi, Selasa (28/7/2026). (Dok. Pribadi)
Mahasiswa Universitas Airlangga saat mengenalkan program Bank Sampah Inovatif (BANKSI) di Desa Gunungsari, Ngawi, Selasa (28/7/2026). (Dok. Pribadi)

Gunungsari, Krajan.id – Sampah rumah tangga tidak selalu berakhir sebagai limbah yang dibuang. Jika dipilah sejak dari rumah, sebagian sampah dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu menjaga kebersihan lingkungan. Gagasan tersebut diperkenalkan mahasiswa Universitas Airlangga melalui program Bank Sampah Inovatif (BANKSI) di Desa Gunungsari, Ngawi, Selasa (28/7/2026).

Program tersebut mengajak masyarakat tidak hanya memahami persoalan sampah dari sisi lingkungan, tetapi juga melihat peluang ekonomi yang dapat muncul dari pengelolaan sampah secara sederhana. Warga diperkenalkan pada cara memilah sampah anorganik berdasarkan jenisnya sebelum dikumpulkan dan disetorkan kepada pengepul atau bank sampah.

Bacaan Lainnya

Kegiatan sosialisasi dilaksanakan mahasiswa bersama perwakilan perangkat Desa Gunungsari. Sebanyak 18 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas tujuh kepala dusun serta sejumlah perwakilan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).

Materi disampaikan secara interaktif dan dilengkapi demonstrasi langsung. Peserta tidak hanya menerima penjelasan mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mempraktikkan proses pemilahan sampah anorganik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Botol plastik, kertas, kardus, dan logam menjadi sejumlah contoh sampah rumah tangga yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut. Sampah dipisahkan sesuai jenis agar tidak tercampur dan tetap memiliki kondisi yang baik ketika dikumpulkan untuk dijual.

Cara tersebut menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dipilah dan dikumpulkan sehingga memiliki nilai jual. Pada saat yang sama, kebiasaan tersebut dapat mengurangi jumlah sampah yang langsung dibuang ke lingkungan.

Program BANKSI juga memperkenalkan pemisahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan untuk dijual.

Pendekatan tersebut membuat pengelolaan sampah tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Masyarakat juga didorong untuk memahami bahwa perubahan kebiasaan di tingkat rumah tangga dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dilakukan secara konsisten.

Kepala Desa Gunungsari, Minto, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program BANKSI. Menurut dia, masih terdapat warga yang belum sepenuhnya memahami bahwa sejumlah barang bekas dapat memiliki nilai ekonomi.

“Kami dari pihak desa sangat mengapresiasi adanya program BANKSI. Selama ini warga mungkin belum sepenuhnya menyadari bahwa barang bekas seperti botol plastik atau kardus memiliki nilai jual. Melalui sosialisasi ini, saya berharap masyarakat semakin rajin memilah sampah sehingga lingkungan desa menjadi lebih bersih dan warga dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Bapak Minto.

Dukungan pemerintah desa dinilai menjadi salah satu unsur penting agar pengetahuan yang diperoleh dalam sosialisasi dapat berlanjut menjadi kebiasaan. Sebab, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat secara rutin, terutama dalam proses pemilahan dari sumbernya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti materi dan demonstrasi dengan antusias. Mereka juga menunjukkan ketertarikan terhadap pemanfaatan sampah rumah tangga sebagai salah satu sumber tambahan penghasilan.

Satu perwakilan desa diketahui tidak dapat mengikuti kegiatan karena bertepatan dengan acara hajatan warga. Namun, kondisi tersebut tidak menghambat pelaksanaan sosialisasi secara keseluruhan.

Program BANKSI diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pengenalan. Setelah sosialisasi, masyarakat diharapkan mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah dari rumah sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih teratur.

Bagi Desa Gunungsari, perubahan tersebut berpotensi memberikan manfaat ganda. Dari sisi lingkungan, pemilahan dapat membantu mengurangi sampah yang tercampur dan dibuang begitu saja. Dari sisi ekonomi, sampah anorganik yang terkumpul dapat menjadi komoditas yang memiliki nilai jual.

Upaya tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Program BANKSI menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengelolaan sampah. Perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan memilah botol plastik, kardus, kertas, dan logam dari rumah dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi limbah sekaligus membuka peluang ekonomi.

Jika kebiasaan tersebut dapat dipertahankan dan dikembangkan, pengelolaan sampah di tingkat desa tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan. Sampah juga dapat dikelola sebagai sumber daya yang memberi manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *