Brain Rot dan Krisis Perhatian, Ketika Algoritma Menggerus Kemampuan Manusia untuk Fokus

Ilustrasi
Ilustrasi

Sepanjang 2025, dunia maya dipenuhi istilah brain rot. Ungkapan populer ini menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten digital berkualitas rendah secara berlebihan, termasuk video pendek nonsensikal seperti karakter Italian Brainrot dan “Skibidi Toilet”. Fenomena tersebut juga melahirkan kebiasaan doomscrolling, yakni aktivitas menggulir layar secara terus-menerus demi memperoleh kepuasan sesaat tanpa menyadari waktu yang telah dihabiskan.

Istilah brain rot pada mulanya lahir sebagai lelucon warganet di media sosial. Namun, popularitasnya membuat istilah tersebut masuk ke dalam pembahasan yang lebih serius, termasuk mengenai perubahan pola perhatian manusia di tengah konsumsi konten digital yang semakin intensif.

Bacaan Lainnya

Memahami Fenomena Brain Rot

Secara sederhana, brain rot atau “kerusakan otak” merujuk pada istilah populer mengenai dugaan penurunan kemampuan kognitif akibat konsumsi konten berdurasi singkat secara terus-menerus. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan konten singkat yang berlangsung berulang dapat membiasakan otak menerima rangsangan secara instan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan seseorang mempertahankan perhatian dan berpikir secara mendalam.

Karena itu, brain rot tidak cukup dipahami sebagai istilah satir di media sosial. Fenomena ini juga dapat dibaca sebagai persoalan estetika dan eksistensial. Di tengah gempuran algoritma yang mendorong konsumsi video pendek hiper-stimulatif dan kepuasan instan, terjadi perubahan cara manusia merasakan, memperhatikan, dan terhubung dengan realitas kehidupan.

Persoalan tersebut menarik dikaji melalui konsep estetika humanisme, yang menempatkan kesadaran dan kapasitas emosional manusia sebagai pusat keindahan dan makna. Ketika brain rot mengondisikan pikiran untuk terus mengejar stimulasi berikutnya, mindfulness dan fokus tidak lagi sekadar teknik manajemen waktu. Keduanya dapat dipandang sebagai upaya untuk memulihkan kapasitas manusia dalam hadir, merasakan, dan berpikir secara utuh.

Mindfulness dan Fokus

Cambridge Dictionaries mendefinisikan mindfulness sebagai praktik menyadari tubuh, pikiran, dan perasaan yang diyakini dapat menciptakan ketenangan. Jon Kabat-Zinn (1994) menyebut mindfulness sebagai proses memberikan perhatian secara sengaja, terarah pada saat ini, dan tanpa menghakimi.

Definisi tersebut diperkaya Scott R. Bishop (2003), yang memandang mindfulness sebagai self-regulation terhadap perhatian serta orientasi untuk mengalami apa yang terjadi pada saat ini. Untuk mencapai kondisi tersebut, seseorang membutuhkan regulasi diri, kemampuan mempertahankan atensi, serta sikap terbuka tanpa menghakimi.

Dari berbagai definisi itu, terdapat sejumlah kualitas penting dalam mindfulness: hadir penuh pada momen yang sedang berlangsung, memiliki kesadaran yang jernih, menerima pengalaman tanpa menghakimi, serta menjaga ketenangan tanpa memaksakan keadaan.

Dalam Full Catastrophe Living (1990), Kabat-Zinn menjelaskan tujuh fondasi praktik mindfulness, yakni kesediaan melepaskan, tidak menghakimi, kesabaran, keterbukaan, penerimaan, tidak memaksakan, dan kepercayaan terhadap diri sendiri.

Nilai-nilai tersebut berlawanan dengan karakter brain rot yang serba instan dan terus mendorong pengguna mengejar stimulasi berikutnya tanpa ruang untuk berhenti dan merenung. Pertentangan tersebut memperlihatkan bagaimana krisis perhatian bukan hanya berkaitan dengan durasi penggunaan gawai, tetapi juga dengan cara manusia memperlakukan perhatian dan kesadarannya sendiri.

Kualitas mindfulness kemudian bermuara pada satu kemampuan penting, yaitu fokus. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan fokus sebagai titik atau pusat tempat perhatian tertuju. Cambridge Dictionaries juga mendefinisikan fokus sebagai titik utama atau pusat dari sesuatu, khususnya yang menjadi pusat perhatian atau minat.

Dalam konteks ini, terdapat miskonsepsi mengenai multitasking. Seseorang yang melakukan banyak pekerjaan secara bersamaan sebenarnya sering kali hanya berpindah fokus dengan cepat dari satu tugas ke tugas lain. Pola tersebut relevan dengan doomscrolling, ketika perhatian terus berpindah dari satu konten ke konten berikutnya dalam intensitas tinggi.

Notifikasi media sosial dan pemutaran otomatis video pendek menjadi bentuk distraksi yang sangat nyata. Melalui latihan mindfulness, seseorang dapat mengenali pemicu yang mengalihkan perhatian dan secara sadar mengembalikannya pada aktivitas yang sedang dilakukan. Latihan berulang menjadi fondasi untuk membangun kembali kemampuan berkonsentrasi.

Sejumlah penelitian mendukung kekhawatiran tersebut. Penelitian dalam Journal of Innovation Research and Knowledge (2025) mengungkap dampak negatif konsumsi video pendek pada anak usia 7–12 tahun terhadap perhatian, tugas sekolah, dan memori kerja. Penelitian dalam International Journal of Interdisciplinary Approaches in Psychology (2025) juga menemukan hubungan konsumsi video pendek dengan penurunan kemampuan atensi. Dalam penelitian tersebut, stres berperan sebagai mediator parsial sebesar 14,7 persen, sejalan dengan Teori Beban Kognitif dan Teori Aktivasi Hebb.

Selaras dengan temuan tersebut, Zhang dkk. (2026) menunjukkan bahwa adiksi terhadap konten jenis ini pada mahasiswa berkorelasi dengan penurunan kemampuan kontrol diri dan munculnya gangguan emosional.

Menurut American Psychological Association, mindfulness memiliki sejumlah manfaat, antara lain membantu menurunkan stres, meningkatkan kapasitas memori, memperkuat atensi, mengurangi reaktivitas emosional, meningkatkan fleksibilitas kognitif, serta mendukung kualitas hubungan interpersonal dan kebugaran fisik.

Mindfulness sebagai Jalan Keluar

Dalam perspektif Estetika Humanisme, brain rot menyentuh salah satu fondasi utama human literacy, yakni kapasitas manusia untuk tetap menjadi subjek yang reflektif dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, bukan sekadar objek yang digerakkan oleh sistem algoritma.

Karena itu, mindfulness tidak cukup dipandang sebagai teknik relaksasi. Ia dapat menjadi disiplin untuk membangun kembali hubungan manusia dengan perhatian, tubuh, pikiran, dan lingkungan sekitarnya.

Berbeda dari digital detox yang cenderung menekankan pengurangan atau penghentian sementara penggunaan perangkat digital, mindfulness berusaha mengubah relasi internal seseorang terhadap stimulasi digital. Ada sedikitnya lima cara yang dapat dilakukan.

Pertama, melatih perhatian. Seperti otot, kemampuan fokus dapat dilatih. Duduk tenang selama beberapa menit sambil memperhatikan ritme pernapasan dapat membantu seseorang membiasakan diri mempertahankan perhatian pada satu hal.

Kedua, menciptakan ruang jeda. Jeda dari stimulasi eksternal memberi kesempatan bagi otak untuk memproses informasi. Kebiasaan tersebut penting di tengah aktivitas scrolling yang terus-menerus.

Ketiga, meningkatkan kesadaran terhadap kebiasaan. Dengan mengenali pola penggunaan gawai, seseorang dapat menyadari dorongan otomatis untuk membuka media sosial dan mengubah respons impulsif menjadi keputusan yang lebih sadar.

Keempat, mengembalikan kenikmatan pada aktivitas sederhana. Makan, berjalan, membaca, atau berbincang dapat kembali menjadi pengalaman yang bermakna ketika perhatian benar-benar hadir di dalamnya.

Kelima, membatasi konsumsi konten repetitif. Konsumsi pasif dapat secara bertahap digantikan dengan aktivitas yang menuntut keterlibatan aktif, seperti membaca, berdiskusi, menulis, atau berkarya.

Krisis perhatian tidak harus dijawab dengan penolakan terhadap teknologi. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan untuk menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas perhatian sendiri.

Brain rot dapat dibaca sebagai wajah kontemporer dari krisis perhatian, ketika manusia berhadapan dengan sistem digital yang dirancang untuk mempertahankan keterlibatan selama mungkin. Mindfulness menawarkan salah satu jalan untuk menghadapi kondisi tersebut, bukan dengan mengasingkan diri dari teknologi, melainkan dengan melatih kesadaran secara konsisten.

Melawan brain rot pada akhirnya bukan sekadar mengurangi waktu menatap layar. Upaya tersebut merupakan proses mengembalikan manusia pada kemampuannya untuk hadir penuh, berpikir mendalam, mengelola perhatian, dan memberi makna pada kehidupannya sendiri.


Referensi

  • Ali, W. (2025). Dampak konsumsi short-form video pada rentang perhatian anak usia 9–12 tahun. Journal of Innovation Research and Knowledge, 5(6), 7169–7178. https://doi.org/10.53625/jirk.v5i6.11707
  • Pranathi, J. S. R., & Jacob, A. M. (2025). Impact of short-form videos on attention span mediated by sleep quality and stress. International Journal of Interdisciplinary Approaches in Psychology (IJIAP), 3(4), 11–31.
  • Mona, A. E., Roshith, V., Peter, R., Roy, P., Hassan, A., Devika, M., & Trishala, M. (2026). Short video addiction and its impact on cognitive functioning in adolescents and youth: a systematic review. International Journal of Adolescence and Youth, 31(1), e2623337. https://doi.org/10.1080/02673843.2026.2623337

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *